Muhri
Berbicara sastra Bangkalan selalu berbicara tentang
pertumbuhan karya. Pertumbuhan karya tidak mungkin terlepas dari kerja-kerja
kebudayaan yang berkaitan dengan regenerasi dalam bingkai visi kebudayaan masa
depan. Pertanyaan yang muncul kemudian. “Apakah identitas khusus sastra
Bangkalan?”, “Bagaimana sastra Bangkalan tercipta?”, dan “Untuk apa atau apa
guna sastra Bangkalan diciptakan?”.
Sastra Bangkalan lahir dalam komunitas seni yang plural.
Komunitas ini lahir di sekolah dan kampus. Komunitas-komunitas ini kemudian berkembang
menjadi komunitas mandiri yang memiliki manajemen mandiri. Sebab lahir dalam
dunia akademis, sastra Bangkalan sebagian besar ditulis masa sekolah atau masa
kuliah. Jumlah per tahunnya pun fluktuatif. Dalam masa kurang lebih 27 tahun
puncak penulisan sastra ada pada dekade kedua abad ke-21, terutama masa antara
2016-2017. Jumlah tersebut bersamaan dengan gelaran Festival Puisi Bangkalan 1
& 2 yang diselenggarakan Komunitas Masyarakat Lumpur. Rata-rata penerbitan
pertahun tercatat di angka 5 buku, dengan dukungan puncak penerbitan 2016 &
2017. Bagaimana dengan penerbitan tahun-tahun terakhir?
Berdasarkan data grafik di atas dalam 6 tahun terakhir
terdapat rata-rata 2,5 penerbitan.
Catatan ini tidak mempertimbangkan kualitas sastra,
misalnya Abdur Rohman yang menulis dalam satu tahun 3 buku puisi. Buku yang
memperoleh prestasi dalam ajang lomba hanya Burdah karya Eko Sabto
Utomo, penulis generasi ketiga yang masih aktif menulis sampai hari ini.
Ditinjau dari jenis sastra dari 2021-2025 hampir tidak ada
naskah drama ditulis. Satu naskah drama yang ditulis Putra Mulya Nurjaya adalah
Sendèlan Madhurâ dengan judul Bhâk-Tebbhâghân. Drama ini
merupakan proyek hibah Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
Selain itu ada Lèng-Ngalèng Bunto’na Tèkos dengan konsep Sendèlan
Madhurâ juga.
Prosa pun tidak kalah memprihatinkan. Hanya ada tiga buku
prosa dalam rentang tersebut yaitu Paraban Tuah (cerpen) oleh Elok Teja
Suminar, Mas, Jemput Aku Jam Sembilan Nanti Malam (Cerpen) oleh Muhri,
dan Berlibur ke Kampung Batik Madura (cerita anak) oleh Buyung Pambudi.
Buku puisi yang pernah terbit antara 2021-2026 sebanyak 10
buku. Buku tersebut ditulis oleh beberapa pengarang: Salman alfarisi 1 buku,
Muhlis Alfirmany 1, R. Dian Kunfillah 2 buku, Eko Sabto Utomo 1 buku,
Syarifuddin Dea 1 buku, Sofiyulloh 1 satu buku, dan Abdurrohman 3 buku.
Apakah jumlah tersebut sedikit? Tercatat angka rata-rata 2,5
karya per tahun jika dihitung mulai 2021-2026. Apakah ini banyak atau sedikit?
Sebagai tolok ukur, rata-rata karya mulai 1998-2026 tercetak 5 karya per tahun.
Angka rata-rata 5 ini juga bukan menunjukkan bahwa rentang-rentang waktu
sebelumnya juga sejumlah itu. Angka tersebut dipengaruhi oleh pesatnya
penerbitan pada 2016 dan 2017 yang jumlahnya 52,23 % dari semua karya yang
pernah terbit. Dengan demikian jelas bahwa menentukan sastra Bangkalan makin
sepi atau tidak bukan perkara yang sederhana. Pertama tolok ukur sepi atau
ramai untuk sastra Bangkalan tidak memiliki patokan yang jelas.
Secara aksiologis, motif kepenulisan di Bangkalan tidak
merata atau masih terpusat pada satu bagian saja. Dengan motif-motif berikut
bisa dikaji motif penulis Bangkalan melakukan gerakan menulis.
1.
Egoisme yang Murni
(Pure Egoism)
2.
Antusiasme Estetis
(Aesthetic Enthusiasm)
3.
Dorongan Historis (Historical
Impulse)
4.
Tujuan Politis (Political
Purpose)
5.
Katarsis dan Terapi
Psikologis (Catharsis)
6.
Eksplorasi
Eksistensial dan Filosofis
7.
Keinginan Membangun
Koneksi dan Empati
8.
Pelarian (Escapism)
dan Penciptaan Dunia Baru[1]
Dalam pengamatan saya saat bergaul dengan sastra
Bangkalan, motif Egoisme Murni (1.). masih merupakan motif dominan. Salah satu
indikatornya puisi liris yang menjadi “penguasa” ruang sastra. Sebagian besar
penulis sastra Bangkalan adalah penulis pemula yang hanya menulis dalam rentang
waktu singkat antara satu tahun sampai tiga tahun. Mereka meninggalkan
tulis-menulis begitu keluar dari komunitas atau lulus dari kampus.
Motif-motif lomba (7.) juga menjadi salah satu indikator
motif yang cukup mengemuka. Banyak karya-karya, terutama antara 2010-2020 yang
diciptakan dengan motif spesifik untuk lomba. Tema yang diangkat mengikuti tema
lomba. Rentang penciptaan biasanya antara pengumuman sayembara sampai akhir
pendaftaran. Salah satu karya “terbaru” yang memiliki motif ini adalah Burdah
karya Eko Sabto Utomo. Karya ini merupakan karya favorit dalam Lomba Cipta
Naskah Buku Puisi Tunggal tentang Kanjeng Nabi Muhammad Saw.[2]
Motif ini juga merupakan motif utama naskah drama antara
2011-2020. Motif ekspresif pada 2001–2010-an. Tokoh utama drama Suro Wahono
dengan “Negoro Lesmono” dan M. Helmy Prasetya dengan beberapa naskah yang
dipentaskan dalam berbagai event.
Motif tujuan politis (4.) merupakan motif yang jarang
ditemukan dalam perkembangan sastra Bangkalan. Hampir tidak ada puisi-puisi
yang peka sosial-politik. Salah satu penulis yang berkelindan dengan motif
politik adalah Syarifuddin Dea[3].
Hal ini bisa ditemukan pada beberapa karya, diantaranya Catatan Penyair
Sudra. Selain itu, ada Moh. Ridlwan dalam kumpulan puisi Di Balik Kaca.
Yang menarik puisi Joko Sucipto yang cenderung berisi
tentang pelarian pada dunia masa kecil dan kegelisahan-kegelisahan terhadap
dunia sekitar (8.). Ada dua karya yang menarik yaitu Klonnong[4]
dan Lomba Azan Maghrib. Khusus untuk Klonnong, puisi ini juga
memiliki motif (7.).
Berdasarkan dinamika fluktuasi data tersebut, sepi atau
ramainya sastra Bangkalan pada akhirnya tidak bisa hanya diukur dari angka
penerbitan semata. Selama motif-motif kepenulisan yang beragam belum sepenuhnya
digali dan dihidupkan, sastra Bangkalan akan tetap berjalan di tempat,
didominasi oleh egoisme murni para penulisnya. Tantangan bagi generasi hari ini
adalah bagaimana mentransformasikan gerakan menulis tersebut dari sekadar
pelepas ego atau formalitas akademis, menjadi kerja kebudayaan yang lebih utuh
demi visi kebudayaan masa depan.

0 comments:
Posting Komentar