29 Juni 2026

,

BHUPPA’-BHÂBHU’ GHURU RATO: ORANG DAN GOLONGAN YANG DITAATI ORANG MADURA

Pernahkah Anda mendengar peribahasa atau ungkapan etis di atas? Bagi masyarakat Madura, ungkapan ini bukan sekadar susunan kata, melainkan sebuah pandangan hidup (worldview) yang mengatur hierarki kepatuhan, penghormatan, dan pembentukan karakter sosial. Untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu membedah ungkapan ini secara etimologis dan semantis kata demi kata:

ilustrasi dibuat dengan Gemini AI

1. Bhuppa’ - Bhâbhu’ (Orang Tua)

Bhuppa’ merupakan varian fonetis sekaligus sinonim dari kata bapa’ atau emma’, yang berarti 'bapak' atau 'ayah' dalam bahasa Indonesia. Bhâbhu’ secara historis berakar dari bahasa Jawa Kawi, yaitu babu, yang bermakna "ibu" (Poerwadarminta 1943:8). Kombinasi ini menempatkan orang tua kandung pada hierarki paling pertama dan utama. Mereka adalah madrasah pertama, pelindung, dan asal-usul keberadaan seorang individu di dunia.

2. Ghuru (Pendidik)

Kata Ghuru secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, guru, yang secara harfiah berarti "berat", "besar", atau "penting". Namun, dalam konteks sosiolinguistik bahasa Madura, kata ini diserap melalui bahasa Jawa yang memiliki makna fungsional sebagai "pengajar" atau "pendidik". Guru menempati posisi kedua setelah orang tua. Dalam kultur Madura yang agamis, sosok guru (terutama kyae atau ulama) spiritualitasnya dianggap ikut membentuk "jiwa" manusia, setelah orang tua membentuk "fisik"-nya.

3. Rato (Pemimpin)

Rato berasal dari bahasa Jawa ratu, yang jika ditarik lebih jauh lagi berakar dari bahasa Austronesia Purba dengan arti "pemimpin" atau "penguasa". Makna Filosofis: Rato merepresentasikan otoritas formal maupun informal (pemerintah atau pemimpin adat) yang mengatur ketertiban, hukum, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Secara harfiah, Bhuppa’-Bhâbhu’ Ghuru Rato berarti "Bapak-Ibu, Guru, dan Pemimpin". Struktur penulisan dan pengucapan peribahasa ini tidak diposisikan secara acak, melainkan diurutkan secara sosiologis berdasarkan derajat kedekatan emosional dan interaksi alamiah seorang manusia Madura sejak lahir hingga dewasa.

Seorang anak pertama-tama akan patuh kepada orang tuanya (Bhuppa'-Bhâbhu'), kemudian ketika ia mulai belajar, ia menyerahkan kepatuhannya kepada pendidik (Ghuru), dan pada akhirnya sebagai warga sosial, ia tunduk pada aturan hukum yang dipimpin oleh penguasa (Rato).

Dalam pemahaman umum masyarakat Madura, ketiga elemen ini merupakan triad otoritas yang wajib ditaati secara mutlak, selama tidak bertentangan dengan norma agama. Kepatuhan ini bersifat linier dan integratif. Artinya, seseorang yang berbakti kepada orang tuanya cenderung akan takzim kepada gurunya, dan secara otomatis menjadi warga negara atau masyarakat yang taat pada pemimpinnya. Falsafah ini menjadi jangkar moral yang kuat dalam menjaga harmoni, ketertiban, dan pelestarian nilai kultural di tanah Madura melintasi berbagai generasi.

 

Daftar Pustaka

Poerwadarminta, W. J. S. 1943. Kawi-Djarwa. Djakarta: Balé Poestaka.

0 comments:

Posting Komentar