28 April 2024

TEORI KULTURAL GRAMSCI

 A.       Konsep Gramsci tentang Kebudayaan

Seperti halnya marx, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya sebagai refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri (Faruk, 2005: 62). Gramsci mencontohkan Revolusi Perancis yang tidak akan terjadi jika tidak terjadi revolusi ideologis. Dalam teori Gramsci ini terdapat enam konsep kunci, yaitu kebudayaan, hegemoni, ideologi, kepercayaan populer, kaum intellektual, dan negara.

1.        Kebudayaan
Ketika berusia 24 tahun Gramsci sudah menaruh perhatian yang besar terhadap kebudayaan sebagai satu kekuatan material yang mempunyai dampak praktis dan “berbahaya” bagi masyarakat. Bagi Gramsci konsep
kebudayaan yang lebih tepat, lebih adil, dan lebih demokratis adalah kebudayaan sebagai organisasi, disiplin diri batiniah seseorang yang merupakan suatu pencapaian suatu kesadaran yang lebih tinggi, yang dengan sokongannya, seseorang berhasil dalam memahami nilai hstoris dirinya, fungsinya di dalam kehidupan, hak-hak dan kewajibannya (2005: 66). Proses “pembudayaan” ini tentu saja tidak terjadi secara alamiah tetapi melalui penyebaran ide-ide penyadaran yang mulanya mendapat penentangan karena faktor interes ekonomi. Kemudian terjadi gerakan perlawanan fisik setelah didahului perlawanan ideologis.

2.        Hegemoni
Faruk (2005: 70) mendefinisikan hegemoni sebagai sifat kompleks dari hubungan antara massa rakyat dengan kelompok-kelompok pemimpin masyarakat: suatu hubungan yang tidak hanya politis dalam pengertian yang sempit, tetapi juga persoalan mengenai gagasan-gagasan atau kesadaran.

3.        Ideologi, Kepercayaan Populer, dan Common Sense
Gramsci menyatakan ada tiga cara dalam penyebaran gagasan/ideologi atau filsafat tertentu yaitu melalui bahasa, common sense, dan folklore. Common sense adalah pemahaman yang mempunyai dasar dalam pengalaman populer tetapi tidak merepresentasikan suatu konsepsi yang terpadu mengenai dunia seperti halnya filsafat.

4.        Kaum Intellektual
Kaum intelektual berfungsi sebagai penyebar ideologi. Kata “intelektual” harus dipahami tidak dalam pengertian yang biasa. Kaum intelektual ini merupakan suatu strata sosial yang menyeluruh yang menjalankan suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas – entah dalam lapangan produksi, kebudayaan, ataupun dalam administrasi politik.

5.        Negara

Gramsci membedakan dua wilayah dalam negara, yaitu dunia masyarakat sipil dan masyarakat politik. Yang pertama penting bagi konsep hegemoni karena merupakan wilayah “kesetujuan”, “kehendak bebas”, sedangkan wilayah kedua merupakan dunia kekerasan, pemaksaan, dan intervensi.

0 comments:

Posting Komentar