11 Desember 2023

, , ,

MALES DAN MÂLES: TENTANG FONEM Â

Males dan mâles, dua kata dengan bunyi yang hampir sama. Bedanya bunyi yang ditandai grafem <a> dan grafem <â>. Sekilas dari penampakan tulisan tidak ada yang beda kecuali tanda diakritik sirkumfleks (ˆ) pada mâles dan tanpa tanda diakritik pada males. Meski beda tanda diakritik, dua kata ini berbeda arti. Males berarti ‘malas’ sedangkan mâles berarti ‘membalas’. Dengan demikian <a> dan <â> bukan variasi bunyi atau alofon melainkan bunyi yang membedakan arti atau fonem.

Sebuah pemikiran yang diawali pencarian saya terhadap Pedoman Umum Ejaan Bahasa Madura yang Disempurnakan. Saya menemukan file digital pedoman ejaan tersebut. Saya membaca pada penggunaan huruf. Pada halaman dua tertulis bahwa [a] memiliki dua variasi yaitu <a> dan <â>. “Apa iya?” Begitu respon saya di kepala. Sebagai orang Madura yang lahir dan menetap di Madura, saya merasa ini tidak benar. Namun, pada waktu itu saya belum mempunyai bukti sebagai pendukung argumentasi. Males dan mâles di atas adalah bagian dari alur cerita ini.[1] Sebuah jawaban yang selama ini saya cari. Muncul dan dipicu oleh entah apa.






Selanjutnya seperti biasa, ide-ide yang “unik” dalam pengembaraan ilmu ini, saya share ke FB. Mancing respon dari teman-teman FB yang sebagian orang yang berlatar belakang pendidikan bahasa. Sebuah respon ilmiah dari Pak Adam, seorang dosen universitas negeri di Surabaya asal Bangkalan. Saya menambahkan paḍang dan paḍâng. Paḍang berarti ‘ketapel’ sedangkan paḍâng berarti ‘tahi, kotoran manusia’. Seperti sebelumnya, dua kata ini berbeda hanya pada bunyi <a> dan <â> tetapi artinya berbeda.

Satu minggu berikutnya, dalam perjalanan ke STAIRUA Sreseh, Sampang, Roz menanggapi ide yang saya sebutkan terkait fenomena tersebut. Lalu seperti biasa obrolan di atas sepeda motor ini mengarah ke mana-mana. Sampai suatu saat. “Kalau ini tak akan salah.”

“Apa?” Saya gagal menemukan konteks dari berbagai arah obrolan.

“Terkait <a> dan <â>. Anḍang bi’ anḍâng.” Oh… Dalam hati. Ternyata soal itu.

“Anḍang itu apa?” saya sudah punya jawaban untuk ini. Sebagai konfirmasi saja.

“Sama dengan blènggon.[2]

Dalam pikiran saya, anḍang juga rangka kayu yang dilekatkan pada boncengan sepeda sebagai tumpuan untuk membawa bawaan besar, mis sekarung padi dsb., agar tidak goyah saat diikat. Anḍang juga berarti alat yang digunakan tumpuan untuk tukang menjangkau bagian yang lebih tinggi saat mengerjakan bangunan. Ternyata kata ini berasal dari bahasa Jawa andhang.[3] Dalam bahasa Indonesia disebut perancah. Dalam bahasa Inggris disebut scaffolding.

Dalam ketidakyakinan saya mencari pada kamus yang ditulis oleh Kiliaan. Dalam kamus itu tidak ada anḍang. Yang ada anḍâng yang dalam bahasa indonesia berarti ‘pelangi’ atau ‘benang raja’. Tetap saja hanya beda <a> dan <â> tapi artinya berbeda. Apakah sudah selesai?

Tiga kata dengan pasangan minimal ini hanya temuan yang diperoleh sambil lalu. Tidak benar-benar dicari secara serius. Akan tetapi, temuan ini menunjukkan bahwa tidak dapat dinafikan bahwa <a> dan <â> merupakan bunyi fonem yang berbeda, bukan sekedar variasi bunyi seperti yang selama ini dinyatakan.



[1] Tim Balai Bahasa Jawa Timur, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Madura yang Disempurnakan, edisi revisi (Surabaya: Balai Bahasa Jawa Timur, 2012) p. 2

[2] Perancah

[3] Tim Balai Bahasa Yogyakarta, Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), (Yogyakarta: Kanisius, 2019)

Continue reading MALES DAN MÂLES: TENTANG FONEM Â

24 September 2023

, , ,

GHUN-TÈNGGHUN: PUISI DALAM 7 GENRE MUSIK

Acara ini bertajuk "Ghun-Tèngghun: Konser Musikalisasi Puisi Multigenre 7 Penyair Nasional". Ghun-Tèngghun merupakan kata ulang dari bahasa Madura tèngghu yang berarti 'lihat' atau 'tonton'. Ghun-tèngghun bentuk ulang nomina yang berarti 'tontonan'. 

Acara puncak ini dilaksanakan pada Sabtu, 23 September 2023 pukul 19.00 WIB. Puisi yang dimusikalisasi "Senja di Pelabuhan Kecil" karya Chairil Anwar, "Aku..." karya Taufiq Ismail, "Kupanggil Namamu" karya W.S. Rendra, "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono, "Jembatan" karya Sutardji Calzoum Bachri, "Pertemuan" karya Goenawan Mohamad, dan "Ibu" karya D. Zawawi Imron. 
Acara dibuka dengan sambutan ketua KML yang disampaikan oleh M. Helmy Prasetya. Dilanjutkan pembacaan puisi oleh Helmy. Selanjutnya, pemberian cendera mata kepada pihak-pihak yang bekerja sama dengan KML. 
Seperti semua cerita saya, kali ini sisi luar acara. Agus Alan Kusuma. Bersongkok nasional berbaju putih berkerah. Tubuhnya masih gemuk. Bahkan lebih dari sebelumnya. Sebuah kegelisahan tentang musikalisasi puisi yang menurutnya merusak makna. Lirik yang tidak jelas tertutup nyaring musiknya. Saya menjawab diplomatis bahwa semua musikalisasi pasti "merusak" makna. Sebab, puisi harus mengikuti musik. Lalu kita bercerita banyak hal. 
Menjelang pulang saya bertemu Muhlis. "Dâ'râmma karebbhâ Mas Helmi riya, Ka' Muhri?" Katanya sambil tersenyum. Maksudnya "Mas Helmi mau apa?" Ia menanyakan konsep acara. Diplomatis pula kujawab, "..... " Off the record. 😁😁😁
Seseorang lewat di depan saya. Eko. Eko Sabtu Utomo. Seorang penulis novel berbakat. Alumni STKIP PGRI Bangkalan. Ia terburu-buru pulang. Mungkin juga tidak ada alasan untuk tinggal. Buktinya ia asyik ngobrol berlama-lama dengan kami. Setengah sepuluh kami pulang. 
Continue reading GHUN-TÈNGGHUN: PUISI DALAM 7 GENRE MUSIK

28 Agustus 2023

,

SANDUR, DANGDUT, DAN SELAWAT: CERITA KEGIATAN DEMONSTRASI KÈJHUNG MADHURÂ

Minggu malam tanggal 27 Agustus 2023 di Taman Paseban depan Masjid Agung Bangkalan diadakan kegiatan seni Demonstrasi Kèjhung Madhurâ. Acara ini diselenggarakan dengan pendanaan Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2023. Kegiatan ini diajukan secara pribadi oleh Nisful Qomar, salah seorang pegiat seni alumni Komunitas Masyarakat Lumpur. 

Kèjhung yang dimaksud dalam konteks ini adalah kidung dalam sandur. Hal ini perlu dijelaskan mengingat kèjhung tidak hanya ada pada sandur. Kèjhung secara umum adalah semua bait yang dinyanyikan secara tradisional. Ngèjhung dilakukan oleh siapa saja jaman dulu di rumah-rumah dengan lagu yang tentu berbeda dengan sandur. 

Secara penamaan, kelompok seni yang ada kèjhung-nya ini disebut sandur jika mengarah pada orkesnya. Juga disebut salabâdhân ditinjau dari sisi acara yaitu bhubu[1] dan napel[2]. Penyerahan uang ini disebut salabât. Kata salabâdhân berasal dari selawat yang di dalamnya ada sedekah yang yang disebut salabât. Kami, di Langkap, menyebutnya nongding. Kata nongding berasal dari tiruan bunyi alat musik pengiring sandur. 

Pengiring sandur dibawakan oleh Sanggar Tarara yang dipimpin oleh Pak Sudarsono. Kèjhung dibawakan oleh seorang seniman kèjhung Pak M. Sadun. Hadir secara resmi undangan dari berbagai kelompok seni seperti Sanggar Kopi Lembah, Komunitas Masyarakat Lumpur, dsb. Dari pelukis ada Pak Edi, Pak Syahrul, Pak Khoirul dan tokoh-tokoh lain. Pak Doing, budayawan Bangkalan, juga hadir. Saya, yang hanya menonton, diundang sebagai Dosen STKIP PGRI Bangkalan. Dari STKIP juga ada M. Helmi dan Rozekki. Keduanya petinggi Komunitas Masyarakat Lumpur. Hadir pula Dosen STKW Ahmad Faisal (Acong). 

Acara dibuka oleh Jaya. Selanjutnya, pemaparan dari Qomar. Lalu, demonstrasi kèjhung. Dilanjutkan dengan diskusi. Pada acara diskusi inilah keunikan terjadi. Pembicara dipanggil. Nama saya masuk. Sebenarnya saya datang hanya untuk menonton dan sebelumnya tidak diberi tahu. Dalam peribahasa bahasa Madura diungkapkan Èpèghâkaoghân ‘ditangkap berkaok’. Ungkapan untuk ayam yang ditangkap paksa sehingga ayam itu berkaok-kaok karena terkejut. 

Sebagai bagian dari masyarakat Madura, tentu saya ingin sandur tetap ada. Sandur adalah salah satu identitas masyarakat Madura. Namun saya harus jujur bahwa saya tidak suka sandur. Bukan karena buruk, kurang menarik, dsb. Sebaliknya, sandur adalah seni bernilai tinggi khas masyarakat Madura. Saya tidak suka keramaian. Orkes dangdut, band pop atau rok pun saya tidak bisa menikmati di keramaian.

Sebelum saya tutup cerita, saya ingin menceritakan satu hal. Di desa saya, ada satu orkes sandur. Orkes sering disebut panjhâk. Pimpinannya tentu dari golongan blatèr. Beliau punya anak yang semuanya di masukkan pendidikan pesantren. Salah seorang putra beliau nyantri di Jawa. Pulang nyantri ia mengajar di madrasah. Tentu tidak ada yang menghalalkan orkes dangdut yang ada penyanyi perempuannya. Apalagi dengan pakaian yang sedikit memberi stimulan pada yang berpikiran  agak ke sisi di balik pakaian. Bahkan ada suatu peristiwa ketika ia membatalkan pernikahan karena calon mertua hendak menanggap orkes dangdut. Sepeninggal sesepuh sandur tersebut, sandur tinggal hanya dalam memori. Sebab nilai yang dianut penerusnya sama sekali berbeda.

Di tempat lain ada pesantren. Sebagian keluarga dhâlem-nya juga atangdhâng[3]. Tidak hanya itu, bahkan ada yang jadi pimpinan orkes dangdut. Ini dikutip oleh Pak Doing untuk membatalkan premis "pesantren mengharamkan sandur". Bahwa sastri anti-sandur. Menilik kasus ini, pernyataan beliau mungkin ada benarnya. Namun, yang mungkin terlupakan bahwa keluarga pesantren yang suka sandur hanya sangat sedikit orang tertentu dari golongan trah kiyai. Golongan ini adalah bhindhârâ[4] yang bergaul dengan kaum blatèr[5] bahkan mengikuti tradisi blatèr. Sebutan untuk golongan ini ablatèr[6]. Kutipan ini saya paham dengan jelas. Bahkan saya tahu nama beliau-beliau satu persatu. Sebab beliau-beliau tersebut keturunan dari ulama besar di daerah saya. guru dari orang-orang tua saya. Saya dapat cerita ini dari orang tua saya dan cerita seorang sesepuh desa di sela antara salat magrib dan isya. Karena ablatèr golongan yang sangat-sangat kecil ini sebenarnya hanya keturunan ulama. Akan tetapi golongan ini bukan pengelola pesantren dan tidak dihormati karena kemampuan ilmu agamanya. Golongan ini lebih dihormati sebab keturunan ulama besar dan ketokohannya ada dalam konteks sosial (dan terutama) politik.

Dari cerita tersebut, salah satu sebab makin hilangnya sandur adalah nilai pesantren yang cenderung kontra budaya sandur. Selain tentu saja tidak ada generasi seusia saya dan yang lebih muda menjadi penikmat seni ini. Dan alih-alih memilih dangdut yang modern, masyarakat di desa-desa Madura hari ini makin banyak menanggap grup selawat yang tentu muncul dari pesantren. Sedangkan kelompok sandur sedikit demi sedikit menghilang. Bukan karena dihilangkan secara paksa, namun secara alamiah tanpa regenerasi.



[1] Sinonim dengan buwuh

[2] Bahasa Madura untuk nyawèr

[3] Tangdhâng adalah nama untuk tarian kaum laki-laki di depan tandak.

[4] Putra kiyai

[5]Blatèr merupakan golongan orang yang karena keberanian dan keteguhan menjaga sikap disegani bahkan ditakuti di Madura. Kata ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘supel atau mudah bergaul’. Karena akrab dengan sisi-sisi maksiat seperti minum minuman keras, kasar, dan sering identik dengan kekerasan dan carok, blatèr kemudian bergeser dan sering dilekatkan dengan predikat penjahat.

[6] Hidup sebagai blatèr


Continue reading SANDUR, DANGDUT, DAN SELAWAT: CERITA KEGIATAN DEMONSTRASI KÈJHUNG MADHURÂ

31 Juli 2023

,

SUBVERSIF? ATAU MENDUKUNG SUKSESNYA PASAR SENI LUKIS BANGKALAN

M. Helmi[1]

 

1. Harga

Ada yang bertanya, hendak dihargai berapa sebuah karya lukis (lokal) yang akan dilibatkan pada acara Pasar Seni Lukis Bangkalan (PSLB), 7-8 Desember 2019 nanti? Ini pertanyaan menarik dan positif jika ditinjau dari perspektif bagaimana sebuah wilayah seni dituntut lebih "profesional" dalam proses kerjanya. "Dihargai berapa?" Terdengar seperti ragu memang. Artinya, pertanyaan yang 'idealistik' itu, sedikit banyak mengajak tahu penyelenggara untuk paham peran (kepanitiaan) bahwa, karya lukis yang masuk pilihan panitia nanti tentu tidak main-main adanya. Karena karya lukis yang dilibatkan itu dibuat, dilahirkan, atau diciptakan, dan kemudian disuguhkan ke hadapan publik—sebelumnya tentu mengalami proses yang tak mudah dan butuh kerja keras. Itulah orientasinya, sehingga titik jelas dari pertanyaan tersebut adalah menyoal "harga" bukan karya sebagai produk seni yang dijual (ke kolektor atau pembeli umum), melainkan "harga" ditariknya karya lukis yang terseleksi masuk ke lingkaran pasar seni berdasarkan tahap awal. Begitulah maksudnya.

Selaku bagian dari panitia saya setuju dengan pandangan itu. Sebab harusnya demikian. Panitia, menuju PSLB, sebenarnya sudah memahami rentetan ini. Meski secara umum, semua cara, terkait proses awal PSLB kembali pada konteks keberadaan panitia itu sendiri. Misal ada penyeleksian atau tahap kurasi atau tidak, atau yang paling sensitif ada transaksi awal sejenis kontrak keterlibatan lukisan/pelukis dengan sistem honorarium (karena sudah terpilih). Ada atau tidak tergantung kesepakatan awal. Jika ada aturan main, tentu tinggal disepakati mekanismenya seperti apa dan bagaimana.

Sah-sah saja kesepakatan seperti apa pun yang dihasilkan. Asal kedua pihak mengerti seperti apakah prinsip kerja pelaksanaan Pasar Seni Lukis diadakan. Dan khusus untuk PSLB ini, keadaan apa pun, pihak mana pun yang mengenal betul gesekan seni rupa Bangkalan akan paham apa sebenarnya yang menjadi tujuan PSLB ini diselenggarakan. Tinggal bagaimana rencana tersebut tidak melulu diseret ke dalam perbandingan yang tak fair. Apalagi membandingkan PSLB dengan sebuah konsep yang katakanlah sudah semapan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) yang tahun kemarin dilaksanakan di Surabaya. Tentu tak mungkin, dan tidak adil membandingkan PSLB dengan PSLI. Apanya juga yang dibandingkan. Toh seni lukis Bangkalan secara khusus dalam target rencana PSLB, masih dalam perintisan bagaimana membangun iklim seni lukis yang keren dan jadi maju. Terlepas di luar itu tercatat ada nama yang sudah tak diragukan lagi kiprah dan prestasinya, seperti yang sudah diraih Pak Maji, Mas Farid, atau Suvi Wahyudianto.

Lalu terkait besaran "harga" nominal yang didapat oleh lukisan/pelukis yang lolos seleksi harus sebesar apa? Di sinilah sebenarnya yang menjadi titik tak bertemu. Karena sisi subjektif sulit dibuang dari masing-masing pribadi. Harga, yang menjadi maksud dipatok ideal, tapi situasi tak diperkuat dengan kesadaran diri "seperti apakah keberadaannya". Secara teknis, menyangkut karya lukis yang nantinya dinyatakan lolos, dan layak berada di ruang publik, lebih-lebih secara langsung seperti gelar pameran atau model pasar seni lukis, karya lukis tersebut sudah pasti mendapat harga layak. Katakanlah bahwa panitia tak akan meragukan kelayakan itu. Layak sebagai kiprah pengakuan ruang kerja (batin), maupun harga kerja sebagai pencapain usaha fisik/materi sebuah produk ekspresi. Panitia sadar bahwa tak ada penyisihan nilai yang bersifat eksploitasi. Yang ada tetap menjunjung tinggi sebuah karya yang hendak disuguhkan. Sejauh mana kepantasan harga yang melabelinya, saya pikir, sistem besaran harga yang dipatok panitia adalah jalan ideal segala sisi. Karena panitia mengerti bahwa PSLB ini hanya sebuah awal sebagai upaya membangun iklim seni lukis di Bangkalan jadi makin serius dibicarakan. PSLB ini mengajak mencari, apakah ada nanti generasi lukis Bangkalan yang bisa mencapai titik ideal seperti pelukis-pelukis yang telah punya nama besar. Meski sasaran itu berangkat dari tak adanya niatan para pelukis Bangkalan diakui punya nama besar.

 

2. Mental

Bagaimana sebenarnya situasi seni lukis Bangkalan hari ini? Jika pertanyaan tersebut ditujukan pada panitia PSLB, maka jawabannya adalah seni lukis Bangkalan telah mulai maju. Kata maju di sini, asumsikan bukan Bangkalan tak pernah mengalami masa emas dalam dunia perlukisan. Ada atau tidak masa emas itu, tolak ukur bahwa seni lukis Bangkalan punya masa emas, seperti apa juga takarannya? Tapi jika dikatakan seni lukis, atau secara umum seni rupa Bangkalan dikatakan pernah aktif, tentu itu lebih tepat. Terutama era sebelum tahun 90-an dan beberapa waktu sedikit setelahnya. Hal lain yang menandakan bahwa seni lukis Bangkalan mulai maju tentu adanya PSLB itu sendiri. PSLB, sisi lain dari segala yang sudah disampaikan pada bagian 1, bermaksud juga memberikan ruang lebih terbuka kepada para pelukis Bangkalan untuk lebih total, (karena iklim seni rupa [lukis] mulai bergerak maju).

Pendeknya, PSLB ini kegiatan yang khusus memberikan ruang kepada pelaku seni lukis. Untuk pelaku (pelukis murni). Bukan bersembunyi di balik pengalaman masing-masing yang selalu bilang pernah ini dan pernah itu. Namun hari ini sangat sulit menunjukkan karya yang pernah dibuatnya. Sehingga terjadi pengakuan yang sepotong-sepotong dan tak mengenakkan. Bukan pula menjadikan PSLB sebagai ajang pembibitan awal seperti rame-rame melukis yang tidak membatasi antara pelukis dan bukan, sehingga konsepnya menjadi tak jelas dan selesai begitu saja.

Salah seorang pelukis senior Bangkalan, yang tak perlu disebutkan namanya, mengakui bahwa, adanya PSLB ini adalah pembuktian, sinyal khusus untuk para pelukis. Pembuktian kepada para pelukis Bangkalan bahwa berkarya itu harus tidak berhenti. Jangan merasa selesai, dan harus terus mencari sampai benar-benar tak bisa melukis lagi. Ayo keluarkan semua karya-karya kita. Pelukis Bangkalan itu ada, dan banyak karya. Agar menjadi inspirasi yang nyata. Ayo tradisikan itu. Begitulah.

Mendengar pengakuan dari perupa senior Bangkalan ini, dapat diambil simpulan bahwa, situasi seni lukis Bangkalan harus dibiasakan punya tradisi berkarya yang tak putus. Jika perlu sampai pada tahap apresiasi yang menyentuh ruang pengetahuan. Setidaknya mampu melewati 9 faktor yang menurut Mikke Susanto, seorang kurator seni independen dapat menjadikan sebuah lukisan terjual dengan harga yang mahal: (riwayat seniman, tema dan ide, kondisi karya, medium bahan, teknis/alat, riwayat karya, ukuran, akuisisi dari kolektor sebelumnya, dan publikasi). Sehingga dengan mudah masuk dalam agenda pameran tunggal atau ke ruang yang lebih fleksibel seperti pasar seni. Baik di dalam kota maupun di luar kota. Urusan diboyong kolektor biarlah perjalanan yang bicara.

Demikian pandangan dari seorang senior perupa Bangkalan yang telah banyak mempelajari eksistensi para perupa Bangkalan di masa perjalanannya. Bisa juga diiyakan, meski hanya seorang. Dapat diambil sisi penting komentarnya. Sebab jika diamati, akhir-akhir ini, di balik langkah seni lukis Bangkalan hari ini yang hendak maju, jika mau jujur, betapa masih tertinggal beberapa sudut pandang perupa Bangkalan kebanyakan. Status diri yang kadang menjebak pengetahuan seni terlalu diperhitungkan berdasarkan senioritas tidak menutup sebagai penyebab. Sementara pengetahuan seni yang terus bergerak dengan cepat tak mampu dijangkau. Terlalu demikian yang dikalkulasi, sehingga mengurung generasi selanjutnya untuk berani keluar, karena merasa sulit diakui secara fair oleh mereka yang merasa lebih dahulu mengenal seni. Seperti merasa sudah setara dengan Edvard Munch, dan melampaui apa yang sudah tercapai dalam "The Scream"nya. Di satu sisi tak tahu ikon penderitaan seperti apa yang sudah dialami oleh pelukis asal Norewgia itu, sampai akhirnya lukisannya terjual dengan harga $119 juta atau 1,5 triliun, dan bersemayam dengan nyaman di Galeri Nasional Oslo. Atau dengan gampang mencemooh siapa itu Mark Rothko yang ekspresionis abstrak, yang karyanya cuma gambar warna merah, pink, dan biru. Dengan bentuk persegi dan diberi judul "Royal Red and Blue", yang ternyata berhasil laku Rp339 miliar.

Kondisi di atas memang tak menyamankan jika terus dibiarkan menggelembung. Sangat diharapkan muncul kesadaran bahwa berkembangnya sebuah wilayah seni terletak pada keterbukaan diri yang tak berbatas. Seiring perkembangan seni lukis yang makin liar dan sublim, mentradisikan diskusi tentu adalah satu bentuk mental yang memperluas cakrawala. Bukan menjadi pelaku yang antikritik dan menilai yang lain sebagai yang buruk-buruk. Apalagi sampai ada anggapan kepada yang muda dengan sebutan "anak kemarin sore". Sementara justru yang muda-mudalah yang mengerti kenapa lukisan S. Sudjojono yang penuh peristiwa dan lukisan Hendra Gunawan yang penuh perasaan sakau pernah menjadi lukisan termahal di Indonesia.

 

3. Sudah Seperti Apa Kita dalam Berkarya?

 

"Kita besar, karena merasa seolah di dunia ini hanya kita yang hebat. Kita kecil, setelah menyadari betapa tak terjumlah kejadian hebat di dunia ini. Baik yang dibuat manusia, maupun yang diciptakan Semesta."

Kalimat di atas sempat menjadi bahan diskusi salah satu kelompok seni rupa di Bangkalan yang pergerakannya pada tahun-tahun terakhir cukup mewarnai iklim seni rupa Bangkalan. Hal tersebut dilakukan untuk membuang pikiran-pikiran tak bersih yang masih melekat pada diri. Pikiran tak bersih yang dimaksud adalah menyadari tingkat pencapain yang sulit menerima bahwa sebenarnya kita tertinggal. Kita sebenarnya sudah jauh ditinggalkan oleh perkembangan-perkembangan seni yang tak berkutat pada sindrom pengakuan, mindset yang tak ubahnya kita anak kecil, dan tentu yang sangat tampak adalah "fair feeling". Bukan ironis memang, tapi lebih pada bagaimana seni secara umum di Bangkalan bisa dikatakan "harus" selamat dari keterbelakangan yang melanda. Tak masalah meski kita tak mengerti mengapa sampai akhirnya seorang Arshile Gorky memutuskan untuk melukis kematiannya dengan cara nyata, setelah dalam perjalanan melukisnya, ia berkali-kali tertimbun duka: studionya yang terbakar, diagnosa kanker, istrinya yang pergi, dan sebuah kecelakaan yang membuat tangannya hilang dan tak bisa digunakan melukis lagi. Tak masalah, kita tak mengambil hikmah dari itu, lantaran setiap individu punya cara untuk berbuat, punya cara untuk bertekad. Bagian terpenting, mungkin yang paling mampu terjalin, di Bangkalan, saat ini, hari ini, adalah kesadaran "Jiwa di dunia yang hilang jiwa... Aku cemas dengan kecemasanku, aku cemas takut kehilangan kau.. " seperti yang ditulis oleh John Canrford dalam sebuah sajak berjudul "Huesca". Sajak yang tak ingin kehilangan orang yang dicintainya lantaran ingin terus ada. Seperti kita, yang tak ingin kehilangan seni yang kita cintai. Dan ingin seni selalu ada, dalam seluruh perjalanan hidup kita.

 Video terkait dari channel resmi Komunitas Masyarakat Lumpur





[1] M. Helmi, M. Pd. dosen Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Bangkalan, Ketua Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan.


Continue reading SUBVERSIF? ATAU MENDUKUNG SUKSESNYA PASAR SENI LUKIS BANGKALAN

24 Juli 2023

,

MENYANYI PUISI

 Rozekki*

 

            Apresiasi terhadap puisi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan. Satu di antara bentuk apresiasi yang paling sering dilakukan adalah pembacaan puisi. Sayangnya, kegiatan pembacaan itu sejauh ini terbatas pada kegiatan lomba. Karena lomba, kadang yang lebih dikedepankan justru ke-aku-an pembaca, bukan isi dari puisi. Puisi seolah hanya menjadi alat untuk mempertontonkan kehebatan pembaca. Padahal, pembacalah yang seharusnya menjadi alat untuk menyampaikan muatan puisi.

            Gejala pembacaan semacam itu menyebabkan puisi kehilangan makna. Kata-kata yang diucapkan, meminjam bahasa Rendra, hanya menjadi suara gemalau yang kacau. Puisi terlalu dilagu-lagukan. Ekspresi dan gestur cenderung dibuat-buat. Jika ada kata bulan dalam puisi tangan diacungkan ke langit. Jika ada kata hati dalam puisi tangan dirapatkan ke dada. Setiap kata seolah harus diikuti gerakan. Dengan pembacaan seperti itu iklan obat penumbuh kumis pun bisa saja dipuisi-puisikan. Demikian kata Rendra.



            Bentuk lain dari apresiasi terhadap puisi yang dewasa ini marak diselenggarakan adalah musikalisasi puisi. Namun sayang, penyelenggaraannya pun masih terbatas pada lomba dan acara “dalam rangka”. Hal itu diakui oleh M. Helmi, pelopor musikalisasi puisi di Bangkalan, pada sela-sela pementasan musikalisasi puisi Komunitas Masyarakat Lumpur, Minggu, 9 Februari 2014 silam.

Helmi menyampaikan kepada penonton bahwa pementasan musikalisasi puisi yang benar-benar dikemas dalam bentuk pertunjukan merupakan acara langka. Dalam artian, tidak setiap bulan atau setiap minggu bisa diadakan. Oleh karena itu, ia meminta penonton benar-benar mencermati bentuk musikalisasi yang disajikan. Sebab, bentuk musikalisasi yang diajarkan oleh guru di sekolah (melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Seni Budaya) sering kali masih mengalami kesalahan konsepsi.

Menurut pendapat Helmi, kesalahan konsepsi terjadi karena ada anggapan yang terlalu menyederhanakan istilah musikal: yang penting ada musiknya. Sehingga pembacaan puisi yang diiringi petikan gitar atau alunan musik instrumental pun akhirnya dianggap sebagai musikalisasi puisi. Padahal konsep musikalisasi puisi yang sesungguhnya ialah puisi harus digubah menjadi komposisi musik atau lagu yang mencerminkan muatan puisi. Mengenai apakah keseluruhan atau sebagian teks puisi yang dilagukan hal itu tergantung pada kreativitas penggubah. Intinya puisi harus benar-benar menjadi komposisi musik atau lagu. Puisi menjadi nyanyi.

Dalam pementasan yang dihelat di Aula MAN Bangkalan itu, Komunitas Masyarakat Lumpur menampilkan beberapa komposisi musikalisasi puisi karya dari penyair-penyair kenamaan seperti Sutardji Calzoum Bachri, Hartoyo Andang Djaya, Sitor Situmorang, dan D. Zawawi Imron. Karya-karya yang ditampilkan merupakan komposisi yang pernah diikutsertakan dan menjadi juara dalam lomba musikalisasi puisi jenjang SMA tingkat Jawa Timur dan Nasional.

Pertunjujukan dibuka dengan komposisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andang Djaya yang diaransemen oleh Muzammil Frasdia. Komposisi ini merupakan lima karya terbaik tingkat nasional dalam lomba musikalisasi puisi pada akhir 2013 di Solo  mewakili Provinsi Jawa Timur. Komposisi ini sangat pas dijadikan sebagai tampilan pembuka. Iramanya yang rancak dengan hentakan dram dan bongo yang cukup dominan menjadikan komposisi ini memiliki nilai beda dengan komposisi-komposisi musikalisasi puisi pada ummumnya yang bernada sendu dan melankolis.

Secara keseluruhan pertunjukan yang disajikan Komunitas Masyarakat Lumpur mampu menyuguhkan tatanan dan tuntunan dalam memusikalisasi puisi sekaligus memberikan tontonan yang menarik dan menghibur. Namun untuk ukuran keberhasilan ada dua indikator yang perlu diperhatikan. Jika yang dijadikan indikator hanya ruang pertunjukan, maka secara kualitas maupun kuantitas bisa dikatakan berhasil, sangat apresiatif. Akan tetapi, jika yang dijadikan indikator adalah ruang di luar ruang pertunjukan, maka keberhasilan yang diperoleh baru sebatas berhasil memberi harapan bagi pertumbuhan dan perkembangan musikalisasi puisi di tingkat regional maupun nasional.

Ungkapan “acara langka” yang disampaikan Helmi mengindikasikan musikalisasi puisi belum dikenal masyarakat. Musikalisasi puisi belum bisa benar-benar menjadi nyanyi, seperti nyanyian-nyanyian populer yang bisa didendangkan kapan saja. Padahal kalau menilik sejarah, ada beberapa musikalisasi puisi yang sebenarnya benar-benar sudah menjadi nyanyi. Salah satunya, “Sajadah Panjang” karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo.

Ungkapan “acara langka” itu memang demikian faktanya, meski bagi Helmi akan terasa sebagai kutukan. Sudah hampir sepuluh tahun pertunjukan musikalisasi di Aula MAN Bangkalan itu berlalu. Baru pada tahun 2023 ini Komunitas Masyarakat Lumpur akan menyelenggarakan kembali. Sebenarnya setiap tahun, pada setiap Festival Puisi Bangkalan, musikalisasi puisi selalu dihadirkan, tapi bukan sebagai pertunjukan tunggal.

Kata Helmi, pertunjukan musikalisasi puisi kali ini akan dikemas lebih menantang. Dengan tajuk “Ghun-Tèngghun: Konser Musikalisasi Puisi Multi Genre” pertunjukan musikalisasi puisi ini jelas menjanjikan sesuatu yang berbeda. Seperti apakah puisi jika dinyanyikan dalam genre musik rock atau dangdut? Dengan dukungan teknologi dan media yang lebih canggih dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, bisakah puisi dalam “Ghun-Tèngghun” menjadi nyanyi bukan sekadar di atas panggung, tapi juga di luar panggung? Temukan jawabannya September nanti, dan hari-hari setelah itu.

 

*Rozekki, lahir di Bangkalan, 22 Desember 1983. Mengajar di STKIP PGRI Bangkalan, pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

           

 

Continue reading MENYANYI PUISI

30 Juni 2023

,

TOKANG KRITIK, KOMPENNI, DAN DOSÈN: TUHAN TERNYATA PANDAI MELUCU

  

Kecil dulu, siapa yang akan tahu? Dikenal kritis dan suka mendebat, saya diolok dengan julukan tokang kritik atau tukang kritik. Julukan yang muncul karena merasa terganggu dengan tingkah saya yang selalu mendebat pendapat orang meski orang itu lebih tua. tentu, olok-olok itu menjengkelkan bagi saya.

Dalam pikiran anak SD yang lugu, saya pikir saya harus bicara sesuai yang ada di kepala. Benar adalah benar dan harus dibela mati-matian. Tentu dalam pandangan seorang anak kecil yang berpikir kebenaran hanya dalam kepalanya. Egosentrisme yang masih kuat.

Baiklah, itu watak saya. Wajar saya diberi julukan sesuai dengan tingkah laku. Namun, tidak dengan di pesantren. Tubuh tinggi saya yang tidak jamak pada waktu itu memberi satu lagi olok-olok. Kompenni. Dengan dua en. Olok-olok itu sebenarnya disematkan untuk paman saya yang telah ngaji di pesantren sebelumnya. Kami memang memiliki tinggi lebih dari rata-rata untuk zaman itu. MTs waktu itu. Menyakitkan. Ingin rasanya mengerutkan badan, mengecil menjadi rata-rata. Tinggi badan saya waktu itu terasa seperti sebuah kekurangan. Kadang sampai saat ini perasaan itu masih muncul.

Soal kompenni sebenarnya dalam bahasa lugu orang desa adalah kata lain untuk orang Belanda yang perawakanya lebih tinggi dari ras-ras di Asia. Tentu bukan baca dari bahasa belanda kepanjangan VOC yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie yang berarti Serikat Perusahaan Hindia Timur. Akan tetapi, dari film-film pendekar yang bersetting masa kolonial. Barry Prima, George Rudy, dan Advent Bangun adalah aktor-aktor laga ternama pada waktu itu. Dan dalam film-film itu pihak Belanda disebut dengan Kompeni.



Masa gelap itu sedikit terang ketika saya mulai kursus bahasa Inggris di EQC (English Quick Course). Habitat saya berpindah dari pesantren ke Masjid Langkap Barat. Kita singkat MLB. MLB merupakan tempat transit dari Pesantren Timur Duur (PTD) dan EQC. Hal ini tidak perlu saya ceritakan. Waktu itu menjelang usia SMU.

Sikap kritis dan suka mendebat rupanya tidak berkurang. Bahkan, makin menjadi karena makin banyak referensi. Dan julukan teman di MLB untuk saya adalah “dosen”. Tentu dalam tanda petik.

Masa di masjid berakhir ketika kuliah di Kampus Jingga. Nama yang diperoleh dari cat gedung perguruan tinggi di pinggiran kota Bangkalan. Tokang Kritik hilang; Kompenni hilang; dan Dosèn pun hilang. Senior-senior di kampung telah menyebar dengan kerja yang sebagian rantau sebagai tukang potong rambut. Sebagian lagi jadi buruh tani. Masa SD saya telah berlalu lebih 10 tahun. Cukup untuk menggerus dua kata tersebut dari ingatan mereka.

Kompenni pun hilang sebab saya telah jadi guru di pesantren. Guru bahasa Inggris. Senior sudah boyong sedang yang sebaya dan yunior segan memanggil dengan sebutan itu. Berganti selanjutnya dengan “Pak”. Senior pun mulai menyebut nama bukan lagi julukan.

Dosen? Teman se masjid telah menyebar mengikuti takdir hidup masing-masing. Ke arab, ke Jakarta, sebagian di Surabaya. Seorang lagi di kediri ikut kakak perempuannya. Saya yakin mereka juga sudah lupa dengan julukan itu. Saya akan ceritakan mereka di lain waktu. Tapi, biarlah saya buka satu rahasia. Kami disebut Grup Klompen.

Waktu terus belalu. Tuhan selalu memiliki garis lucu yang baru disadari setelah terjadi. Pasca mendalami sastra di Kampus Bulak Sumur, dengan perantara seorang dosen, saya mengajar di Kampus Jingga. Olok-olok “dosen” berbuah nyata. Manis. Meski sebentar. Profesi baru ini memberi peluang membaca karya-karya sastra. Mula-mula Bangkalan saya ulas. Tokang kritik berbuah nyata. Beberapa penelitian sejarah sastra Bangkalan dan satu buku Sejarah Ringkas Kesusastraan Bangkalan menegaskan profesi sebagai tukang kritik. Meski pun amatir tentunya.

Selain ketertarikan pada sejarah sastra, setelah menerbitkan Kamus Madura Indonesia Kontemporer, saya sadar kamus ini lemah ketika Mas Adrian Pawitra menerbitkan kamus Madura. ketertarikan itu saya manifestasi dengan merombak kamus yang saya terbitkan. Dalam perjalanan pengembangan dunia leksikografis ini, saya berjumpa dengan sebuah kamus yang ditulis oleh H.N. Kiliaan berjudul Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek. Jilid pertama terbit 1904 dan jilid kedua 1905. Tentu berbahasa Belanda dan terbit pada masa kolonial. Anda pasti bisa menghubungkan. Kata kompenni mewujud ketika terpaksa saya harus belajar bahasa Belanda. Dan... Takdir itu lucu bukan?

Continue reading TOKANG KRITIK, KOMPENNI, DAN DOSÈN: TUHAN TERNYATA PANDAI MELUCU

19 Mei 2023

,

NGANḌÂNG: MAKAN ENAK BERBEKAL DUA TOA

Muhri

Masa remaja saya sebagian besar bersetting Masjid Kholilurrahman[1] Langkap Barat. Mengenang masa itu saya teringat satu bagian yang sebenarnya memalukan tapi lucu. Yah. Makan gratis di hajatan tetangga.

Cerita ini dimulai dengan keikutsertaan saya pada kursus bahasa Inggris di English Quick Course (EQC). EQC adalah pondok pesantren yang khusus mengajarkan bahasa Inggris. Inilah awal mula kedekatan saya dengan anak masjid. Masjid kemudian menjadi “basecamp” masa pendidikan saya dari Darul Hikmah (DH) dan EQC. Di masjid ini sebagian buku bahasa Inggris dan kitab kuning saya, pada waktu itu, “mendekam”. Saya masih ingat beberapa buku dan kitab. Sullam at-Taufiq, Bulūgh al-Marām, English 900, A Practical English Grammar, dan Kamus Inggris-Indonesia adalah beberapa yang saya ingat saya bawa ke masjid. Saya pulang hanya untuk makan. Demikian, teman saya yang lain. Tapi, dalam tulisan ini saya tidak akan bercerita tentang ini. Cerita tentang ini saya ceritakan pada bagian tersendiri.

Sebuah peristiwa memalukan namun lucu. Seperti pada judul. Itulah yang ingin saya ceritakan kali ini.

Remaja Masjid Kholilurrahman mengelola dua buah toa. Saya lupa toa ini dibeli dari siapa. Toa ini dipakai untuk yasinan mingguan, juga hajatan warga. Mereka cukup bayar kas yang sangat murah dan rokok untuk operatornya. Operator toa biasanya Jauhari. Dengan alasan membantu membereskan toa, sebagian kami datang bertandang. Pertanyaan, “Ke mana?”

Nganḍâng”. Itulah jawabannya. Tentu sambil tersenyum dan saling mengerti.

Untuk yasinan biasanya toa dipasang setelah asar. Beruntung jika tuan rumah menyediakan bambu. Jika tidak, toa dipasang di dahan pohon. Tentu ada yang naik terlebih dahulu. Lalu toa ditarik ke atas dengan tali. Setelah diikat, kabel toa dihubungkan dengan amplifier. Anda tahu sisanya. Toa diturunkan segera setelah acara. Malam itu juga. Saat inilah acara nganḍâng terjadi. Sebab, dibutuhkan tenaga untuk menurunkan toa dan membawa pulang kembali semua perangkat soundsystem ini. Hitungan jumlah tenaga yang dibutuhkan jelas. Namun yang datang sering lebih dari yang dibutuhkan.


Ingatan saya dipantik oleh sebuah lema dari kamus bahasa yang sedang saya pelajari. Nganḍâng. Kata yang secara sederhana berarti mendatangi orang-(orang) yang sedang makan dengan harapan mendapat bagian.

Yang perlu diperhatikan di sini, respon tuan rumah. Mereka senang sekali. Sebab, anak-anak masjid ini rajin membantu, teman anak-anak mereka, anak-anak baik yang merawat masjid, akrab dengan masyarakat sekitar. Selain itu, setiap ada hajatan porsi selalu lebih untuk diantar ke tetangga. Jadi memang bagian kami dari jatah lebih ini. Sayangnya, saya bukan sebagian dari pelaku nganḍâng ini. Entah mengapa perilaku “nakal” dan “lucu” ini tidak pernah muncul di benak saya. Beberapa teman juga seperti enggan dan tidak pernah melakukan. Mungkin malu.

Untuk melengkapi cerita, saya ulas kata nganḍâng. Kata ini sebenarnya bentuk turunan dari kata anḍâng yang berarti ‘pelangi’. Nganḍâng berarti ‘bertindak seperti pelangi’. Dalam mitos yang saya dengar saat saya kecil,pelangi itu dipersonifikasi seperti makhluk hidup. Katanya, salah satu ujung lengkungnya pasti mengarah ke air. Minum katanya. Terus apa hubungannya dengan nganḍâng yang figuratif ini?

Seperti pelangi, satu bagian tubuh berpijak di satu ujung sedang bagian kepala di ujung yang lain. Melompati jeda lebar untuk minum. Demikian juga perilaku nganḍâng. Orang yang tidak ada relasi dengan acara namun makan dan minum dalam acara tersebut. Sebuah analogi rumit yang muncul dari mitos.



[1] Dulu bernama Masjid Baitur Rahman 

Continue reading NGANḌÂNG: MAKAN ENAK BERBEKAL DUA TOA

07 April 2023

HAL BIASA YANG LUAR BIASA DALAM KENANGAN: CERITA MANCING SASTRA KE-38


Bermula dari Mancing Sastra ke-38 bertema 19 tahun perjalanan Sastra Komunitas Masyarakat Lumpur. Acara sederhana yang diadakan untuk memperingati kelahiran komunitas ini 19 tahun silam. Saya dan Roz menjadi pembicara. Seperti acara semi formal lainnya, tak ada yang terlalu menarik. Kajian tentang sastra bukan sesuatu yang urgen. Sastra memang tidak berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia. Yah, mungkin saya hanya terjebak oleh bidang ilmu yang saya geluti. Mungkin. Mungkin juga tidak. Entahlah.


Sepeti biasa peserta yang hadir terutama komunitas seni di Bangkalan. Selain itu, beberapa orang mahasiswa yang hadir dan itu-itu saja. Singkatnya tidak ada yang menarik dari itu. Mungkin tidak semua menjemukan. Tapi persentasenya kecil. Salah satunya saat Roz membaca puisi Pak Helmi berjudul “Halbia”. Mungkin bukan puisi yang terbaik dari Antologi Cinta[1] yang ditulis Pak M. Helmy Prasetya. Namun puisi ini berkaitan dengan sebagian cerita dalam hidup saya. Berikut puisi tersebut.

 

Halbia

 

1/    Itu hal biasa

dan semua orang menyebutnya dosa.

ada laki-laki, bulu burung rowo, hitam semut

dan kipas angin yang sudah lama pangsiun[2]

membersihkan al-qur’an. Barangkali listriknya

mati dan hanya ada satu di tasmu

2/    aku tidak boleh pulang malam,

lantaran aku kebanyakan minum dering hand phone.

tetapi soremu terlalu lama untuk ditunggu, jadi

lebih baik aku berdosa

3/    ceritanya begini: teman kita ada yang jual genting

tapi harganya sangat murah, hanya sebuah

senyuman. yang beli katanya adalah rasa lapar dan

pegawai sipil yang nyasar

4/    lalu kenapa kamu tidak sembahyang ?

jangan bilang apes!

dan lihat disana, ada toilet bukan ! jadi buang

saja dosa-dosamu ke sana. selesaikan !

5/    musolla-kampus stkip pgri bangkalan

30 oktober 2003. di bawah langit yang sedih

kita jadi terlentang.

6/    (helmy, mohry, makky, ruzakky, dan zainy) merekapun

tampak semakin tua

 

Terus terang saya sudah lupa maksud puisi itu. Kecuali beberapa perca dari fragmen tersebut. Selain itu, karena bukan penulis puisi, tentu saja posisi saya sebagai penafsir. Fragmen 1/ sepertinya berbicara tentang ruang. Ruang tersebut adalah musala STKIP PGRI Bangkalan. Tapi bukan musala yang sekarang. Entah kapan musala itu dibongkar. Yang jelas saat awal mengajar 2010-an musala tersebut masih ada. Ruang itu terisi “laki-laki” yaitu kami berlima, “bulu burung rowo”, dan “hitam semut”. “Bulu burung rowo” adalah gurauan tentang kemucing yang bulunya hampir habis. Kebetulan saat itu sedang trend lagu “Cucak Rowo” dari Didi Kempot. Sedangkan “hitam semut” adalah kondisi musala yang kotor karena jarang dibersihkan dan banyak semut hitam. Di dinding ada sebuah “kipas angin yang sudah lama pangsiun” atau sudah rusak. Kipas angin mati tersebut seolah-olah “membersihkan al-qur’an.” yang berada di rak di bawah kipas tersebut. Yah, sebuah kitab suci yang berdebu sebab jarang dibaca.

Fragmen 2/ ada “aku tidak boleh pulang malam, lantaran aku kebanyakan minum dering hand phone.” Yang tidak boleh pulang malam tentu Helmy penulis puisi ini. Dia satu-satunya di antara kami berlima yang sudah menikah pada waktu itu. Tentu punya tanggung jawab keluarga. Sedangkan empat yang lain biasa pulang sampai pukul sembilan malam. Kami mahasiswa yang aktif sebagai pengurus BEM.

Fragmen 3/ berisi suasana. “Rasa lapar” pada fragmen tersebut mewakili waktu puasa. Dan kami mengisinya dengan ngobrol untuk mengalihkan pikiran dari rasa lapar tersebut. Saat itu ada “pegawai sipil yang nyasar”. Perempuan berpakaian PNS mondar-mandir seperti mencari seseorang di kantor BAAK yang tutup. Kantor ini buka sore. Dia asik dengan kebingungannya. Tidak mencoba untuk bertanya meskipun ia melihat ada kami di sana.

Fragmen 4/ saya lupa tentang apa.

Framen 5/ menegaskan tempat dan waktu. “30 oktober 2003” bertepatan dengan tanggal 4 Ramadhan 1424. Seingat saya itu menjelang acara BEM. Buka puasa bersama. Mungkin juga bukan.

Fragmen 6/ menyebutkan orang-orang yang terlibat dalam fragmen tersebut. Mereka adalah “helmy, mohry, makky, ruzakky, dan zainy”. Huruf y pada akhir nama merupakan gurauan waktu itu. Zainy, adik Helmy, sebenarnya dipanggil Husai. Lengkapnya Huzaini. Diganti zainy demi melekatkan huruf y. Gurauan ini merupakan hal biasa bagi kami waktu itu. Helmy menyingkatnya menjadi halbia seperti pada judul dengan membuang sa.

Yang terpenting dari semuanya, fragmen-fragmen ini seperti menjadi salah satu catatan sejarah hidup kami. Tanpa puisi ini, mungkin kami sudah lupa. Memori ini mungkin akan tenggelam ke ceruk terdalam lautan ingatan. Ada 19 tahun jeda antara peristiwa tersebut dengan saat ini. Yah, peristiwa biasa yang mudah terlupa tetapi menjadi luar biasa karena menjadi ingatan menambah waskita ketika merefleksi diri. Jadi, puisi yang tidak bisa kita uangkan ini, ternyata menjadi berharga, seperti uang kertas 100 rupiah dulu emisi 1992 yang kini berharga puluhan ribu sampai jutaan karena telah menjadi barang antik.

 



[1] M. Helmy Pasetya, Antologi Cinta (Bangkalan: Komunitas Tera’ Bulan, 2003)

[2] Kata lama bahasa Madura yang sinonim dengan pensiun 

Continue reading HAL BIASA YANG LUAR BIASA DALAM KENANGAN: CERITA MANCING SASTRA KE-38