24 Februari 2023

MENIKMATI LUKISAN MESKI TAK MENGERTI

Muhri

Cerita yang ingin saya sampaikan ini bermula dari acara FGD A remoh di Restoran Dapur Sambal ringroad selatan kota Bangkalan. Pak Chairul (Chairul Anwar, pelukis) menyapaku dengan, “Senin datang ya ke Pendopo Pratanu? Pameran.” Sebelumnya beliau bertanya, “Sudah diberi tahu Helmi?”.

Saya menjawab dengan insyaallah seperti biasanya basa-basi. Sebuah undangan penting. Bagi saya suatu kebanggaan menerima undangan dari senior. Pengakuan bahwa saya dianggap ada. Pengakuan terhadap eksistensi. Kebahagiaan juga. Bahagia sebab kegiatan kesenian di Bangkalan masih ada. Meski tidak terlalu banyak jumlahnya.

Sebenarnya, saya sudah tahu acara ini. Ada di Facebook resmi Komunitas Masyarakat Lumpur. Tema acara dalam bahasa Inggris “From The Stage History of Madura 2023”. Mungkin terjemahannya “Dari Panggung Sejarah Madura 2023”. Nama acara dalam bahasa Inggris Chairul Anwar Solo Exhibition. Mungkin artinya Pameran Tunggal Chairul Anwar. Acara ini dilaksanakan pertama kali di Bangkalan Senin, 16 Januari 2023. Rencananya akan dilaksanakan di enam kecamatan. Bangkalan merupakan pembukaan. Selanjutnya Arosbaya. Empat lokasi lainnya adalah Socah, Kamal, Kwanyar, dan Klampis.



Malam Minggu, 2 hari sebelum acara sebuah pesan WA berisi undangan dikirim oleh Helmy (M Helmy Prasetya, sastrawan). Resmi dengan kepala surat Komunitas Masyarakat Lumpur. Tertera bahwa acara pembukaan pameran pukul 10. Saya tentu datang terlambat. Tempat mewakili alasan keterlambatan.

Ternyata benar. Acara baru dimulai menjelang pukul 12. Menunggu Plt Bupati Bangkalan untuk membuka acara. Saya tidak akan bercerita tentang ini. Pasti membosankan. Singkat cerita, acara pembukaan berlangsung lancar. Acara inti gunting pita. Simbolis, pembukaan pameran oleh Plt Bupati Bangkalan. Saya tetap tidak beranjak dari kursi acara. Menunggu acara formal(itas) dengan pejabat selesai.

Setelah sebagian besar pejabat meninggalkan tempat, dengan santai, saya menuju area pameran. Lihat satu per satu lukisan yang terpajang. Tak satu pun saya mengerti. Tidak ada bentuk real yang terlihat. Mungkin ini lukisan abstrak. Bagiku absurd. Sebab tidak bisa kumengerti. Namun, aneh. Warna-warna itu tetap menarik untuk dilihat. Mungkin kepalaku lebih sering men-decode lambang-lambang konkret. Mungkin pula hanya tidak terbiasa dengan lambang-lambang abstrak. Mungkin juga lukisan jenis ini memang tidak untuk dimengerti.

Secara otomatis ada gerakan bawah sadar. Mungkin ranah rasa bicara. Mungkin pula alasan lain. Yang jelas gambar-gambar itu menarik untuk dilihat. Ada nuansa rasa ketika melihat perpaduan warna, bentuk-bentuk absurd. Kemudian aku terbawa pada ruang-ruang imajinasi. Imajinasiku sendiri. Judul lukisan jadi tidak relevan bagiku. Mungkin hal ini sama dengan yang dirasakan kakekku saat membaca tulisan Arab Alquran setiap malam. Mulai lepas Isya sampai pukul sembilan tiap hari sampai menghadap Tuhan. Meski sama sekali ia tak mengerti apa yang dibaca, sepertinya beliau menikmatinya. Sayangnya, saya tidak memiliki cara yang sama dengan kakek. Ada banyak yang saya suka sehingga beberapa saya harus mengabaikannya.

Sebelum pulang, saya duduk-duduk dengan beberapa teman junior (alumni) Komunitas Masyarakat Lumpur. Ngobrol banyak hal yang ringan-ringan saja. Hanya sekedar menjaga keakraban. Isi sepertinya tidak penting. Khoiri, Joko, Hayyul, Nike dan beberapa orang yang lain. Joko masih dengan idealismenya. Idealisme yang mulai bertarung berebut kuasa diri melawan realitas. Dia menceritakan banyak hal yang terlewat selama kami tidak bertemu. Tentang rumah, keluarga, karya, dan hal-hal lain. Saya tidak ingat semua. Saya hanya mendengar dan sesekali berkomentar.


video acara (dari saluran resmi Komunitas Masyarakat Lumpur)







Continue reading MENIKMATI LUKISAN MESKI TAK MENGERTI

22 Februari 2023

, , ,

PERCAKAPAN SANGAT BIASA YANG LUAR BIASA (ANALISIS PADA CERPEN BERJUDUL MAS, JEMPUT AKU JAM SEMBILAN NANTI MALAM, KARYA MUHRI)

 Buyung Pambudi*

 

Awal konflik...

Sekolahku sama dengan laki-laki.  Terpikir dalam pikirannya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, soal gender, soal emansipasi. Soal cinta saja dulu yang membuatnya mengalah. Soal kompromi dengan suami. Kini, ketika realitas tidak bisa dibuai dengan cinta?  Ketika  ia kembali memijak bumi. Realistis kata yang tepat mewakili.

Mulai naik...

Sayangnya, kesibukan masing-masing membuat mereka tidak sadar bahwa mereka mulai terpisah.  Ada sekat menebal yang tak sempat dilihat.  Ada jarak yang semakin memanjang dan mereka berada di kedua ujungnya.

Puncak...

“Sayang, rasanya ada yang kurang dalam hidup kita yang berkecukupan ini. Kita belum sempat menyempurnakan pernikahan kita,” (suami).

“Maksud Mas anak?” kening Melani berkerut. Tanda tanya tentang arah mana pembicaraan ini tertuju. “Ya.  Kesibukan membuatmu melupakan peranmu sebagai istri.” Kata Hartoyo, lelah. “Jadi Mas menyalahkanku? Bagaimana dengan kesibukan Mas sendiri? Apa mas pernah memikirkan apa yang menjadi keinginanku?” Nada bicara Melani meninggi.

Perbedaan pendapat sudah terjadi. Mereka telah memenangkan ego dalam diri mereka sendiri dengan  mengusir pengertian yang menyatukan perbedaan. Puncaknya mereka tidak menemukan kata yang menenangkan.

Menurun...

Esok harinya Melani terbangun sendirian. Saat hendak mandi dilihatnya suaminya telah rapi

berpakaian. Wajahnya ceria seperti tak ada bekas pertengkaran tadi malam. Rupanya ia telah mengibarkan perdamaian dengan senyumnya yang indah.

Solusi...

Sampai di kantor istrinya, Hartoyo segera urun dan membukakan pintu belakang untuk istrinya. Melani keluar dengan mata berbinar. Ia meraih dasi suaminya dan merapikan. Sebuah kecupan melayang.  “Mas, jemput aku jam sembilan nanti malam.” Suaminya mengangguk. Melani pun masuk dengan langkah seorang pemimpin perusahaan.

  


Komunikasi yang buruk sebagai akar masalah hubungan RT**?

Komunikasi yang buruk secara luas dipandang sebagai masalah utama dalam hubungan (Stafford, 2009, p. 295). Jika kita meyakini bahwa komunikasi yang buruk menyebabkan masalah dalam hubungan, maka komunikasi yang buruk juga memunculkan hubungan yang buruk. Solusi yang ditawarkan oleh psikolog pada umumnya adalah dengan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan mempelajari keterampilan komunikasi yang lebih baik. Benarkah komunikasi yang baik adalah ‘dewa obat’ untuk segala ‘penyakit’ dalam hubungan RT?

Padahal, bisa saja konflik mendasar dalam nilai atau keyakinan adalah penyebab utama suatu hubungan. Misalnya soal nilai dan keyakinan terhadap peran perempuan dan laki-laki dalam pernikahan, prioritas dalam berbelanja, atau sudut pandang lain yang mendarah daging ditanamkan sejak kecil. Maka, masalah utama dalam hal ini bukan komunikasi. Menyikapi konflik dalam rumah tangga, ada dua hal yang bisa dijadikan sebagai cara pandang.

Pertama, yang harus dilakukan adalah mencari akar persoalan konflik RT. Jika persoalan utamanya adalah komunikasi, maka jalan keluarnya adalah meningkatkan keterampilan komunikasi. misalnya, jika si istri merasa perkataannya tidak diperhatikan oleh suami saat berbicara karena terlalu fokus ke ponsel, padahal sebenarnya si suami memperhatikannya. Maka, solusinya adalah suami harus meningkatkan keterampilan berkomunikasi misalnya dengan memandang mata si istri saat ia sedang berbicara kepadanya.

Kedua, tidak ada cara komunikasi tunggal yang baik dan berlaku umum untuk mengatasi semua jenis masalah dalam RT. Setiap persoalan komunikasi RT membutuhkan cara komunikasi yang berbeda dan khas. Satu cara komunikasi bisa efektif untuk menyelesaikan satu persoalan RT belum tentu bisa digunakan untuk persoalan RT yang lain.

Komunikasi yang baik mungkin akan membantu memahami persoalan yang menyebabkan konflik RT. Tetapi, memahami masalah dan menyepakati jalan keluar adalah persoalan yang berbeda. Cerita pendek berjudul Mas, Jemput Aku Jam Sembilan Nanti Malam karya Muhri ini menyuguhkan solusi konflik yang cukup brilian. Solusi sederhana tetapi langsung menyentuh pada persoalan utama penyebab konflik RT. Yakni adanya tindakan merobohkan ‘dinding tebal’ ego pribadi yang menghalangi keintiman pasangan suami istri.

John Gottman membagi dua pola komunikasi dalam hubungan RT, yakni pola komunikasi positif dan negatif. Apa yang terjadi antara Hartoyo dan Melani pada saat konflik rumah tangganya memuncak merupakan bagian dari pola komunikasi negatif. Pola komunikasi negatif meliputi; kritisisme, penghinaan, pembelaan diri (defensiveness), dan tembok batu. Kritisisme di sini bukanlah kritisisme dalam teori sosial, tetapi lebih sebagai upaya pencarian secara terus menerus kelemahan atau kekurangan pasangan.

Kritisisme seringkali akan bertemu dengan pembelaan diri (lihat dialog Puncak...). Menyampaikan kekurangan pasangan akan memicu pembelaan diri biasanya berupa ‘serangan balik’. Kritisisme, penghinaan, dan pembelaan diri pada tahap berikutnya dapat bertumpuk memunculkan dinding pemisah yang menghalangi sebuah hubungan.

Banyak ahli percaya bahwa mengelola perbedaan dalam sebuah merupakan ciri utama dalam kesuksesan menjalani hubungan (relationship). Berbagai cara untuk mengelola konflik RT akan berjalan sukses jika kedua pasangan sepakat tentang bagaimana suatu konflik harus dikelola.

Jaga harmoni dengan percakapan sehari-hari

Pada dialog Solusi..., jalan keluar yang disajikan oleh penulis cerpen terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Percikan-percikan api konflik yang memuncak menjadi api unggun seolah padam hanya dengan turunnya gerimis rintik-rintik. Padahal, para cendekiawan komunikasi dan pakar relasional membuktikan bahwa percakapan sehari-hari tentang hal-hal yang sangat biasa justru dapat menjaga kelanggengan sebuah hubungan (Steve Duck 1995).

Percakapan sehari-hari yang sangat biasa merupakan hal yang harus diciptakan, dijaga dan terus diupayakan untuk tetap terjadi. Menjaga dan memperbaiki hubungan melalui percakapan sehari-hari merupakan sesuatu yang sangat penting. “Mas, jemput aku jam sembilan nanti malam,” ini adalah kalimat dalam percakapan sehari-hari yang sangat biasa, namun percakapan ini akan terasa sangat luar biasa ketika sebuah hubungan sedang dipisahkan oleh dinding yang tebal dan kokoh.

Sebagaimana komunikasi, hubungan RT bukan sesuatu yang stagnan. Hubungan RT akan terus mengalami perubahan seiring waktu, situasi dan kondisi. Hubungan RT adalah ‘urusan yang belum selesai’, hubungan RT terus berkembang dari masa ke masa.

 

 

*Dosen STKIP PGRI Bangkalan

**Keterangan: RT adalah singkatan dari rumah tangga.

 

Daftar bacaan

Stafford, L. (2009). Spouses and Other Intimate Partnerships. In 21st Century Communication A Reference Handbook (Vol 1 & 2) (W. F. Eadie (ed.)). SAGE Publications Inc.

Gottman, J. M. (1994). Why marriages succeed or fail. New York: Simon & Schuster.

Duck, S. W. (1995). Talking relationships into being. Journal of Social and Personal Relationships, 12, 535–540.


Video terkait



Continue reading PERCAKAPAN SANGAT BIASA YANG LUAR BIASA (ANALISIS PADA CERPEN BERJUDUL MAS, JEMPUT AKU JAM SEMBILAN NANTI MALAM, KARYA MUHRI)

20 Februari 2023

MENGUKUR NYALI: FALSAFAH HIDUP ORANG MADURA

Rozekki[1]

 

Kearifan tidak perlu dinyatakan sebagai kearifan. Ada banyak cara bisa dilakukan agar kearifan tidak nampak kaku dan terkesan arogan. Para leluhur kita begitu pandai melakukan hal itu. Mereka mampu mengemas kearifan dalam berbagai bungkus. Nilai-nilai kehidupan atau kearifan lokal bahkan bisa muncul dalam bungkus olok-olok dan kisah lucu.

Orang madura itu lucu, lugu, jujur, terbuka, lugas, terus terang, apa adanya. Demikian sebagian pernyataan yang disampaikan Emha Ainun Nadjib, budayawan kondang asal Jombang, melalui tulisan yang terkumpul dalam buku bertajuk Folklore Madura. Ada banyak anekdot yang menggambarkan kelucuan, keluguan, kejujuran, keterbukaan, kelugasan, dan keterusterangan orang Madura.

Dikisahkan ada pengendara sepeda motor yang marah pada polisi gara-gara mempermasalahkan SIM pinjaman yang ia bawa, “Bapak ini gimana, wong orang yang dipinjami SIM dak masalah, kok malah Bapak yang masalah!”. Ada juga kisah seorang tukang becak yang digoblok-gobloki polisi gara-gara menerobos lampu merah yang, dengan enteng mengatakan “Kalau pinter, saya jadi polisi Pak, dak jadi tukang becak!”.

Sepintas kisah di atas nampak memperolok. Namun, kalau mau dipahami dari sisi yang berbeda, justru kecerdasan alamiah si pengendara sepeda motor dan si tukang becaklah yang harus dikedepankan. Tidak mudah memunculkan jawaban spontan dan mengena semacam itu, butuh kepekaan dan perangkat logika luar biasa untuk menghadirkannya. Selain itu, harus disadari, anekdot muncul tidak murni sebagai kisah. Seperti sebuah dongeng, kisah dalam anekdot lebih berfungsi sebagai alat penyampai pesan yang harus dilihat dari berbagai sudut pandang.

Sebagai bahan renungan simaklah kisah berikut ini.

Konon, seorang prajurit Madura dipanggil dan diperintahkan oleh komandannya untuk mengukur tinggi tiang bendera yang tergeletak di lapangan untuk memastikan panjang tali yang harus dibeli. Sang prajurit Madura memberi hormat dan membalikkan badan dengan sigap. Tanpa banyak tanya ia langsung menerjemahkan perintah komandannya. Dengan sepenuh tenaga ia mengangkat dan memancangkan tiang itu, kemudian dengan tangkas memanjat dan mulai mengukur dari pangkal ke puncaknya. Setelah selesai mengukur, ia kembali mengangkat dan merebahkan tiang itu. Dari jendela ruangan sang komandan terheran-heran dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Prajurit Madura segera menghadap dan melaporkan hasil ukurannya pada komandan.

“Lapor, Dan! Perintah telah dilaksanakan. Tinggi tiang lima meter tiga jengkal.”

 Komandan menatapnya dengan wajah bingung bercampur penasaran.

“Kamu ini keblinger, sinting, atau kelewat bodoh, sih. Untuk apa masih repot-repot menegakkan, memanjat, kemudian merebahkan tiang itu kembali. Bukankah tiang itu bisa kamu ukur ketika terlentang di tanah. Lebih mudah dan lebih cepat!”

Prajurit Madura agak tersinggung mendengar kata-kata komandannya.

“Komandan ini gimana, sih! Kalau diukur waktu terlentang di tanah ya panjangnya, bukan tingginya, Dan!”

“Tapi hasilnya sama saja toh!”

“Ya, dak bisa, Dan! Tinggi, ya di atas!” prajurit Madura bersikukuh.

“Apa katamu sajalah!” tukas sang komandan jengkel. “Berdebat dengan prajurit macam kamu tidak akan ada selesainya. Kamu beli saja talinya. Hari ini juga tiang bendera itu harus sudah siap digunakan. Terserah mau kamu pasang dengan cara apa!”

Prajurit Madura memberi hormat lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melenggang dengan mantap meninggalkan ruangan komandannya. Namun, sebelum langkah kakinya melewati pintu tiba-tiba ia membalikkan badan dan mengarahkan pandangan pada sang komandan. Sambil sedikit tersenyum dan menggaruk kepala ia berujar, “Maaf, Dan, satu meternya dua ribu limaratus!”   

Sang komandan mendongak, menghela nafas, tertunduk, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Demikianlah kisah itu berakhir.

Jika dilihat dari rangkaian peristiwanya semata, kisah itu tidak jauh berberda dengan kisah pengendara sepeda motor dan tukang becak di atas, yang nampak hanyalah kebodohan dan kedunguan. Padahal, kalau diperhatikan dengan cermat, tindakan yang dilakukan prajurit Madura sebenarnya bukan perkara remeh. Ia memahami hakikat dan menawarkan falsafah kehidupan dalam bentuk tindakan.

“Tinggi itu di atas”. Semua orang tentu saja tahu. Namun, kebanyakan pengetahuan itu hanya sebatas konsep, tidak maujud dalam keseharian. Hal itu disadari oleh prajurit Madura. oleh sebab itulah, ia memaujudkannya dalam bentuk tindakan. Memanjat tiang bendera mungkin tindakan “gila” tapi sama sekali bukan kebodohan. Ada dua hal menakjubkan yang hendak ia tunjukkun.

Pertama, memanjat tiang berarti memperjelas adanya posisi atas dan bawah, hakikat adanya ketinggian. Hanya dengan mencapai puncak tianglah ketinggian dapat benar-benar dirasakan. Memanjat berarti mengarahkan pandangan ke atas, dan mencapai puncak tiang berarti sampai pada batas tujuan. Tak ada lagi yang harus dituju selain menengok kembali kebawah, ke tampat asal pemberangkatan, tempat segala sesuatu bermula. Itulah hakikat tinggi yang seharusnya dilihat dari tindakan prajurit Madura. Untuk menjadi tinggi seseorang harus mencapai puncak, untuk mencapai puncak ia harus memanjat, dan dapat dikatakan mencapai puncak jika ia tak dapat lagi mendongak. Jadi, tinggi adalah menundukkan kepala, bukan sebaliknya.

Yang kedua, mengukur tinggi bukan berarti berapa digit angka yang dapat dihitung. Mengukur tinggi juga bukan berarti berapa menit jarak tempuh. Mengukur tinggi adalah mengukur nyali.

                                                                                     



[1]Rozekki, lahir di Bangkalan 22 Desember 1983. Aktif berkesenian barsama Komunitas Masyarakat Lumpur. Menulis puisi, prosa dan drama. Puisi-puisinya terkumpul dalam sejumlah antologi bersama dan sebuah antologi tunggal, Sangkolan (Basabasi, 2018). Selain aktif dalam kesenian, aktif juga dalam dunia pendidikan: mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Bangkalan. Alamat yang bisa dikunjungi: Jl. K. Lemah Duwur VI/27B Pejagan Bangkalan 69112, roz.ekki.sastra@gmail.com, atau bisa dihubungi via WA 087768196055

 

Continue reading MENGUKUR NYALI: FALSAFAH HIDUP ORANG MADURA

17 Februari 2023

AKU TETAP MADURA TANPA SANDUR

 "Waktu kecil, aku paling benci sandur." kataku pada Roz. Sambil tersenyum, tentu saja. "Ènger". Lanjut saya.

Sambil tersenyum, roz mengatakan, “Sama”.

Dialog ini terselip dalam acara Focus Group Discussion dengan tajuk “A rèmoh”. Mungkin maksudnya arèmo yang artinya mengadakan perhelatan kaitannya dengan kegiatan-kegiatan budaya seperti to’-oto’ yang sering kali sebagai selamatan untuk khitan, pernikahan, atau tanpa sebab yang ditulis “menyelamati badan sendiri”.



Acara ini diinisiasi oleh Ahmad Faishal (Acong) sebagai proyek dengan pendanaan dari kementrian. Acong merupakan dosen dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Acara diadakan pada 12 Januari 2023 di restoran Dapur Sambal di jalan Halim Perdana Kusuma (ring road selatan) kota Bangkalan. Hadir pada acara tersebut seniman dan pemerhati seni dari berbagai bidang seni yang berbeda. Pak Ribut Rahmat Jaya (guru dan sastrawan), Pak Charul Anwar (pelukis), Pak Hidrochin Sabarudin (budayawan), dan Pak Syahrul Hanafi (guru dan pelukis) adalah sebagian nama dari seniman senior yang hadir pada acara tersebut. Pembicara kunci dalam acara FGD ini adalah Sudarsono pendiri Sanggar Tarara. Kami menyebutnya Mas So. Mas So dikenal sebagai seniman tari terkemuka di Bangkalan.

Sebenaranya saya tetap tidak tertarik dengan kesenian ini meskipun Mas So berhasil memberi paparan yang memukau. Dengan gamblang disampaikan bagian-bagian dari “orkes” tradisional ini. Meski pun demikian, saya tetap merasa kesenian ini harus dilestarikan sebab merupakan bagian dari kearifan leluhur masyarakat Madura selain sebagai identitas ke-Madura-an.

Dalam obrolan selesai acara, pada ramah tamah, saya duduk kebetulan bersama Salman. Entah bagaimana awalnya, saya menyatakan bahwa saya tidak suka Sandur. “Bising” kataku.

Sambil tersenyum, Salman berkata, “Perlu dipertanyakan ke-Madura-annya.”

Sambil berkelakar aku berkata, “aku memang bukan orang Madura. ...” Salman dan beberapa yang lain tersenyum menunggu.

“Di KTP tidak tertulis Madura.” Tentu saja Madura nama suku dan pulau. yang tertulis malah Jawa Timur sebagai provinsi.

Roz yang juga duduk disitu segera menyahut. Serius tapi tetap santai.

“Kami memang tidak suka Sandur. Sebab berasal dari keluarga santri dan hidup dalam lingkungan santri. Sedangkan sandur adalah perangkat dari golongan blater.” Sekilas seperti membela diri.

Itu juga pandangan saya. Seingat saya, orang tua kami tidak pernah menyimpan celurit di rumah kami. Demikian kami. Kami bahkan hampir tidak pernah pegang gagang celurit atau pun todi' sèkep*. Kami lebih akrab dengan Alquran dan kitab kuning sejak kecil.

*todi' sèkep adalah pisau yang dibuat secara khusus sebagai senjata. sering juga disebut todi' pangabisân (pisau penghabisan).

video-video FGD A remoh

video ditautkan dari channel resmi Komunitas Masyarakat Lumpur




Continue reading AKU TETAP MADURA TANPA SANDUR