Masa kecil kami sangat akrab dengan bermacam jenis hewan domestik.
Ayam-ayam bersarang di samping rumah, bebek dan serati menempati kandang terbuka
dekat pelimbahan. Kerbau berada sedikit lebih jauh—masih di area sekitar rumah,
tetapi menempati petak tanah yang berbeda. Kami sendiri tidak punya kerbau; Ju’
èrèng[1]
pemiliknya. Sapi? Kami juga tidak punya. Sawah berlumpur membuat kerbau menjadi
penarik bajak dan luku yang jauh lebih ideal karena tenaganya berkali-kali
lipat dari sapi. Sapi biasanya hanya dikandangkan.
Selain hewan-hewan yang berbiak dekat lingkungan kami, ada hewan lebih
dekat dari yang tadi disebutkan. Coba terka apa? Laba-laba? Ya, laba-laba
memang ada di dalam rumah, membuat sarang jaring yang kami sebut bâng-sabâng[2].
Kami menganggapnya kotoran yang wajib dibersihkan setiap tahun sebelum mengapur
dinding. Namun, ada hewan lain yang jauh lebih dekat. Bahkan lebih dekat
daripada orang tua sendiri: berada bersama kami selama 24 jam penuh sehari
semalam. Hewan itu adalah kutu, atau koto dalam bahasa kami.
Ada banyak cerita tentang kutu ini. Hewan ini berpindah secara fisik dari
satu kepala ke kepala lain melalui kontak kasih sayang, persaudaraan, atau
pertemanan. Lewat relasi-relasi inilah lahir sebuah "institusi" yang
disebut kelompok san-rasan. Ibu-ibu memiliki kegiatan rutin tak
terjadwal di sela-sela pekerjaan domestik—atau bahkan pekerjaan luar. Dengan
kedekatan dan kesepakatan tanpa perjanjian tertulis, mereka selalu menemukan
cara untuk berkumpul dan saling mencari kutu. Dari keakraban inilah lahir
rumor, cerita gosip tetangga, hingga kabar burung. Tak perlu dibuktikan
kebenarannya, sebab kabar-kabar itu sekadar pengisi waktu. Yang terpenting
adalah rasa keakrabannya; kutu hanyalah media penghubung.
Melalui kasih sayang orang tua pula kami akhirnya “memelihara” kutu dan
memberi mereka makan dengan darah kami sendiri. Rasa gatal serta jemari yang
cekatan menelusuri seluk-beluk rambut demi mencari telur kutu menjadi bagian
dari rutinitas alamiah kami. Telur yang bernas (merras) akan kami gencet
di antara dua kuku jempol hingga berbunyi. Sementara telur yang kosong kami
sebut kèpa’—persis seperti istilah untuk bulir padi.
Bagian lain dari cerita kutu ini adalah bentol-bentol akibat gigitannya.
Karena gatal, secara naluriah kami menggaruknya hingga timbul luka yang
bernanah dan berkerak. Kami menyebut luka berkerak ini burca’. Kondisi
ini kian diperparah oleh kurangnya kesadaran menjaga kebersihan. Saking
banyaknya burca’ di kepala, saya dan adik laki-laki saya akhirnya
digundul.
Kisah penggundulan ini melahirkan cerita unik. Rambut saya yang semula
lembut berubah menjadi lebih tebal dan kaku setelah tumbuh kembali, sedangkan
rambut adik saya yang ikal malah menjadi lurus. Bohong? Awalnya saya ragu,
tetapi saya akhirnya percaya setelah melihat foto masa kecil adik yang memang
berambut ikal.
Cerita tentang kutu memasuki babak baru ketika adik keempat kami lahir.
Kepala adik keempat ini terbilang kecil. Namun, saat ia masih bayi, keanehan
itu belum terlalu nampak. Seiring waktu, adik keempat ini tumbuh pesat. Meski
tidak terlalu tinggi, kami bersaudara memiliki postur tubuh sedikit di atas
rata-rata—termasuk adik keempat. Masalahnya, ketika tubuhnya makin tinggi dan
besar, ukuran kepalanya tidak ikut tumbuh proporsional. Akibatnya, kepalanya
terlihat sangat kecil. Bibi saya menyebut kondisi ini dhâstoma.
Kutu lagi? Iyakah? Kutu dalam bahasa Madura adalah koto, jadi
ternyata berbeda. Dhâstoma adalah serapan dari bahasa Jawa, endhas
tuma, yang secara harfiah berarti ‘kepala kutu’ (koto dari bahasa
Melayu, sedangkan tuma dari bahasa Jawa). Seperti proporsi tubuh kutu,
istilah dhâstoma menggambarkan tubuh yang besar dengan kepala yang
sangat kecil.
Rangkaian cerita kutu saya pribadi baru benar-benar berakhir saat duduk di
kelas 2 SMA. Kala itu, kutu di kepala saya tak kunjung hilang meski sudah
digempur obat kutu terkenal seperti Peditox. Kata adik saya, Peditox terasa
panas di kulit kepala dan hasilnya pun belum tentu berhasil. Saya akhirnya
memilih eksperimen pribadi yang sebenarnya tanpa rencana: menggunakan sampo
Clear. Setiap kali keramas, saya langsung membalur kepala dengan sampo dan
tidak membilasnya hingga bilasan paling akhir. Di tengah proses memijat kepala,
saya melihat kutu-kutu bertumbangan di tangan. Eksperimen ini saya lakukan
berkali-kali hingga kutu di kepala benar-benar tumpas tak tersisa.
Beberapa tahun kemudian, riwayat kutu di keluarga kami dilanjutkan oleh
Alin. Usut punya usut, kutu tersebut menular dari sepupunya (anak perempuan
dari adik saya). Namun, riwayat kutu Alin tidak berlangsung lama. Episode
penutupnya dilukis dengan cepat menggunakan kapur ajaib di sela-sela akar
rambut. Istri saya melukisnya secara melintang sambil meyakinkan Alin agar
tidak mengeluh. Maka, berakhirlah sudah riwayat panjang "dinasti
kutu" yang telah mewarnai keluarga kami selama kurun waktu 40 tahunan.

0 comments:
Posting Komentar