11 Desember 2023

, , ,

MALES DAN MÂLES: TENTANG FONEM Â

Males dan mâles, dua kata dengan bunyi yang hampir sama. Bedanya bunyi yang ditandai grafem <a> dan grafem <â>. Sekilas dari penampakan tulisan tidak ada yang beda kecuali tanda diakritik sirkumfleks (ˆ) pada mâles dan tanpa tanda diakritik pada males. Meski beda tanda diakritik, dua kata ini berbeda arti. Males berarti ‘malas’ sedangkan mâles berarti ‘membalas’. Dengan demikian <a> dan <â> bukan variasi bunyi atau alofon melainkan bunyi yang membedakan arti atau fonem.

Sebuah pemikiran yang diawali pencarian saya terhadap Pedoman Umum Ejaan Bahasa Madura yang Disempurnakan. Saya menemukan file digital pedoman ejaan tersebut. Saya membaca pada penggunaan huruf. Pada halaman dua tertulis bahwa [a] memiliki dua variasi yaitu <a> dan <â>. “Apa iya?” Begitu respon saya di kepala. Sebagai orang Madura yang lahir dan menetap di Madura, saya merasa ini tidak benar. Namun, pada waktu itu saya belum mempunyai bukti sebagai pendukung argumentasi. Males dan mâles di atas adalah bagian dari alur cerita ini.[1] Sebuah jawaban yang selama ini saya cari. Muncul dan dipicu oleh entah apa.






Selanjutnya seperti biasa, ide-ide yang “unik” dalam pengembaraan ilmu ini, saya share ke FB. Mancing respon dari teman-teman FB yang sebagian orang yang berlatar belakang pendidikan bahasa. Sebuah respon ilmiah dari Pak Adam, seorang dosen universitas negeri di Surabaya asal Bangkalan. Saya menambahkan paḍang dan paḍâng. Paḍang berarti ‘ketapel’ sedangkan paḍâng berarti ‘tahi, kotoran manusia’. Seperti sebelumnya, dua kata ini berbeda hanya pada bunyi <a> dan <â> tetapi artinya berbeda.

Satu minggu berikutnya, dalam perjalanan ke STAIRUA Sreseh, Sampang, Roz menanggapi ide yang saya sebutkan terkait fenomena tersebut. Lalu seperti biasa obrolan di atas sepeda motor ini mengarah ke mana-mana. Sampai suatu saat. “Kalau ini tak akan salah.”

“Apa?” Saya gagal menemukan konteks dari berbagai arah obrolan.

“Terkait <a> dan <â>. Anḍang bi’ anḍâng.” Oh… Dalam hati. Ternyata soal itu.

“Anḍang itu apa?” saya sudah punya jawaban untuk ini. Sebagai konfirmasi saja.

“Sama dengan blènggon.[2]

Dalam pikiran saya, anḍang juga rangka kayu yang dilekatkan pada boncengan sepeda sebagai tumpuan untuk membawa bawaan besar, mis sekarung padi dsb., agar tidak goyah saat diikat. Anḍang juga berarti alat yang digunakan tumpuan untuk tukang menjangkau bagian yang lebih tinggi saat mengerjakan bangunan. Ternyata kata ini berasal dari bahasa Jawa andhang.[3] Dalam bahasa Indonesia disebut perancah. Dalam bahasa Inggris disebut scaffolding.

Dalam ketidakyakinan saya mencari pada kamus yang ditulis oleh Kiliaan. Dalam kamus itu tidak ada anḍang. Yang ada anḍâng yang dalam bahasa indonesia berarti ‘pelangi’ atau ‘benang raja’. Tetap saja hanya beda <a> dan <â> tapi artinya berbeda. Apakah sudah selesai?

Tiga kata dengan pasangan minimal ini hanya temuan yang diperoleh sambil lalu. Tidak benar-benar dicari secara serius. Akan tetapi, temuan ini menunjukkan bahwa tidak dapat dinafikan bahwa <a> dan <â> merupakan bunyi fonem yang berbeda, bukan sekedar variasi bunyi seperti yang selama ini dinyatakan.



[1] Tim Balai Bahasa Jawa Timur, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Madura yang Disempurnakan, edisi revisi (Surabaya: Balai Bahasa Jawa Timur, 2012) p. 2

[2] Perancah

[3] Tim Balai Bahasa Yogyakarta, Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), (Yogyakarta: Kanisius, 2019)

0 comments:

Posting Komentar