31 Juli 2023

,

SUBVERSIF? ATAU MENDUKUNG SUKSESNYA PASAR SENI LUKIS BANGKALAN

M. Helmi[1]

 

1. Harga

Ada yang bertanya, hendak dihargai berapa sebuah karya lukis (lokal) yang akan dilibatkan pada acara Pasar Seni Lukis Bangkalan (PSLB), 7-8 Desember 2019 nanti? Ini pertanyaan menarik dan positif jika ditinjau dari perspektif bagaimana sebuah wilayah seni dituntut lebih "profesional" dalam proses kerjanya. "Dihargai berapa?" Terdengar seperti ragu memang. Artinya, pertanyaan yang 'idealistik' itu, sedikit banyak mengajak tahu penyelenggara untuk paham peran (kepanitiaan) bahwa, karya lukis yang masuk pilihan panitia nanti tentu tidak main-main adanya. Karena karya lukis yang dilibatkan itu dibuat, dilahirkan, atau diciptakan, dan kemudian disuguhkan ke hadapan publik—sebelumnya tentu mengalami proses yang tak mudah dan butuh kerja keras. Itulah orientasinya, sehingga titik jelas dari pertanyaan tersebut adalah menyoal "harga" bukan karya sebagai produk seni yang dijual (ke kolektor atau pembeli umum), melainkan "harga" ditariknya karya lukis yang terseleksi masuk ke lingkaran pasar seni berdasarkan tahap awal. Begitulah maksudnya.

Selaku bagian dari panitia saya setuju dengan pandangan itu. Sebab harusnya demikian. Panitia, menuju PSLB, sebenarnya sudah memahami rentetan ini. Meski secara umum, semua cara, terkait proses awal PSLB kembali pada konteks keberadaan panitia itu sendiri. Misal ada penyeleksian atau tahap kurasi atau tidak, atau yang paling sensitif ada transaksi awal sejenis kontrak keterlibatan lukisan/pelukis dengan sistem honorarium (karena sudah terpilih). Ada atau tidak tergantung kesepakatan awal. Jika ada aturan main, tentu tinggal disepakati mekanismenya seperti apa dan bagaimana.

Sah-sah saja kesepakatan seperti apa pun yang dihasilkan. Asal kedua pihak mengerti seperti apakah prinsip kerja pelaksanaan Pasar Seni Lukis diadakan. Dan khusus untuk PSLB ini, keadaan apa pun, pihak mana pun yang mengenal betul gesekan seni rupa Bangkalan akan paham apa sebenarnya yang menjadi tujuan PSLB ini diselenggarakan. Tinggal bagaimana rencana tersebut tidak melulu diseret ke dalam perbandingan yang tak fair. Apalagi membandingkan PSLB dengan sebuah konsep yang katakanlah sudah semapan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) yang tahun kemarin dilaksanakan di Surabaya. Tentu tak mungkin, dan tidak adil membandingkan PSLB dengan PSLI. Apanya juga yang dibandingkan. Toh seni lukis Bangkalan secara khusus dalam target rencana PSLB, masih dalam perintisan bagaimana membangun iklim seni lukis yang keren dan jadi maju. Terlepas di luar itu tercatat ada nama yang sudah tak diragukan lagi kiprah dan prestasinya, seperti yang sudah diraih Pak Maji, Mas Farid, atau Suvi Wahyudianto.

Lalu terkait besaran "harga" nominal yang didapat oleh lukisan/pelukis yang lolos seleksi harus sebesar apa? Di sinilah sebenarnya yang menjadi titik tak bertemu. Karena sisi subjektif sulit dibuang dari masing-masing pribadi. Harga, yang menjadi maksud dipatok ideal, tapi situasi tak diperkuat dengan kesadaran diri "seperti apakah keberadaannya". Secara teknis, menyangkut karya lukis yang nantinya dinyatakan lolos, dan layak berada di ruang publik, lebih-lebih secara langsung seperti gelar pameran atau model pasar seni lukis, karya lukis tersebut sudah pasti mendapat harga layak. Katakanlah bahwa panitia tak akan meragukan kelayakan itu. Layak sebagai kiprah pengakuan ruang kerja (batin), maupun harga kerja sebagai pencapain usaha fisik/materi sebuah produk ekspresi. Panitia sadar bahwa tak ada penyisihan nilai yang bersifat eksploitasi. Yang ada tetap menjunjung tinggi sebuah karya yang hendak disuguhkan. Sejauh mana kepantasan harga yang melabelinya, saya pikir, sistem besaran harga yang dipatok panitia adalah jalan ideal segala sisi. Karena panitia mengerti bahwa PSLB ini hanya sebuah awal sebagai upaya membangun iklim seni lukis di Bangkalan jadi makin serius dibicarakan. PSLB ini mengajak mencari, apakah ada nanti generasi lukis Bangkalan yang bisa mencapai titik ideal seperti pelukis-pelukis yang telah punya nama besar. Meski sasaran itu berangkat dari tak adanya niatan para pelukis Bangkalan diakui punya nama besar.

 

2. Mental

Bagaimana sebenarnya situasi seni lukis Bangkalan hari ini? Jika pertanyaan tersebut ditujukan pada panitia PSLB, maka jawabannya adalah seni lukis Bangkalan telah mulai maju. Kata maju di sini, asumsikan bukan Bangkalan tak pernah mengalami masa emas dalam dunia perlukisan. Ada atau tidak masa emas itu, tolak ukur bahwa seni lukis Bangkalan punya masa emas, seperti apa juga takarannya? Tapi jika dikatakan seni lukis, atau secara umum seni rupa Bangkalan dikatakan pernah aktif, tentu itu lebih tepat. Terutama era sebelum tahun 90-an dan beberapa waktu sedikit setelahnya. Hal lain yang menandakan bahwa seni lukis Bangkalan mulai maju tentu adanya PSLB itu sendiri. PSLB, sisi lain dari segala yang sudah disampaikan pada bagian 1, bermaksud juga memberikan ruang lebih terbuka kepada para pelukis Bangkalan untuk lebih total, (karena iklim seni rupa [lukis] mulai bergerak maju).

Pendeknya, PSLB ini kegiatan yang khusus memberikan ruang kepada pelaku seni lukis. Untuk pelaku (pelukis murni). Bukan bersembunyi di balik pengalaman masing-masing yang selalu bilang pernah ini dan pernah itu. Namun hari ini sangat sulit menunjukkan karya yang pernah dibuatnya. Sehingga terjadi pengakuan yang sepotong-sepotong dan tak mengenakkan. Bukan pula menjadikan PSLB sebagai ajang pembibitan awal seperti rame-rame melukis yang tidak membatasi antara pelukis dan bukan, sehingga konsepnya menjadi tak jelas dan selesai begitu saja.

Salah seorang pelukis senior Bangkalan, yang tak perlu disebutkan namanya, mengakui bahwa, adanya PSLB ini adalah pembuktian, sinyal khusus untuk para pelukis. Pembuktian kepada para pelukis Bangkalan bahwa berkarya itu harus tidak berhenti. Jangan merasa selesai, dan harus terus mencari sampai benar-benar tak bisa melukis lagi. Ayo keluarkan semua karya-karya kita. Pelukis Bangkalan itu ada, dan banyak karya. Agar menjadi inspirasi yang nyata. Ayo tradisikan itu. Begitulah.

Mendengar pengakuan dari perupa senior Bangkalan ini, dapat diambil simpulan bahwa, situasi seni lukis Bangkalan harus dibiasakan punya tradisi berkarya yang tak putus. Jika perlu sampai pada tahap apresiasi yang menyentuh ruang pengetahuan. Setidaknya mampu melewati 9 faktor yang menurut Mikke Susanto, seorang kurator seni independen dapat menjadikan sebuah lukisan terjual dengan harga yang mahal: (riwayat seniman, tema dan ide, kondisi karya, medium bahan, teknis/alat, riwayat karya, ukuran, akuisisi dari kolektor sebelumnya, dan publikasi). Sehingga dengan mudah masuk dalam agenda pameran tunggal atau ke ruang yang lebih fleksibel seperti pasar seni. Baik di dalam kota maupun di luar kota. Urusan diboyong kolektor biarlah perjalanan yang bicara.

Demikian pandangan dari seorang senior perupa Bangkalan yang telah banyak mempelajari eksistensi para perupa Bangkalan di masa perjalanannya. Bisa juga diiyakan, meski hanya seorang. Dapat diambil sisi penting komentarnya. Sebab jika diamati, akhir-akhir ini, di balik langkah seni lukis Bangkalan hari ini yang hendak maju, jika mau jujur, betapa masih tertinggal beberapa sudut pandang perupa Bangkalan kebanyakan. Status diri yang kadang menjebak pengetahuan seni terlalu diperhitungkan berdasarkan senioritas tidak menutup sebagai penyebab. Sementara pengetahuan seni yang terus bergerak dengan cepat tak mampu dijangkau. Terlalu demikian yang dikalkulasi, sehingga mengurung generasi selanjutnya untuk berani keluar, karena merasa sulit diakui secara fair oleh mereka yang merasa lebih dahulu mengenal seni. Seperti merasa sudah setara dengan Edvard Munch, dan melampaui apa yang sudah tercapai dalam "The Scream"nya. Di satu sisi tak tahu ikon penderitaan seperti apa yang sudah dialami oleh pelukis asal Norewgia itu, sampai akhirnya lukisannya terjual dengan harga $119 juta atau 1,5 triliun, dan bersemayam dengan nyaman di Galeri Nasional Oslo. Atau dengan gampang mencemooh siapa itu Mark Rothko yang ekspresionis abstrak, yang karyanya cuma gambar warna merah, pink, dan biru. Dengan bentuk persegi dan diberi judul "Royal Red and Blue", yang ternyata berhasil laku Rp339 miliar.

Kondisi di atas memang tak menyamankan jika terus dibiarkan menggelembung. Sangat diharapkan muncul kesadaran bahwa berkembangnya sebuah wilayah seni terletak pada keterbukaan diri yang tak berbatas. Seiring perkembangan seni lukis yang makin liar dan sublim, mentradisikan diskusi tentu adalah satu bentuk mental yang memperluas cakrawala. Bukan menjadi pelaku yang antikritik dan menilai yang lain sebagai yang buruk-buruk. Apalagi sampai ada anggapan kepada yang muda dengan sebutan "anak kemarin sore". Sementara justru yang muda-mudalah yang mengerti kenapa lukisan S. Sudjojono yang penuh peristiwa dan lukisan Hendra Gunawan yang penuh perasaan sakau pernah menjadi lukisan termahal di Indonesia.

 

3. Sudah Seperti Apa Kita dalam Berkarya?

 

"Kita besar, karena merasa seolah di dunia ini hanya kita yang hebat. Kita kecil, setelah menyadari betapa tak terjumlah kejadian hebat di dunia ini. Baik yang dibuat manusia, maupun yang diciptakan Semesta."

Kalimat di atas sempat menjadi bahan diskusi salah satu kelompok seni rupa di Bangkalan yang pergerakannya pada tahun-tahun terakhir cukup mewarnai iklim seni rupa Bangkalan. Hal tersebut dilakukan untuk membuang pikiran-pikiran tak bersih yang masih melekat pada diri. Pikiran tak bersih yang dimaksud adalah menyadari tingkat pencapain yang sulit menerima bahwa sebenarnya kita tertinggal. Kita sebenarnya sudah jauh ditinggalkan oleh perkembangan-perkembangan seni yang tak berkutat pada sindrom pengakuan, mindset yang tak ubahnya kita anak kecil, dan tentu yang sangat tampak adalah "fair feeling". Bukan ironis memang, tapi lebih pada bagaimana seni secara umum di Bangkalan bisa dikatakan "harus" selamat dari keterbelakangan yang melanda. Tak masalah meski kita tak mengerti mengapa sampai akhirnya seorang Arshile Gorky memutuskan untuk melukis kematiannya dengan cara nyata, setelah dalam perjalanan melukisnya, ia berkali-kali tertimbun duka: studionya yang terbakar, diagnosa kanker, istrinya yang pergi, dan sebuah kecelakaan yang membuat tangannya hilang dan tak bisa digunakan melukis lagi. Tak masalah, kita tak mengambil hikmah dari itu, lantaran setiap individu punya cara untuk berbuat, punya cara untuk bertekad. Bagian terpenting, mungkin yang paling mampu terjalin, di Bangkalan, saat ini, hari ini, adalah kesadaran "Jiwa di dunia yang hilang jiwa... Aku cemas dengan kecemasanku, aku cemas takut kehilangan kau.. " seperti yang ditulis oleh John Canrford dalam sebuah sajak berjudul "Huesca". Sajak yang tak ingin kehilangan orang yang dicintainya lantaran ingin terus ada. Seperti kita, yang tak ingin kehilangan seni yang kita cintai. Dan ingin seni selalu ada, dalam seluruh perjalanan hidup kita.

 Video terkait dari channel resmi Komunitas Masyarakat Lumpur





[1] M. Helmi, M. Pd. dosen Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Bangkalan, Ketua Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.


Continue reading SUBVERSIF? ATAU MENDUKUNG SUKSESNYA PASAR SENI LUKIS BANGKALAN

24 Juli 2023

,

MENYANYI PUISI

 Rozekki*

 

            Apresiasi terhadap puisi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan. Satu di antara bentuk apresiasi yang paling sering dilakukan adalah pembacaan puisi. Sayangnya, kegiatan pembacaan itu sejauh ini terbatas pada kegiatan lomba. Karena lomba, kadang yang lebih dikedepankan justru ke-aku-an pembaca, bukan isi dari puisi. Puisi seolah hanya menjadi alat untuk mempertontonkan kehebatan pembaca. Padahal, pembacalah yang seharusnya menjadi alat untuk menyampaikan muatan puisi.

            Gejala pembacaan semacam itu menyebabkan puisi kehilangan makna. Kata-kata yang diucapkan, meminjam bahasa Rendra, hanya menjadi suara gemalau yang kacau. Puisi terlalu dilagu-lagukan. Ekspresi dan gestur cenderung dibuat-buat. Jika ada kata bulan dalam puisi tangan diacungkan ke langit. Jika ada kata hati dalam puisi tangan dirapatkan ke dada. Setiap kata seolah harus diikuti gerakan. Dengan pembacaan seperti itu iklan obat penumbuh kumis pun bisa saja dipuisi-puisikan. Demikian kata Rendra.



            Bentuk lain dari apresiasi terhadap puisi yang dewasa ini marak diselenggarakan adalah musikalisasi puisi. Namun sayang, penyelenggaraannya pun masih terbatas pada lomba dan acara “dalam rangka”. Hal itu diakui oleh M. Helmi, pelopor musikalisasi puisi di Bangkalan, pada sela-sela pementasan musikalisasi puisi Komunitas Masyarakat Lumpur, Minggu, 9 Februari 2014 silam.

Helmi menyampaikan kepada penonton bahwa pementasan musikalisasi puisi yang benar-benar dikemas dalam bentuk pertunjukan merupakan acara langka. Dalam artian, tidak setiap bulan atau setiap minggu bisa diadakan. Oleh karena itu, ia meminta penonton benar-benar mencermati bentuk musikalisasi yang disajikan. Sebab, bentuk musikalisasi yang diajarkan oleh guru di sekolah (melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Seni Budaya) sering kali masih mengalami kesalahan konsepsi.

Menurut pendapat Helmi, kesalahan konsepsi terjadi karena ada anggapan yang terlalu menyederhanakan istilah musikal: yang penting ada musiknya. Sehingga pembacaan puisi yang diiringi petikan gitar atau alunan musik instrumental pun akhirnya dianggap sebagai musikalisasi puisi. Padahal konsep musikalisasi puisi yang sesungguhnya ialah puisi harus digubah menjadi komposisi musik atau lagu yang mencerminkan muatan puisi. Mengenai apakah keseluruhan atau sebagian teks puisi yang dilagukan hal itu tergantung pada kreativitas penggubah. Intinya puisi harus benar-benar menjadi komposisi musik atau lagu. Puisi menjadi nyanyi.

Dalam pementasan yang dihelat di Aula MAN Bangkalan itu, Komunitas Masyarakat Lumpur menampilkan beberapa komposisi musikalisasi puisi karya dari penyair-penyair kenamaan seperti Sutardji Calzoum Bachri, Hartoyo Andang Djaya, Sitor Situmorang, dan D. Zawawi Imron. Karya-karya yang ditampilkan merupakan komposisi yang pernah diikutsertakan dan menjadi juara dalam lomba musikalisasi puisi jenjang SMA tingkat Jawa Timur dan Nasional.

Pertunjujukan dibuka dengan komposisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andang Djaya yang diaransemen oleh Muzammil Frasdia. Komposisi ini merupakan lima karya terbaik tingkat nasional dalam lomba musikalisasi puisi pada akhir 2013 di Solo  mewakili Provinsi Jawa Timur. Komposisi ini sangat pas dijadikan sebagai tampilan pembuka. Iramanya yang rancak dengan hentakan dram dan bongo yang cukup dominan menjadikan komposisi ini memiliki nilai beda dengan komposisi-komposisi musikalisasi puisi pada ummumnya yang bernada sendu dan melankolis.

Secara keseluruhan pertunjukan yang disajikan Komunitas Masyarakat Lumpur mampu menyuguhkan tatanan dan tuntunan dalam memusikalisasi puisi sekaligus memberikan tontonan yang menarik dan menghibur. Namun untuk ukuran keberhasilan ada dua indikator yang perlu diperhatikan. Jika yang dijadikan indikator hanya ruang pertunjukan, maka secara kualitas maupun kuantitas bisa dikatakan berhasil, sangat apresiatif. Akan tetapi, jika yang dijadikan indikator adalah ruang di luar ruang pertunjukan, maka keberhasilan yang diperoleh baru sebatas berhasil memberi harapan bagi pertumbuhan dan perkembangan musikalisasi puisi di tingkat regional maupun nasional.

Ungkapan “acara langka” yang disampaikan Helmi mengindikasikan musikalisasi puisi belum dikenal masyarakat. Musikalisasi puisi belum bisa benar-benar menjadi nyanyi, seperti nyanyian-nyanyian populer yang bisa didendangkan kapan saja. Padahal kalau menilik sejarah, ada beberapa musikalisasi puisi yang sebenarnya benar-benar sudah menjadi nyanyi. Salah satunya, “Sajadah Panjang” karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo.

Ungkapan “acara langka” itu memang demikian faktanya, meski bagi Helmi akan terasa sebagai kutukan. Sudah hampir sepuluh tahun pertunjukan musikalisasi di Aula MAN Bangkalan itu berlalu. Baru pada tahun 2023 ini Komunitas Masyarakat Lumpur akan menyelenggarakan kembali. Sebenarnya setiap tahun, pada setiap Festival Puisi Bangkalan, musikalisasi puisi selalu dihadirkan, tapi bukan sebagai pertunjukan tunggal.

Kata Helmi, pertunjukan musikalisasi puisi kali ini akan dikemas lebih menantang. Dengan tajuk “Ghun-Tèngghun: Konser Musikalisasi Puisi Multi Genre” pertunjukan musikalisasi puisi ini jelas menjanjikan sesuatu yang berbeda. Seperti apakah puisi jika dinyanyikan dalam genre musik rock atau dangdut? Dengan dukungan teknologi dan media yang lebih canggih dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, bisakah puisi dalam “Ghun-Tèngghun” menjadi nyanyi bukan sekadar di atas panggung, tapi juga di luar panggung? Temukan jawabannya September nanti, dan hari-hari setelah itu.

 

*Rozekki, lahir di Bangkalan, 22 Desember 1983. Mengajar di STKIP PGRI Bangkalan, pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

           

 

Continue reading MENYANYI PUISI