28 Agustus 2023

,

SANDUR, DANGDUT, DAN SELAWAT: CERITA KEGIATAN DEMONSTRASI KÈJHUNG MADHURÂ

Minggu malam tanggal 27 Agustus 2023 di Taman Paseban depan Masjid Agung Bangkalan diadakan kegiatan seni Demonstrasi Kèjhung Madhurâ. Acara ini diselenggarakan dengan pendanaan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2023. Kegiatan ini diajukan secara pribadi oleh Nisful Qomar, salah seorang pegiat seni alumni Komunitas Masyarakat Lumpur. 

Kèjhung yang dimaksud dalam konteks ini adalah kidung dalam sandur. Hal ini perlu dijelaskan mengingat kèjhung tidak hanya ada pada sandur. Kèjhung secara umum adalah semua bait yang dinyanyikan secara tradisional. Ngèjhung dilakukan oleh siapa saja jaman dulu di rumah-rumah dengan lagu yang tentu berbeda dengan sandur. 

Secara penamaan, kelompok seni yang ada kèjhung-nya ini disebut sandur jika mengarah pada orkesnya. Juga disebut salabâdhân ditinjau dari sisi acara yaitu bhubu[1] dan napel[2]. Penyerahan uang ini disebut salabât. Kata salabâdhân berasal dari selawat yang di dalamnya ada sedekah yang yang disebut salabât. Kami, di Langkap, menyebutnya nongding. Kata nongding berasal dari tiruan bunyi alat musik pengiring sandur. 

Pengiring sandur dibawakan oleh Sanggar Tarara yang dipimpin oleh Pak Sudarsono. Kèjhung dibawakan oleh seorang seniman kèjhung Pak M. Sadun. Hadir secara resmi undangan dari berbagai kelompok seni seperti Sanggar Kopi Lembah, Komunitas Masyarakat Lumpur, dsb. Dari pelukis ada Pak Edi, Pak Syahrul, Pak Khoirul dan tokoh-tokoh lain. Pak Doing, budayawan Bangkalan, juga hadir. Saya, yang hanya menonton, diundang sebagai Dosen STKIP PGRI Bangkalan. Dari STKIP juga ada M. Helmi dan Rozekki. Keduanya petinggi Komunitas Masyarakat Lumpur. Hadir pula Dosen STKW Ahmad Faisal (Acong). 

Acara dibuka oleh Jaya. Selanjutnya, pemaparan dari Qomar. Lalu, demonstrasi kèjhung. Dilanjutkan dengan diskusi. Pada acara diskusi inilah keunikan terjadi. Pembicara dipanggil. Nama saya masuk. Sebenarnya saya datang hanya untuk menonton dan sebelumnya tidak diberi tahu. Dalam peribahasa bahasa Madura diungkapkan Èpèghâkaoghân ‘ditangkap berkaok’. Ungkapan untuk ayam yang ditangkap paksa sehingga ayam itu berkaok-kaok karena terkejut. 

Sebagai bagian dari masyarakat Madura, tentu saya ingin sandur tetap ada. Sandur adalah salah satu identitas masyarakat Madura. Namun saya harus jujur bahwa saya tidak suka sandur. Bukan karena buruk, kurang menarik, dsb. Sebaliknya, sandur adalah seni bernilai tinggi khas masyarakat Madura. Saya tidak suka keramaian. Orkes dangdut, band pop atau rok pun saya tidak bisa menikmati di keramaian.

Sebelum saya tutup cerita, saya ingin menceritakan satu hal. Di desa saya, ada satu orkes sandur. Orkes sering disebut panjhâk. Pimpinannya tentu dari golongan blatèr. Beliau punya anak yang semuanya di masukkan pendidikan pesantren. Salah seorang putra beliau nyantri di Jawa. Pulang nyantri ia mengajar di madrasah. Tentu tidak ada yang menghalalkan orkes dangdut yang ada penyanyi perempuannya. Apalagi dengan pakaian yang sedikit memberi stimulan pada yang berpikiran  agak ke sisi di balik pakaian. Bahkan ada suatu peristiwa ketika ia membatalkan pernikahan karena calon mertua hendak menanggap orkes dangdut. Sepeninggal sesepuh sandur tersebut, sandur tinggal hanya dalam memori. Sebab nilai yang dianut penerusnya sama sekali berbeda.

Di tempat lain ada pesantren. Sebagian keluarga dhâlem-nya juga atangdhâng[3]. Tidak hanya itu, bahkan ada yang jadi pimpinan orkes dangdut. Ini dikutip oleh Pak Doing untuk membatalkan premis "pesantren mengharamkan sandur". Bahwa sastri anti-sandur. Menilik kasus ini, pernyataan beliau mungkin ada benarnya. Namun, yang mungkin terlupakan bahwa keluarga pesantren yang suka sandur hanya sangat sedikit orang tertentu dari golongan trah kiyai. Golongan ini adalah bhindhârâ[4] yang bergaul dengan kaum blatèr[5] bahkan mengikuti tradisi blatèr. Sebutan untuk golongan ini ablatèr[6]. Kutipan ini saya paham dengan jelas. Bahkan saya tahu nama beliau-beliau satu persatu. Sebab beliau-beliau tersebut keturunan dari ulama besar di daerah saya. guru dari orang-orang tua saya. Saya dapat cerita ini dari orang tua saya dan cerita seorang sesepuh desa di sela antara salat magrib dan isya. Karena ablatèr golongan yang sangat-sangat kecil ini sebenarnya hanya keturunan ulama. Akan tetapi golongan ini bukan pengelola pesantren dan tidak dihormati karena kemampuan ilmu agamanya. Golongan ini lebih dihormati sebab keturunan ulama besar dan ketokohannya ada dalam konteks sosial (dan terutama) politik.

Dari cerita tersebut, salah satu sebab makin hilangnya sandur adalah nilai pesantren yang cenderung kontra budaya sandur. Selain tentu saja tidak ada generasi seusia saya dan yang lebih muda menjadi penikmat seni ini. Dan alih-alih memilih dangdut yang modern, masyarakat di desa-desa Madura hari ini makin banyak menanggap grup selawat yang tentu muncul dari pesantren. Sedangkan kelompok sandur sedikit demi sedikit menghilang. Bukan karena dihilangkan secara paksa, namun secara alamiah tanpa regenerasi.



[1] Sinonim dengan buwuh

[2] Bahasa Madura untuk nyawèr

[3] Tangdhâng adalah nama untuk tarian kaum laki-laki di depan tandak.

[4] Putra kiyai

[5]Blatèr merupakan golongan orang yang karena keberanian dan keteguhan menjaga sikap disegani bahkan ditakuti di Madura. Kata ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘supel atau mudah bergaul’. Karena akrab dengan sisi-sisi maksiat seperti minum minuman keras, kasar, dan sering identik dengan kekerasan dan carok, blatèr kemudian bergeser dan sering dilekatkan dengan predikat penjahat.

[6] Hidup sebagai blatèr


Continue reading SANDUR, DANGDUT, DAN SELAWAT: CERITA KEGIATAN DEMONSTRASI KÈJHUNG MADHURÂ