30 Juni 2023

,

TOKANG KRITIK, KOMPENNI, DAN DOSÈN: TUHAN TERNYATA PANDAI MELUCU

  

Kecil dulu, siapa yang akan tahu? Dikenal kritis dan suka mendebat, saya diolok dengan julukan tokang kritik atau tukang kritik. Julukan yang muncul karena merasa terganggu dengan tingkah saya yang selalu mendebat pendapat orang meski orang itu lebih tua. tentu, olok-olok itu menjengkelkan bagi saya.

Dalam pikiran anak SD yang lugu, saya pikir saya harus bicara sesuai yang ada di kepala. Benar adalah benar dan harus dibela mati-matian. Tentu dalam pandangan seorang anak kecil yang berpikir kebenaran hanya dalam kepalanya. Egosentrisme yang masih kuat.

Baiklah, itu watak saya. Wajar saya diberi julukan sesuai dengan tingkah laku. Namun, tidak dengan di pesantren. Tubuh tinggi saya yang tidak jamak pada waktu itu memberi satu lagi olok-olok. Kompenni. Dengan dua en. Olok-olok itu sebenarnya disematkan untuk paman saya yang telah ngaji di pesantren sebelumnya. Kami memang memiliki tinggi lebih dari rata-rata untuk zaman itu. MTs waktu itu. Menyakitkan. Ingin rasanya mengerutkan badan, mengecil menjadi rata-rata. Tinggi badan saya waktu itu terasa seperti sebuah kekurangan. Kadang sampai saat ini perasaan itu masih muncul.

Soal kompenni sebenarnya dalam bahasa lugu orang desa adalah kata lain untuk orang Belanda yang perawakanya lebih tinggi dari ras-ras di Asia. Tentu bukan baca dari bahasa belanda kepanjangan VOC yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie yang berarti Serikat Perusahaan Hindia Timur. Akan tetapi, dari film-film pendekar yang bersetting masa kolonial. Barry Prima, George Rudy, dan Advent Bangun adalah aktor-aktor laga ternama pada waktu itu. Dan dalam film-film itu pihak Belanda disebut dengan Kompeni.



Masa gelap itu sedikit terang ketika saya mulai kursus bahasa Inggris di EQC (English Quick Course). Habitat saya berpindah dari pesantren ke Masjid Langkap Barat. Kita singkat MLB. MLB merupakan tempat transit dari Pesantren Timur Duur (PTD) dan EQC. Hal ini tidak perlu saya ceritakan. Waktu itu menjelang usia SMU.

Sikap kritis dan suka mendebat rupanya tidak berkurang. Bahkan, makin menjadi karena makin banyak referensi. Dan julukan teman di MLB untuk saya adalah “dosen”. Tentu dalam tanda petik.

Masa di masjid berakhir ketika kuliah di Kampus Jingga. Nama yang diperoleh dari cat gedung perguruan tinggi di pinggiran kota Bangkalan. Tokang Kritik hilang; Kompenni hilang; dan Dosèn pun hilang. Senior-senior di kampung telah menyebar dengan kerja yang sebagian rantau sebagai tukang potong rambut. Sebagian lagi jadi buruh tani. Masa SD saya telah berlalu lebih 10 tahun. Cukup untuk menggerus dua kata tersebut dari ingatan mereka.

Kompenni pun hilang sebab saya telah jadi guru di pesantren. Guru bahasa Inggris. Senior sudah boyong sedang yang sebaya dan yunior segan memanggil dengan sebutan itu. Berganti selanjutnya dengan “Pak”. Senior pun mulai menyebut nama bukan lagi julukan.

Dosen? Teman se masjid telah menyebar mengikuti takdir hidup masing-masing. Ke arab, ke Jakarta, sebagian di Surabaya. Seorang lagi di kediri ikut kakak perempuannya. Saya yakin mereka juga sudah lupa dengan julukan itu. Saya akan ceritakan mereka di lain waktu. Tapi, biarlah saya buka satu rahasia. Kami disebut Grup Klompen.

Waktu terus belalu. Tuhan selalu memiliki garis lucu yang baru disadari setelah terjadi. Pasca mendalami sastra di Kampus Bulak Sumur, dengan perantara seorang dosen, saya mengajar di Kampus Jingga. Olok-olok “dosen” berbuah nyata. Manis. Meski sebentar. Profesi baru ini memberi peluang membaca karya-karya sastra. Mula-mula Bangkalan saya ulas. Tokang kritik berbuah nyata. Beberapa penelitian sejarah sastra Bangkalan dan satu buku Sejarah Ringkas Kesusastraan Bangkalan menegaskan profesi sebagai tukang kritik. Meski pun amatir tentunya.

Selain ketertarikan pada sejarah sastra, setelah menerbitkan Kamus Madura Indonesia Kontemporer, saya sadar kamus ini lemah ketika Mas Adrian Pawitra menerbitkan kamus Madura. ketertarikan itu saya manifestasi dengan merombak kamus yang saya terbitkan. Dalam perjalanan pengembangan dunia leksikografis ini, saya berjumpa dengan sebuah kamus yang ditulis oleh H.N. Kiliaan berjudul Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek. Jilid pertama terbit 1904 dan jilid kedua 1905. Tentu berbahasa Belanda dan terbit pada masa kolonial. Anda pasti bisa menghubungkan. Kata kompenni mewujud ketika terpaksa saya harus belajar bahasa Belanda. Dan... Takdir itu lucu bukan?

0 comments:

Posting Komentar