28 Januari 2022

,

Semesta Nuh Kun Nun: Membaca Peta dengan Zoom In dan Zoom Out, Mengukur Jarak Darat dan Lautan

Rozekki*

 

Peta Digital dan Koordinat Parental

Membaca puisi merupakan upaya menangkap gambar. Puisi bisa menjadi bacaan yang menarik apabila pembaca berhasil menyusun rangkaian gambar yang ditampilkan penyair (Damono, 2014: 45). Rangkaian gambar itu, tentu saja, bukan gambar potret hasil tangkapan kamera. Gambar-gambar yang ditangkap pembaca merupakan gambar angan yang tersusun dari kata, frasa, atau kalimat. Dalam dunia sastra gambaran itu lazim disebut dengan citraan atau imagery.

 

Gambar angan atau citraan tidak seperti gambar tangkapan kamera yang hanya menampilkan citra visual dan audial. Gambar angan ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indra penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman (Pradopo, 2017: 82). Kata, frasa, atau kalimat yang berasosiasi dengan penglihatan akan menghasilkan citraan penglihatan; demikian juga kata, frasa, atau kalimat yang berasosiasi dengan pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman akan menghasilkan citraan pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman.

 

Konsepsi tangkapan gambar ini berlaku umum untuk semua bentuk dan jenis puisi, tidak terkecuali Nuh Kun Nun karya Muhlis Al-Firmany (2021). Ada hal menarik—mungkin lebih tepat dikatakan unik—tentang tangkapan gambar yang diperoleh dari hasil pembacaan lima puluh puisi dalam buku ini. Meskipun tangkapan gambar setiap individu memiliki detail yang berbeda, yang disebabkan oleh sifat dasar seni, seperti yang dikatakan Gie (2004: 43), seni dilakukan oleh individu dan hasilnya juga merupakan individualitas tertentu yang khas. Namun, gambaran umum yang objektif cenderung sama. Paling tidak, hasil pembacaan ini bisa menjadi tawaran model pembacaan terhadap Nuh Kun Nun. Sebuah cara membaca menggunakan model pembacaan peta digital menggunakan fitur zoom in dan zoom out.

 


Membaca puisi “Babak Nusantara” di halaman pertama buku ini, seperti melihat peta digital dengan gambar tangkapan satelit, peta dengan tulisan Indonesia. Jika di-zoom in akan terlihat nama-nama kota. Ada “Sundaland” di halaman dua. Lebih dekat lagi, terlihat pulau Madura dalam “Petani Garam” di halaman dua belas. Pada halaman lima belas, peta kembali di-zoom out, menampilkan citra “Mozaik Khatulistiwa”. Lebih jauh, zoom out membentang samudera, dan bahtera “Nuh” mengapung di halaman tujuh belas. Pada pungkas zoom out, Indonesia hanya noktah dalam luas semesta “Kun”.

 

Setelah “Kun”, zoom in kembali meluncur, menunggangi “Nun” di halaman sembilan belas. Dari titik ini zoom in dan zoom out diseret bergantian dalam gerakan kecil, bergeser sedikit demi sedikit ke titik terdekat. Ada “Kampung Kona” di halaman empat puluh empat. Setelah itu berurutan “Roma Pamolean”, “Taneyan Lanjhang”, dan “Somor Tanto” di halaman empat puluh enam, empat puluh delapan, dan lima puluh. Akhir dari zoom in koordinat parental di halaman tujuh puluh lima dan tujuh puluh tujuh, “Rama(h)” dan “Bu’ Randha”. Ayah dan ibu yang dirindu.

           

Jarak Darat dan Lautan

Kembali ke puisi pertama, “Babak Nusantara”, kembali ke peta Indonesia, citra visual yang memperlihatkan dominasi laut di sekelilingnya. Demikian juga tiga puisi berikutnya, “Sundaland”, “Rempah-Rempah 1” dan “Rempah-Rempah 2” seakan menegaskan bahwa moyang bangsa Indonesia, moyang orang Madura adalah pelaut-pelaut tangguh. Namun, begitu peta di­-zoom in, lautan itu menjadi tidak terlihat. Selanjutnya, yang berdaulat hanya peradaban darat.

 

Jarak dengan lautan itu, secara implisit, juga terlihat pada penggunaan diksi. Puisi-puisi yang membicarakan lautan cenderung menggunakan kata-kata umum. Bandingkan dengan puisi-puisi yang membicarakan daratan, kata-kata yang Muhlis pilih memiliki kesan yang lebih khas dan intim. “Preghi”, “Kolla”, “Andeng”, dan beberapa puisi lain memperlihatkan keintiman, ketidakberjarakan itu.

 

Menurut Rendra (Maulana, 2012: 68), puisi adalah penghayatan dari pengalaman. Ia tidak bisa ditulis berdasarkan khayalan semata. Namun bukan berarti puisi-puisi yang ditulis berdasarkan sumber bacaan dan tuturan tidak memiliki nilai guna dan daya estetik. Sumber bacaan dan tuturan bukanlah khayalan, meskipun bukan juga pengalaman yang primer. Puisi-puisi semacam itu lebih menekankan pada fungsi komunikatif. Ia menjadi semacam jembatan penghubung—meskipun rawan dan rapuh. Atau, paling tidak, menggunakan istilah Acep Zamzam Noor (2011: 191), menjadi puisi yang mengingatkan.

 

Daftar Pustaka

Al-Firmany, Muhlis. 2021. Nuh Kun Nun: Puisi Sehimpun. Yogyakarta: Istana Media.

Damono, Sapardi Djoko. 2014. Bilang Begini, Maksudnya Begitu: Buku Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gie, The Liang. 2004. Filsafat Seni: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna (PUBIB).

Maulana, Soni Farid. 2012. Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi. Bandung: Nuansa Cendekia.

Noor, Acep Zamzam. 2011. Puisi dan Bulu Kuduk. Bandung: Nuansa Cendekia.

Pradopo, Rachmad Djoko. 2017. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 

 

 

*Pembina Komunitas Masyarakat Lumpur dan tenaga pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi STKIP PGRI Bangkalan.

Continue reading Semesta Nuh Kun Nun: Membaca Peta dengan Zoom In dan Zoom Out, Mengukur Jarak Darat dan Lautan

21 Januari 2022

PERKENALAN

 Assalamualaikum,


Salam kenal untuk Anda sekalian. Dengan blog ini kami berusaha untuk memberikan kontribusi untuk kemanusiaan. Gerakan kami dalam bidang literasi. 

Untuk saat ini berikut yang kami rintis sebagai kontribusi.

1. Majalah Budaya

2. Penerbitan Buku

3. Konsultasi Karya Ilmiah dan Sastra

Continue reading PERKENALAN