Saya tidak mendeklarasikan sebuah fenomena general dalam bahasa Madura.
Saya hanya menyampaikan apa yang saya pahami dan alami. Tentang anjing dalam bahasa
Madura saya. Hewan yang di Madura dianggap "buruk" dan "hina".
Bahasa agamanya najis.
Namun, di balik kesan najis itu, ada lapisan-lapisan kata yang menyimpan sejarah
sosial, relasi kuasa, dan cara orang Madura memaknai dunia—termasuk melalui makhluk
yang mereka jauhkan.
Tiga Wajah Anjing dalam Kosakata Madura
Awalnya saya hanya kenal bhurus untuk anjing. Kata ini terdengar netral,
seperti sebutan teknis. Tak ada getaran emosi di dalamnya. Bhurus adalah
anjing sebagai benda, sebagai hewan peliharaan atau liar yang lewat di pinggir jalan.
Saya baru tahu kemudian bahwa makian patè' juga berarti anjing. Tapi patè'
terasa lebih tajam, lebih kasar, lebih "mengandung ludah".
Ada kata lain yang juga berarti anjing, khususnya anak anjing. Dalam bahasa
Madura disebut dengan bentuk ulang rè'-kerè'. Tentu ini serapan dari bahasa
Jawa kirik yang memiliki arti sama. Namun, dalam pengucapan Madura, ia mendapat
napas tersendiri—lebih mendesis, lebih terkesan "kecil tapi mengganggu".
Dari tiga kata ini, bhurus sebenarnya kurang memiliki makna kultural.
Hal ini terbukti dari jumlah ungkapan yang berisi kata ini. Ia hadir hanya sebagai
nama, tanpa ikatan peribahasa atau metafora. Sementara patè' dan rè'-kerè'
menjelma menjadi cermin moral.
Patè' dan Peribahasa: Anjing sebagai Cermin Manusia
Patè' memiliki beberapa peribahasa. Peribahasa tersebut
menjelaskan posisi anjing sebagai hewan dengan karakterisasi yang "negatif".
Tetapi jika kita baca lebih dalam, sebenarnya peribahasa itu sedang berbicara tentang
manusia—tentang pengkhianatan, keserakahan, dan kepengecutan yang kita kenali dalam
keseharian.
1. Dhâk-merdhik patè' takèpè' — "membebaskan
anjing terjepit". Ini menunjukkan sifat tidak tahu balas budi. Ia mengingatkan
kita pada pengalaman pahit: menolong seseorang dalam kesusahan, tapi ketika ia selamat,
ia justru melupakan atau bahkan mencelakakan kita. Anjing di sini bukan sekadar
hewan, tapi alegori tentang ingatan yang pendek dan hati yang keras.
2. Mara patè' arebbhu' tolang — "seperti anjing
berebut tulang". Dan Patè' kaaddhângan tètè — "anjing terhadang
titian". Keduanya menunjukkan ketamakan. Yang pertama tentang perebutan yang
kotor, yang kedua tentang bagaimana nafsu buta membuat seseorang terjebak dalam
kesempitan karena ia tak mau melepas apa yang diingini.
3. Patè' ataè è tomangnga — "anjing buang
kotoran di tungkunya sendiri". Ini menunjukkan sifat pengecut dari seorang
jago kandang—berani di rumah sendiri, tapi takut di luar. Saya merasa ini
salah satu kritik sosial paling tajam dalam budaya Madura: mengingatkan bahwa keberanian
palsu hanya akan memalukan diri sendiri.
Rè'-Kerè': Ketika Kecil Tetap Menjadi Ancaman
Rè'-kerè' tidak sekeras patè'. Namun kata ini juga berkonotasi
negatif. Dengan menyatakan ungkapan rè'-kèrè' bilâna — "anak anjing
baru lahir", seseorang yang dimaksud dianggap masih belum cukup umur untuk
urusan dewasa. Ia dianggap belum layak bicara, belum layak mengambil keputusan,
belum pantas dihormati. Ini menunjukkan bahwa dalam budaya Madura, usia dan pengalaman
adalah modal utama untuk mendapat tempat dalam percakapan publik.
Ada juga rè'-kèrè' sampè' dhâddhi patè' — "anak anjing sampai jadi
induk", yang menunjukkan sifat buruk yang tidak berubah. Ini seperti peringatan:
watak buruk yang dibawa sejak kecil, bila tak diperbaiki, akan menjadi kebiasaan
seumur hidup. Ia bukan lagi kesalahan masa muda, tapi sudah menjadi jati diri.
Antara Najis dan Nalar
Menariknya, dalam Islam—yang dianut mayoritas orang Madura—anjing memang najis
berat. Tapi masyarakat Madura tidak berhenti di situ. Mereka tidak sekadar menjauhi
anjing secara fisik; mereka juga membangun tata bahasa dan tata nilai di sekitarnya.
Anjing menjadi "yang lain" yang harus dijaga jaraknya, tetapi justru karena
jarak itulah ia bisa menjadi cermin.
Saya bertanya-tanya: apakah ada kata lain untuk anjing yang lebih lembut? Mungkin
di masa lalu ada, tapi tergusur oleh dominasi patè' dan rè'-kerè'
sebagai kata-kata makian dan hinaan. Bahasa itu hidup, dan yang bertahan adalah
kata-kata yang paling sering dipakai dalam interaksi sosial—termasuk kemarahan dan
ejekan.
Catatan Perbandingan: Anjing dalam Bahasa Lain
Sebagai pembanding, dalam bahasa Jawa, asu bisa netral, tapi juga bisa
makian. Dalam bahasa Sunda, anjing sering dipakai sebagai umpatan ringan.
Dalam bahasa Inggris, dog jarang menjadi makian, kecuali dalam frasa tertentu.
Tapi di Madura, patè' terasa lebih eksplosif—mungkin karena bunyinya yang
pendek dan berakhir dengan tekanan glotal, seperti ludahan yang tercekat di tenggorakan.
Penutup: Anjing sebagai Metafora yang Tak Pernah Usai
Mungkin inilah yang ingin saya sampaikan: bahwa bahasa tidak pernah netral.
Di balik setiap kata ada sejarah, ada luka, ada tawa, dan ada cara kita memaknai
dunia. Anjing dalam bahasa Madura bukan sekadar hewan. Ia adalah pintu masuk untuk
memahami bagaimana orang Madura membangun moral, mengukur dewasa, dan menegaskan
siapa yang pantas dihormati—dan siapa yang harus dijauhi.
Saya tidak mendeklarasikan sebuah fenomena general. Saya hanya menyampaikan
apa yang saya pahami dan alami. Tapi semakin saya menggali, semakin saya sadar:
bahwa kata-kata seperti patè' dan rè'-kerè' bukanlah akhir dari pemahaman,
melainkan awal dari tanya yang lebih dalam—tentang bagaimana kita menjadi manusia
melalui bahasa yang kita ucapkan, bahkan ketika kita sedang memaki.
0 comments:
Posting Komentar