25 Agustus 2026

, , ,

MADURA DAN AYAM: DARI HARIAN KE FILOSOFI, CERMIN BUDAYA YANG HIDUP

Bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah cermin peradaban. Di balik setiap kata, terdapat lapisan sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat penuturnya. Dalam bahasa Madura, pembahasan tentang hewan sering kali melampaui ranah biologis dan menjelma menjadi metafora kehidupan yang kaya. Jika anjing—dengan segala konotasi negatifnya sebagai makhluk najis (bhurus), makian kasar (patè’), atau penggambaran sifat kecil dan mengganggu (rè'-kerè')—menjelma menjadi cermin moral untuk menggambarkan pengkhianatan, ketamakan, dan kepengecutan, maka lain halnya dengan ajâm (ayam). Ayam hadir dengan wajah yang jauh lebih kompleks dan multidimensional. Ia bukan sekadar unggas peliharaan yang menyediakan telur dan daging, atau hewan yang mengisi riuh pagi hari di pedesaan Madura; ia adalah sebuah kanvas budaya tempat orang Madura melukiskan filosofi hidup, etika sosial, kritik kekuasaan, hingga representasi takdir dan sifat dasar manusia.

Ilustrasi Ayam Bahasa Madura
ilustrasi dibuat dengan bantuan Gemini AI

1. Kekayaan Kosakata: Lebih dari Sekadar Unggas

Berbeda dengan kata untuk anjing yang relatif miskin variasi teknis-morfologis, kosakata untuk ayam dalam bahasa Madura memperlihatkan kekayaan pengamatan masyarakat terhadap alam sekitarnya. Kata dasar ajâm memang netral, namun dari akar kata ini lahir variasi penamaan fisik yang luar biasa detail:

  • Ajâm bâlik / Ajâm surung: Merujuk pada ayam yang memiliki lengkung bulu terbalik (ayam walik).
  • Ajâm camara: Sebutan untuk ayam dengan bulu yang hanya terdiri atas batang tanpa lembaran, sehingga tampak seperti daun cemara, bulu landak, atau bulu lidi.
  • Jâm-ajâmann: Nama untuk burung ayam-ayaman (Gallicrex cinerea), menunjukkan kemampuan bahasa untuk mengklasifikasi dunia alam.

Yang lebih menarik lagi adalah hadirnya verba jâm-ngajâmè yang berarti 'memprovokasi' atau 'memanas-manasi'. Ini menunjukkan bahwa perilaku ayam—yang kerap terlihat adu jantan dan saling menguji keberanian—telah diadopsi secara langsung ke dalam tata bahasa sosial Madura. Ayam tidak hanya diamati, tetapi cara bertingkahnya menjadi pola untuk menggambarkan interaksi antarmanusia, terutama dalam situasi konflik dan persaingan.

2. Peribahasa Ayam: Dari Etika Kerja hingga Sindiran Sosial

Jika peribahasa tentang anjing banyak memotret sisi gelap moral seperti pengkhianatan dan kepengecutan, maka peribahasa tentang ajâm menjadi medium untuk menyampaikan beragam pesan: dari etos kerja, kritik sosial, hingga pengingat akan kodrat manusia.

Etos Kerja dan Perjuangan

Salah satu peribahasa yang paling fundamental adalah Ajâm mon ngakana ghi’ ngarkar kaaḍâ’, yang berarti "ayam ketika hendak makan mencakar tanah dahulu." Peribahasa ini, yang senada dengan "tiada mengais tiada makan," adalah nasihat moral yang mengakar tentang prinsip bahwa setiap pencapaian—sekecil apa pun—harus diraih dengan kerja keras dan perjuangan. Ini adalah etos dasar masyarakat Madura: rezeki tidak datang secara cuma-cuma.

Keberanian Rakyat Kecil dan Keadilan

Peribahasa Ajâm katè ta' kala kalèṭṭègghâ ("ayam katai tidak kalah gemerusuknya") mengandung pesan yang sangat revolusioner. Ia menyatakan bahwa untuk membela kebenaran, orang kecil atau rakyat biasa akan memberikan perlawanan yang sama gigihnya dengan orang besar. Ini adalah kritik sosial yang halus namun tajam, sebuah pengingat bahwa martabat dan keberanian tidak diukur dari status, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan dari kebenaran hati dan keyakinan.

Sindiran kepada Penguasa dan Keserakahan
  • Ajâm atellor è bherrâs ("ayam bertelur di beras") adalah sindiran pedas bagi pejabat atau mereka yang suka menerima suap. Metafora ini gamblang: seperti ayam yang mengotori beras bersih dengan telurnya, para pejabat korup mengotori kepercayaan publik dengan keserakahan mereka.
  • Ajâm mate è padhâringan ("ayam mati di tempat menyimpan beras") menggambarkan ironi pahit dari sifat serakah. Mati di tengah kelimpahan makanan adalah perumpamaan bagi orang yang tak pernah puas, yang merasa selalu kekurangan meski telah dikelilingi harta. Ini adalah peringatan bahwa keserakahan adalah jalan menuju kehancuran diri sendiri.
Anomali, Keputusasaan, dan Kodrat Manusia
  • Ajâm tokkong mènta bunto’ / monteng ("ayam buntung/kutung minta ekor/tulang ekor") menggambarkan situasi putus asa atau orang yang menginginkan hal yang mustahil.
  • Mon ajâm ghi' endâ’ ka jhâghung ("jika ayam, tentu masih suka pada jagung") adalah pengakuan realistis tentang sifat alami manusia. Ini menyiratkan bahwa meskipun telah berilmu atau berstatus tinggi, manusia pada dasarnya rentan terhadap godaan duniawi seperti harta, kedudukan, dan wanita. Ini bukan untuk membenarkan kelemahan, melainkan untuk mengingatkan agar selalu waspada.
  • Ajâm mènta sasengngèt ("ayam meminta rempah-rempah") adalah perumpamaan bagi orang yang secara sadar mengundang bahaya atau mencelakakan dirinya sendiri.

3. Ayam, Takdir, dan Dinamika Sosial

Selain pesan moral, ayam juga digunakan untuk memotret dinamika sosial, gender, dan takdir.

  • Ajâm sapatarangan ta' padâ buluna ("ayam sepeteluran tidak sama bulunya") adalah pengakuan bijak tentang perbedaan. Bahkan saudara sekandung pun memiliki watak dan jalan hidup yang berbeda. Ini adalah nasihat untuk menerima perbedaan sebagai sebuah keniscayaan.
  • Mara ajâm ngèrremmè ("seperti ayam sedang mengerami") adalah perumpamaan yang mengejutkan untuk menggambarkan perempuan yang sangat kejam, bengis, atau pemarah. Kemarahan hebat pada perempuan sering dikaitkan dengan insting protektif ayam betina, namun dilebih-lebihkan hingga menjadi konotasi negatif.
  • wa-towa ajâm ("tuanya seperti ayam") justru merupakan pujian. Ini menunjukkan bahwa semakin tua seseorang, semakin cantik atau tampan, seperti ayam jantan yang bulunya semakin indah seiring bertambahnya usia.
  • Ajâm atellor emmas ("ayam bertelur emas") menggambarkan orang kaya yang tidak pernah kekurangan.
  • Kabbhina ajam asoko duwa' ("semua ayam berkaki dua") adalah pernyataan faktual yang digunakan untuk menekankan bahwa sesuatu memang sudah semestinya dan tak perlu diperdebatkan lagi.

Penutup: Ayam, Cermin Pekarangan Jiwa

Mungkin inilah yang ingin saya sampaikan: bahwa bahasa tidak pernah netral. Di balik setiap kata ajâm dan idiom yang menyertainya, terhampar kearifan lokal yang mendalam. Jika anjing sering diposisikan sebagai "yang lain," sebuah pembanding moral yang negatif dan dijaga jaraknya, maka ayam berada tepat di dalam pekarangan rumah orang Madura—dekat, akrab, dan dihayati. Ia bukan sekadar hewan ternak, melainkan sebuah pusaka budaya yang mengajarkan etos kerja (ngarkar), mengkritik ketidakadilan, menyindir keserakahan, dan menerima keberagaman.

Dari data kamus ini, kita belajar bahwa bahasa adalah sistem nilai yang hidup. Melalui hewan-hewan di sekitar mereka, orang Madura tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga berbicara tentang diri mereka sendiri—tentang keinginan, ketakutan, dan harapan mereka. Ayam, dengan segala tingkah lakunya, telah menjadi guru yang diam, yang ajarannya terus bergema dalam setiap peribahasa yang diwariskan turun-temurun, mengingatkan kita bahwa untuk memahami sebuah budaya, terkadang kita harus mulai dari mendengarkan kokok ayam di pekarangannya.

0 comments:

Posting Komentar