24 Juli 2023

,

MENYANYI PUISI

 Rozekki*

 

            Apresiasi terhadap puisi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan. Satu di antara bentuk apresiasi yang paling sering dilakukan adalah pembacaan puisi. Sayangnya, kegiatan pembacaan itu sejauh ini terbatas pada kegiatan lomba. Karena lomba, kadang yang lebih dikedepankan justru ke-aku-an pembaca, bukan isi dari puisi. Puisi seolah hanya menjadi alat untuk mempertontonkan kehebatan pembaca. Padahal, pembacalah yang seharusnya menjadi alat untuk menyampaikan muatan puisi.

            Gejala pembacaan semacam itu menyebabkan puisi kehilangan makna. Kata-kata yang diucapkan, meminjam bahasa Rendra, hanya menjadi suara gemalau yang kacau. Puisi terlalu dilagu-lagukan. Ekspresi dan gestur cenderung dibuat-buat. Jika ada kata bulan dalam puisi tangan diacungkan ke langit. Jika ada kata hati dalam puisi tangan dirapatkan ke dada. Setiap kata seolah harus diikuti gerakan. Dengan pembacaan seperti itu iklan obat penumbuh kumis pun bisa saja dipuisi-puisikan. Demikian kata Rendra.



            Bentuk lain dari apresiasi terhadap puisi yang dewasa ini marak diselenggarakan adalah musikalisasi puisi. Namun sayang, penyelenggaraannya pun masih terbatas pada lomba dan acara “dalam rangka”. Hal itu diakui oleh M. Helmi, pelopor musikalisasi puisi di Bangkalan, pada sela-sela pementasan musikalisasi puisi Komunitas Masyarakat Lumpur, Minggu, 9 Februari 2014 silam.

Helmi menyampaikan kepada penonton bahwa pementasan musikalisasi puisi yang benar-benar dikemas dalam bentuk pertunjukan merupakan acara langka. Dalam artian, tidak setiap bulan atau setiap minggu bisa diadakan. Oleh karena itu, ia meminta penonton benar-benar mencermati bentuk musikalisasi yang disajikan. Sebab, bentuk musikalisasi yang diajarkan oleh guru di sekolah (melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Seni Budaya) sering kali masih mengalami kesalahan konsepsi.

Menurut pendapat Helmi, kesalahan konsepsi terjadi karena ada anggapan yang terlalu menyederhanakan istilah musikal: yang penting ada musiknya. Sehingga pembacaan puisi yang diiringi petikan gitar atau alunan musik instrumental pun akhirnya dianggap sebagai musikalisasi puisi. Padahal konsep musikalisasi puisi yang sesungguhnya ialah puisi harus digubah menjadi komposisi musik atau lagu yang mencerminkan muatan puisi. Mengenai apakah keseluruhan atau sebagian teks puisi yang dilagukan hal itu tergantung pada kreativitas penggubah. Intinya puisi harus benar-benar menjadi komposisi musik atau lagu. Puisi menjadi nyanyi.

Dalam pementasan yang dihelat di Aula MAN Bangkalan itu, Komunitas Masyarakat Lumpur menampilkan beberapa komposisi musikalisasi puisi karya dari penyair-penyair kenamaan seperti Sutardji Calzoum Bachri, Hartoyo Andang Djaya, Sitor Situmorang, dan D. Zawawi Imron. Karya-karya yang ditampilkan merupakan komposisi yang pernah diikutsertakan dan menjadi juara dalam lomba musikalisasi puisi jenjang SMA tingkat Jawa Timur dan Nasional.

Pertunjujukan dibuka dengan komposisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andang Djaya yang diaransemen oleh Muzammil Frasdia. Komposisi ini merupakan lima karya terbaik tingkat nasional dalam lomba musikalisasi puisi pada akhir 2013 di Solo  mewakili Provinsi Jawa Timur. Komposisi ini sangat pas dijadikan sebagai tampilan pembuka. Iramanya yang rancak dengan hentakan dram dan bongo yang cukup dominan menjadikan komposisi ini memiliki nilai beda dengan komposisi-komposisi musikalisasi puisi pada ummumnya yang bernada sendu dan melankolis.

Secara keseluruhan pertunjukan yang disajikan Komunitas Masyarakat Lumpur mampu menyuguhkan tatanan dan tuntunan dalam memusikalisasi puisi sekaligus memberikan tontonan yang menarik dan menghibur. Namun untuk ukuran keberhasilan ada dua indikator yang perlu diperhatikan. Jika yang dijadikan indikator hanya ruang pertunjukan, maka secara kualitas maupun kuantitas bisa dikatakan berhasil, sangat apresiatif. Akan tetapi, jika yang dijadikan indikator adalah ruang di luar ruang pertunjukan, maka keberhasilan yang diperoleh baru sebatas berhasil memberi harapan bagi pertumbuhan dan perkembangan musikalisasi puisi di tingkat regional maupun nasional.

Ungkapan “acara langka” yang disampaikan Helmi mengindikasikan musikalisasi puisi belum dikenal masyarakat. Musikalisasi puisi belum bisa benar-benar menjadi nyanyi, seperti nyanyian-nyanyian populer yang bisa didendangkan kapan saja. Padahal kalau menilik sejarah, ada beberapa musikalisasi puisi yang sebenarnya benar-benar sudah menjadi nyanyi. Salah satunya, “Sajadah Panjang” karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo.

Ungkapan “acara langka” itu memang demikian faktanya, meski bagi Helmi akan terasa sebagai kutukan. Sudah hampir sepuluh tahun pertunjukan musikalisasi di Aula MAN Bangkalan itu berlalu. Baru pada tahun 2023 ini Komunitas Masyarakat Lumpur akan menyelenggarakan kembali. Sebenarnya setiap tahun, pada setiap Festival Puisi Bangkalan, musikalisasi puisi selalu dihadirkan, tapi bukan sebagai pertunjukan tunggal.

Kata Helmi, pertunjukan musikalisasi puisi kali ini akan dikemas lebih menantang. Dengan tajuk “Ghun-Tèngghun: Konser Musikalisasi Puisi Multi Genre” pertunjukan musikalisasi puisi ini jelas menjanjikan sesuatu yang berbeda. Seperti apakah puisi jika dinyanyikan dalam genre musik rock atau dangdut? Dengan dukungan teknologi dan media yang lebih canggih dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, bisakah puisi dalam “Ghun-Tèngghun” menjadi nyanyi bukan sekadar di atas panggung, tapi juga di luar panggung? Temukan jawabannya September nanti, dan hari-hari setelah itu.

 

*Rozekki, lahir di Bangkalan, 22 Desember 1983. Mengajar di STKIP PGRI Bangkalan, pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

           

 

0 comments:

Posting Komentar