03 Agustus 2026

, ,

CERITAKU, ADIK, DAN KUTU

 

Masa kecil kami sangat akrab dengan bermacam jenis hewan domestik. Ayam-ayam bersarang di samping rumah, bebek dan serati menempati kandang terbuka dekat pelimbahan. Kerbau berada sedikit lebih jauh—masih di area sekitar rumah, tetapi menempati petak tanah yang berbeda. Kami sendiri tidak punya kerbau; Ju’ èrèng[1] pemiliknya. Sapi? Kami juga tidak punya. Sawah berlumpur membuat kerbau menjadi penarik bajak dan luku yang jauh lebih ideal karena tenaganya berkali-kali lipat dari sapi. Sapi biasanya hanya dikandangkan.



Selain hewan-hewan yang berbiak dekat lingkungan kami, ada hewan lebih dekat dari yang tadi disebutkan. Coba terka apa? Laba-laba? Ya, laba-laba memang ada di dalam rumah, membuat sarang jaring yang kami sebut bâng-sabâng[2]. Kami menganggapnya kotoran yang wajib dibersihkan setiap tahun sebelum mengapur dinding. Namun, ada hewan lain yang jauh lebih dekat. Bahkan lebih dekat daripada orang tua sendiri: berada bersama kami selama 24 jam penuh sehari semalam. Hewan itu adalah kutu, atau koto dalam bahasa kami.

Ada banyak cerita tentang kutu ini. Hewan ini berpindah secara fisik dari satu kepala ke kepala lain melalui kontak kasih sayang, persaudaraan, atau pertemanan. Lewat relasi-relasi inilah lahir sebuah "institusi" yang disebut kelompok san-rasan. Ibu-ibu memiliki kegiatan rutin tak terjadwal di sela-sela pekerjaan domestik—atau bahkan pekerjaan luar. Dengan kedekatan dan kesepakatan tanpa perjanjian tertulis, mereka selalu menemukan cara untuk berkumpul dan saling mencari kutu. Dari keakraban inilah lahir rumor, cerita gosip tetangga, hingga kabar burung. Tak perlu dibuktikan kebenarannya, sebab kabar-kabar itu sekadar pengisi waktu. Yang terpenting adalah rasa keakrabannya; kutu hanyalah media penghubung.

Melalui kasih sayang orang tua pula kami akhirnya “memelihara” kutu dan memberi mereka makan dengan darah kami sendiri. Rasa gatal serta jemari yang cekatan menelusuri seluk-beluk rambut demi mencari telur kutu menjadi bagian dari rutinitas alamiah kami. Telur yang bernas (merras) akan kami gencet di antara dua kuku jempol hingga berbunyi. Sementara telur yang kosong kami sebut kèpa’—persis seperti istilah untuk bulir padi.

Bagian lain dari cerita kutu ini adalah bentol-bentol akibat gigitannya. Karena gatal, secara naluriah kami menggaruknya hingga timbul luka yang bernanah dan berkerak. Kami menyebut luka berkerak ini burca’. Kondisi ini kian diperparah oleh kurangnya kesadaran menjaga kebersihan. Saking banyaknya burca’ di kepala, saya dan adik laki-laki saya akhirnya digundul.

Kisah penggundulan ini melahirkan cerita unik. Rambut saya yang semula lembut berubah menjadi lebih tebal dan kaku setelah tumbuh kembali, sedangkan rambut adik saya yang ikal malah menjadi lurus. Bohong? Awalnya saya ragu, tetapi saya akhirnya percaya setelah melihat foto masa kecil adik yang memang berambut ikal.

Cerita tentang kutu memasuki babak baru ketika adik keempat kami lahir. Kepala adik keempat ini terbilang kecil. Namun, saat ia masih bayi, keanehan itu belum terlalu nampak. Seiring waktu, adik keempat ini tumbuh pesat. Meski tidak terlalu tinggi, kami bersaudara memiliki postur tubuh sedikit di atas rata-rata—termasuk adik keempat. Masalahnya, ketika tubuhnya makin tinggi dan besar, ukuran kepalanya tidak ikut tumbuh proporsional. Akibatnya, kepalanya terlihat sangat kecil. Bibi saya menyebut kondisi ini dhâstoma.

Kutu lagi? Iyakah? Kutu dalam bahasa Madura adalah koto, jadi ternyata berbeda. Dhâstoma adalah serapan dari bahasa Jawa, endhas tuma, yang secara harfiah berarti ‘kepala kutu’ (koto dari bahasa Melayu, sedangkan tuma dari bahasa Jawa). Seperti proporsi tubuh kutu, istilah dhâstoma menggambarkan tubuh yang besar dengan kepala yang sangat kecil.

Rangkaian cerita kutu saya pribadi baru benar-benar berakhir saat duduk di kelas 2 SMA. Kala itu, kutu di kepala saya tak kunjung hilang meski sudah digempur obat kutu terkenal seperti Peditox. Kata adik saya, Peditox terasa panas di kulit kepala dan hasilnya pun belum tentu berhasil. Saya akhirnya memilih eksperimen pribadi yang sebenarnya tanpa rencana: menggunakan sampo Clear. Setiap kali keramas, saya langsung membalur kepala dengan sampo dan tidak membilasnya hingga bilasan paling akhir. Di tengah proses memijat kepala, saya melihat kutu-kutu bertumbangan di tangan. Eksperimen ini saya lakukan berkali-kali hingga kutu di kepala benar-benar tumpas tak tersisa.

Beberapa tahun kemudian, riwayat kutu di keluarga kami dilanjutkan oleh Alin. Usut punya usut, kutu tersebut menular dari sepupunya (anak perempuan dari adik saya). Namun, riwayat kutu Alin tidak berlangsung lama. Episode penutupnya dilukis dengan cepat menggunakan kapur ajaib di sela-sela akar rambut. Istri saya melukisnya secara melintang sambil meyakinkan Alin agar tidak mengeluh. Maka, berakhirlah sudah riwayat panjang "dinasti kutu" yang telah mewarnai keluarga kami selama kurun waktu 40 tahunan.



[1] ju’ èrèng atau bhujuʼ èrèng ‘buyut samping’, yaitu saudara kandung dari buyut saya

[2] bâng-sabâng bentuk ulang berasal dari serapan Jawa sawang yang berarti jaring laba-laba

Continue reading CERITAKU, ADIK, DAN KUTU