19 Mei 2023

,

NGANḌÂNG: MAKAN ENAK BERBEKAL DUA TOA

Muhri

Masa remaja saya sebagian besar bersetting Masjid Kholilurrahman[1] Langkap Barat. Mengenang masa itu saya teringat satu bagian yang sebenarnya memalukan tapi lucu. Yah. Makan gratis di hajatan tetangga.

Cerita ini dimulai dengan keikutsertaan saya pada kursus bahasa Inggris di English Quick Course (EQC). EQC adalah pondok pesantren yang khusus mengajarkan bahasa Inggris. Inilah awal mula kedekatan saya dengan anak masjid. Masjid kemudian menjadi “basecamp” masa pendidikan saya dari Darul Hikmah (DH) dan EQC. Di masjid ini sebagian buku bahasa Inggris dan kitab kuning saya, pada waktu itu, “mendekam”. Saya masih ingat beberapa buku dan kitab. Sullam at-Taufiq, Bulūgh al-Marām, English 900, A Practical English Grammar, dan Kamus Inggris-Indonesia adalah beberapa yang saya ingat saya bawa ke masjid. Saya pulang hanya untuk makan. Demikian, teman saya yang lain. Tapi, dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang ini. Cerita tentang ini saya ceritakan pada bagian tersendiri.

Sebuah peristiwa memalukan namun lucu. Seperti pada judul. Itulah yang ingin saya ceritakan kali ini.

Remaja Masjid Kholilurrahman mengelola dua buah toa. Saya lupa toa ini dibeli dari siapa. Toa ini dipakai untuk yasinan mingguan, juga hajatan warga. Mereka cukup bayar kas yang sangat murah dan rokok untuk operatornya. Operator toa biasanya Jauhari. Dengan alasan membantu membereskan toa, sebagian kami datang bertandang. Pertanyaan, “Ke mana?”

Nganḍâng”. Itulah jawabannya. Tentu sambil tersenyum dan saling mengerti.

Untuk yasinan biasanya toa dipasang setelah asar. Beruntung jika tuan rumah menyediakan bambu. Jika tidak, toa dipasang di dahan pohon. Tentu ada yang naik terlebih dahulu. Lalu toa ditarik ke atas dengan tali. Setelah diikat, kabel toa dihubungkan dengan amplifier. Anda tahu sisanya. Toa diturunkan segera setelah acara. Malam itu juga. Saat inilah acara nganḍâng terjadi. Sebab, dibutuhkan tenaga untuk menurunkan toa dan membawa pulang kembali semua perangkat soundsystem ini. Hitungan jumlah tenaga yang dibutuhkan jelas. Namun yang datang sering lebih dari yang dibutuhkan.


Ingatan saya dipantik oleh sebuah lema dari kamus bahasa yang sedang saya pelajari. Nganḍâng. Kata yang secara sederhana berarti mendatangi orang-(orang) yang sedang makan dengan harapan mendapat bagian.

Yang perlu diperhatikan di sini, respon tuan rumah. Mereka senang sekali. Sebab, anak-anak masjid ini rajin membantu, teman anak-anak mereka, anak-anak baik yang merawat masjid, akrab dengan masyarakat sekitar. Selain itu, setiap ada hajatan porsi selalu lebih untuk diantar ke tetangga. Jadi memang bagian kami dari jatah lebih ini. Sayangnya, saya bukan sebagian dari pelaku nganḍâng ini. Entah mengapa perilaku “nakal” dan “lucu” ini tidak pernah muncul di benak saya. Beberapa teman juga seperti enggan dan tidak pernah melakukan. Mungkin malu.

Untuk melengkapi cerita, saya ulas kata nganḍâng. Kata ini sebenarnya bentuk turunan dari kata anḍâng yang berarti ‘pelangi’. Nganḍâng berarti ‘bertindak seperti pelangi’. Dalam mitos yang saya dengar saat saya kecil,pelangi itu dipersonifikasi seperti makhluk hidup. Katanya, salah satu ujung lengkungnya pasti mengarah ke air. Minum katanya. Terus apa hubungannya dengan nganḍâng yang figuratif ini?

Seperti pelangi, satu bagian tubuh berpijak di satu ujung sedang bagian kepala di ujung yang lain. Melompati jeda lebar untuk minum. Demikian juga perilaku nganḍâng. Orang yang tidak ada relasi dengan acara namun makan dan minum dalam acara tersebut. Sebuah analogi rumit yang muncul dari mitos.



[1] Dulu bernama Masjid Baitur Rahman 

Continue reading NGANḌÂNG: MAKAN ENAK BERBEKAL DUA TOA