Jika anjing dalam bahasa Madura hadir sebagai cermin moral yang gelap—tentang pengkhianatan, ketamakan, dan kepengecutan—dan ayam menjadi kanvas budaya yang kaya akan etos kerja, kritik sosial, dan pengakuan atas kodrat manusia, maka jagung (jhâghung) menempati posisi yang tak kalah penting. Jagung bukan sekadar komoditas pangan; ia adalah metafora tentang kehidupan, perjuangan, nasib, dan hubungan antarmanusia yang dekat dengan tanah.
Dalam bahasa Madura, kosakata
tentang jagung tidak sekadar menyebut nama tanaman. Ia menjelma menjadi
kumpulan peribahasa yang mengajarkan tentang kerja keras, kewaspadaan,
kesabaran, hingga ironi nasib. Jagung menjadi bahasa untuk berbicara tentang
strategi bertahan hidup, tentang harapan yang kadang kandas, dan tentang
bagaimana orang Madura memaknai waktu, usaha, dan hasil.
Jagung dan Waktu: Nasihat
tentang Kesabaran
Salah satu peribahasa yang paling
mengena adalah Jhâ’ jhâgung pobu ojhânna, ta’ abit kiya omorra —
"jangan jagung ditanam masa penghujan, tak lama umurnya." Ini adalah
peringatan tentang pentingnya memilih waktu yang tepat. Menanam jagung di musim
hujan memang mungkin, tapi hasilnya tidak akan maksimal; tanaman akan cepat
layu dan mati sebelum berbuah. Namun, peribahasa ini memiliki lapisan makna
yang lebih dalam: ia adalah nasihat tentang pendidikan anak. "Jangan
terlalu menurutkan kehendak anak karena angin-anginan sehingga hasilnya tidak
baik." Seperti jagung yang ditanam di musim yang salah, anak yang
dibiarkan mengikuti keinginannya tanpa arahan akan tumbuh tanpa pondasi yang
kuat, cepat rusak, dan tidak pernah mencapai potensinya.
Ini adalah kritik halus terhadap
pola asuh yang terlalu memanjakan. Orang Madura mengajarkan bahwa kasih sayang
harus dibarengi dengan ketegasan, seperti halnya menanam jagung membutuhkan
perhitungan musim yang cermat.
Pertumbuhan dan Harapan:
Anak Kecil yang Cepat Besar
Peribahasa Akanṭa jhâghung marè èghurâ’ — "seperti jagung
telah digemburkan tanahnya" — digunakan untuk menggambarkan anak kecil
yang sangat cepat tumbuh besar. Ini adalah pengakuan akan keajaiban
pertumbuhan, tapi juga pengingat bahwa pertumbuhan fisik yang cepat harus
diimbangi dengan bimbingan moral. Tanah yang gembur adalah simbol kesiapan;
anak yang tumbuh cepat adalah berkah, namun tetap membutuhkan perawatan agar
tidak tumbuh liar.
Usaha Sampingan dan Hasil
yang Tak Terduga
Nanem jhâghung labân
arta’ —
"menanam jagung dan kacang hijau" — menggambarkan pekerjaan sambilan
yang menghasilkan lebih besar daripada pekerjaan utama. Ini adalah cermin dari
realitas sosial Madura: bahwa terkadang, jalan hidup tidak selalu lurus. Orang
yang rajin dan kreatif, yang tidak bergantung pada satu sumber penghidupan
saja, justru akan menuai hasil yang melimpah. Jagung dan kacang hijau adalah
simbol diversifikasi, sebuah nasihat agar tidak pernah menaruh semua harapan
pada satu hal.
Musim Kemarau dan
Kegagalan yang Diterima
Nanem jhâghung panèmoran — "(seperti)
menanam jagung di musim kemarau" — adalah gambaran tentang usaha yang
hasilnya tidak seberapa. Ini adalah pengakuan realistis bahwa tidak semua kerja
keras berbuah manis. Ada kalanya alam tidak berpihak, ada kalanya usaha kita
sia-sia. Namun, peribahasa ini tidak bernada putus asa; ia justru mengajarkan
ketabahan. Menanam di musim kemarau adalah tindakan berani, meskipun hasilnya
kecil. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu adil, tapi kita tetap harus
berusaha.
Ironi Modal dan Hasil
yang Kosong
Peribahasa yang paling pahit
adalah Nanem jhâghung ta’ kalowar tongghul balakka —
"(seperti) menanam jagung (tapi) tak keluar meski hanya tongkolnya
saja." Ini adalah gambaran tentang usaha yang memakan banyak modal tapi
tidak menghasilkan apa-apa. Seperti petani yang mencurahkan tenaga, waktu, dan
biaya untuk menanam jagung, tetapi pada saat panen, tidak ada satu tongkol pun
yang muncul. Ini adalah sindiran pedas bagi mereka yang gagal dalam
usahanya—bukan karena malas, tapi karena nasib atau kesalahan perhitungan.
Namun, di balik kepahitan itu, ada pesan agar kita tidak mudah menyerah.
Kegagalan adalah bagian dari proses, dan orang Madura diajarkan untuk bangkit
kembali, meskipun kadang harus memulai dari nol.
Penutup: Jagung, Cermin
Pekarangan dan Perjuangan
Mungkin inilah yang ingin saya
sampaikan: bahwa bahasa tidak pernah netral. Di balik setiap kata jhâghung dan
peribahasa yang mengiringinya, terhampar pengalaman kolektif orang Madura dalam
menghadapi hidup. Jika anjing adalah "yang lain" yang dijaga
jaraknya, dan ayam adalah hewan pekarangan yang akrab dan penuh filosofi, maka
jagung adalah tanaman yang tumbuh di ladang, dekat dengan keringat dan harapan.
Jagung mengajarkan kita tentang
waktu—bahwa tidak semua musim baik untuk menanam. Ia mengajarkan tentang kerja
keras, tentang diversifikasi usaha, tentang menerima kegagalan, dan tentang
bangkit kembali. Ia adalah metafora tentang kehidupan petani, tentang
perjuangan rakyat kecil yang setiap hari bergulat dengan tanah, cuaca, dan
nasib.
Dari data kamus ini, kita belajar bahwa bahasa adalah sistem nilai yang hidup. Melalui jagung, orang Madura tidak hanya berbicara tentang tanaman, tetapi juga tentang diri mereka sendiri—tentang keinginan untuk hidup layak, tentang ketakutan akan kegagalan, dan tentang harapan yang tak pernah padam. Jagung, dengan segala peribahasanya, telah menjadi guru yang diam, yang ajarannya terus bergema dalam setiap generasi, mengingatkan kita bahwa untuk memahami sebuah budaya, terkadang kita harus mulai dari melihat ke ladang dan mendengarkan bisik batang jagung yang bergoyang tertiup angin.

0 comments:
Posting Komentar