Bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah cermin
peradaban. Di balik setiap kata, terdapat lapisan sejarah, nilai, dan cara
pandang masyarakat penuturnya. Dalam bahasa Madura, pembahasan tentang hewan
sering kali melampaui ranah biologis dan menjelma menjadi metafora kehidupan
yang kaya. Jika anjing—dengan segala konotasi negatifnya sebagai makhluk najis
(bhurus), makian kasar (patè’), atau penggambaran sifat kecil dan
mengganggu (rè'-kerè')—menjelma menjadi cermin moral untuk menggambarkan
pengkhianatan, ketamakan, dan kepengecutan, maka lain halnya dengan ajâm (ayam).
Ayam hadir dengan wajah yang jauh lebih kompleks dan multidimensional. Ia bukan
sekadar unggas peliharaan yang menyediakan telur dan daging, atau hewan yang
mengisi riuh pagi hari di pedesaan Madura; ia adalah sebuah kanvas budaya
tempat orang Madura melukiskan filosofi hidup, etika sosial, kritik kekuasaan,
hingga representasi takdir dan sifat dasar manusia.
1. Kekayaan Kosakata: Lebih dari Sekadar Unggas
Berbeda dengan kata untuk anjing yang relatif miskin
variasi teknis-morfologis, kosakata untuk ayam dalam bahasa Madura
memperlihatkan kekayaan pengamatan masyarakat terhadap alam sekitarnya. Kata
dasar ajâm memang netral, namun dari akar kata ini lahir
variasi penamaan fisik yang luar biasa detail:
·
Ajâm bâlik / Ajâm surung: Merujuk pada ayam yang memiliki lengkung bulu terbalik
(ayam walik).
·
Ajâm camara: Sebutan untuk ayam dengan bulu yang hanya terdiri atas batang tanpa
lembaran, sehingga tampak seperti daun cemara, bulu landak, atau bulu lidi.
·
Jâm-ajâmann: Nama untuk burung ayam-ayaman (Gallicrex cinerea), menunjukkan
kemampuan bahasa untuk mengklasifikasi dunia alam.
Yang lebih menarik lagi adalah hadirnya verba jâm-ngajâmè yang
berarti 'memprovokasi' atau 'memanas-manasi'. Ini menunjukkan bahwa perilaku
ayam—yang kerap terlihat adu jantan dan saling menguji keberanian—telah
diadopsi secara langsung ke dalam tata bahasa sosial Madura. Ayam tidak hanya
diamati, tetapi cara bertingkahnya menjadi pola untuk menggambarkan interaksi
antarmanusia, terutama dalam situasi konflik dan persaingan.
2. Peribahasa Ayam: Dari Etika Kerja hingga Sindiran Sosial
Jika peribahasa tentang anjing banyak memotret sisi gelap
moral seperti pengkhianatan dan kepengecutan, maka peribahasa tentang ajâm menjadi
medium untuk menyampaikan beragam pesan: dari etos kerja, kritik sosial, hingga
pengingat akan kodrat manusia.
Etos Kerja dan Perjuangan
Salah satu peribahasa yang paling fundamental adalah Ajâm
mon ngakana ghi’ ngarkar kaaḍâ’, yang berarti "ayam ketika hendak
makan mencakar tanah dahulu." Peribahasa ini, yang senada dengan
"tiada mengais tiada makan," adalah nasihat moral yang mengakar
tentang prinsip bahwa setiap pencapaian—sekecil apa pun—harus diraih dengan
kerja keras dan perjuangan. Ini adalah etos dasar masyarakat Madura: rezeki
tidak datang secara cuma-cuma.
Keberanian Rakyat Kecil dan Keadilan
Peribahasa Ajâm katè ta' kala kalèṭṭègghâ ("ayam
katai tidak kalah gemerusuknya") mengandung pesan yang sangat
revolusioner. Ia menyatakan bahwa untuk membela kebenaran, orang kecil atau
rakyat biasa akan memberikan perlawanan yang sama gigihnya dengan orang besar.
Ini adalah kritik sosial yang halus namun tajam, sebuah pengingat bahwa
martabat dan keberanian tidak diukur dari status, kekayaan, atau kekuasaan,
melainkan dari kebenaran hati dan keyakinan.
Sindiran kepada Penguasa dan Keserakahan
·
Ajâm atellor è bherrâs ("ayam bertelur di beras") adalah sindiran
pedas bagi pejabat atau mereka yang suka menerima suap. Metafora ini gamblang:
seperti ayam yang mengotori beras bersih dengan telurnya, para pejabat korup
mengotori kepercayaan publik dengan keserakahan mereka.
·
Ajâm mate è padhâringan ("ayam mati di tempat menyimpan beras")
menggambarkan ironi pahit dari sifat serakah. Mati di tengah kelimpahan makanan
adalah perumpamaan bagi orang yang tak pernah puas, yang merasa selalu
kekurangan meski telah dikelilingi harta. Ini adalah peringatan bahwa
keserakahan adalah jalan menuju kehancuran diri sendiri.
Anomali, Keputusasaan, dan Kodrat Manusia
·
Ajâm tokkong mènta bunto’ / monteng ("ayam buntung/kutung minta ekor/tulang
ekor") menggambarkan situasi putus asa atau orang yang menginginkan hal
yang mustahil.
·
Mon ajâm ghi' endâ’ ka jhâghung ("jika ayam, tentu masih suka pada
jagung") adalah pengakuan realistis tentang sifat alami manusia. Ini
menyiratkan bahwa meskipun telah berilmu atau berstatus tinggi, manusia pada
dasarnya rentan terhadap godaan duniawi seperti harta, kedudukan, dan wanita.
Ini bukan untuk membenarkan kelemahan, melainkan untuk mengingatkan agar selalu
waspada.
·
Ajâm mènta sasengngèt ("ayam meminta rempah-rempah") adalah
perumpamaan bagi orang yang secara sadar mengundang bahaya atau mencelakakan
dirinya sendiri.
3. Ayam, Takdir, dan Dinamika Sosial
Selain pesan moral, ayam juga digunakan untuk memotret
dinamika sosial, gender, dan takdir.
·
Ajâm sapatarangan ta' padâ buluna ("ayam sepeteluran tidak sama bulunya")
adalah pengakuan bijak tentang perbedaan. Bahkan saudara sekandung pun memiliki
watak dan jalan hidup yang berbeda. Ini adalah nasihat untuk menerima perbedaan
sebagai sebuah keniscayaan.
·
Mara ajâm ngèrremmè ("seperti ayam sedang mengerami") adalah
perumpamaan yang mengejutkan untuk menggambarkan perempuan yang sangat kejam,
bengis, atau pemarah. Kemarahan hebat pada perempuan sering dikaitkan dengan
insting protektif ayam betina, namun dilebih-lebihkan hingga menjadi konotasi
negatif.
·
Di sisi lain, wa-towa ajâm ("tuanya
seperti ayam") justru merupakan pujian. Ini menunjukkan bahwa semakin tua
seseorang, semakin cantik atau tampan, seperti ayam jantan yang bulunya semakin
indah seiring bertambahnya usia.
·
Ajâm atellor emmas ("ayam bertelur emas") menggambarkan orang
kaya yang tidak pernah kekurangan.
·
Kabbhina ajam asoko duwa' ("semua ayam berkaki dua") adalah
pernyataan faktual yang digunakan untuk menekankan bahwa sesuatu memang sudah
semestinya dan tak perlu diperdebatkan lagi.
Penutup: Ayam, Cermin Pekarangan Jiwa
Mungkin inilah yang ingin saya sampaikan: bahwa bahasa
tidak pernah netral. Di balik setiap kata ajâm dan idiom yang
menyertainya, terhampar kearifan lokal yang mendalam. Jika anjing sering
diposisikan sebagai "yang lain," sebuah pembanding moral yang negatif
dan dijaga jaraknya, maka ayam berada tepat di dalam pekarangan rumah orang
Madura—dekat, akrab, dan dihayati. Ia bukan sekadar hewan ternak, melainkan
sebuah pusaka budaya yang mengajarkan etos kerja (ngarkar), mengkritik
ketidakadilan, menyindir keserakahan, dan menerima keberagaman.
Dari data kamus ini, kita belajar bahwa bahasa adalah
sistem nilai yang hidup. Melalui hewan-hewan di sekitar mereka, orang Madura
tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga berbicara tentang diri mereka
sendiri—tentang keinginan, ketakutan, dan harapan mereka. Ayam, dengan segala
tingkah lakunya, telah menjadi guru yang diam, yang ajarannya terus bergema
dalam setiap peribahasa yang diwariskan turun-temurun, mengingatkan kita bahwa
untuk memahami sebuah budaya, terkadang kita harus mulai dari mendengarkan
kokok ayam di pekarangannya.


