Pernahkah Anda mendengar peribahasa atau ungkapan etis di atas? Bagi masyarakat Madura, ungkapan ini bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah pandangan hidup (worldview) yang mengatur hierarki kepatuhan, penghormatan, dan pembentukan karakter sosial. Untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu membedah ungkapan ini secara etimologis dan semantis kata demi kata:
1. Bhuppa’ - Bhâbhu’ (Orang Tua)
Bhuppa’ merupakan varian fonetis
sekaligus sinonim dari kata bapa’ atau emma’, yang berarti 'bapak'
atau 'ayah' dalam bahasa Indonesia. Bhâbhu’ secara historis berakar dari
bahasa Jawa Kawi, yaitu babu, yang bermakna "ibu" (Poerwadarminta 1943:8). Kombinasi ini menempatkan orang tua kandung pada
hierarki paling pertama dan utama. Mereka adalah madrasah pertama, pelindung,
dan asal-usul keberadaan seorang individu di dunia.
2. Ghuru (Pendidik)
Kata Ghuru secara etimologis berasal dari bahasa
Sanskerta, guru, yang secara harfiah berarti "berat",
"besar", atau "penting". Namun, dalam konteks
sosiolinguistik bahasa Madura, kata ini diserap melalui bahasa Jawa yang
memiliki makna fungsional sebagai "pengajar" atau "pendidik".
Guru menempati posisi kedua setelah orang tua. Dalam kultur Madura yang agamis,
sosok guru (terutama kyae atau ulama) spiritualitasnya dianggap ikut
membentuk "jiwa" manusia, setelah orang tua membentuk
"fisik"-nya.
3. Rato (Pemimpin)
Rato berasal dari bahasa Jawa ratu, yang jika
ditarik lebih jauh lagi berakar dari bahasa Austronesia Purba dengan arti
"pemimpin" atau "penguasa". Makna Filosofis: Rato
merepresentasikan otoritas formal maupun informal (pemerintah atau pemimpin
adat) yang mengatur ketertiban, hukum, dan keadilan dalam kehidupan
bermasyarakat.
Secara harfiah, Bhuppa’-Bhâbhu’ Ghuru Rato berarti
"Bapak-Ibu, Guru, dan Pemimpin". Struktur penulisan dan pengucapan
peribahasa ini tidak diposisikan secara acak, melainkan diurutkan secara
sosiologis berdasarkan derajat kedekatan emosional dan interaksi alamiah
seorang manusia Madura sejak lahir hingga dewasa.
Seorang anak pertama-tama akan patuh kepada orang tuanya (Bhuppa'-Bhâbhu'),
kemudian ketika ia mulai belajar, ia menyerahkan kepatuhannya kepada pendidik (Ghuru),
dan pada akhirnya sebagai warga sosial, ia tunduk pada aturan hukum yang
dipimpin oleh penguasa (Rato).
Dalam pemahaman umum masyarakat Madura, ketiga elemen ini
merupakan triad otoritas yang wajib ditaati secara mutlak, selama tidak
bertentangan dengan norma agama. Kepatuhan ini bersifat linier dan integratif.
Artinya, seseorang yang berbakti kepada orang tuanya cenderung akan takzim
kepada gurunya, dan secara otomatis menjadi warga negara atau masyarakat yang
taat pada pemimpinnya. Falsafah ini menjadi jangkar moral yang kuat dalam
menjaga harmoni, ketertiban, dan pelestarian nilai kultural di tanah Madura melintasi
berbagai generasi.
Daftar Pustaka
Poerwadarminta, W. J. S. 1943. Kawi-Djarwa. Djakarta: Balé
Poestaka.

0 comments:
Posting Komentar