30 Maret 2026

, ,

ANAK-ANAK YANG MEMBUNUH KATA: TENTANG TANGGHÂ, GHUSONG, DAN TEBBHÂNG

ilustrasi dibuat dengan Gemini AI


Memiliki anak yang lucu adalah kebahagiaan yang dirasakan hampir semua orang tua. Saya tidak terkecuali. Anak pertama laki-laki lahir dalam masa studi S2 saya di Yogyakarta. Ia lahir tahun akhir tahun 2008. Abdullah Afaf Hamdani namanya. Adiknya, menyusul tiga tahun kemudian. Alina Rahma nama yang saya berikan. Nama yang dibubuhi doa semoga dia disayang Tuhannya.

Mereka lahir di lingkungan dengan masyarakat berpendidikan SMA ke atas. Tinggal di lingkungan yang makhluk kecil itu diajak berbahasa Indonesia. Meski dalam pengucapannya sarat dengan madura dalam logat dan suara. Apa yang diharapkan orang tua yang jarang membaca dan sehari-hari berbahasa Madura?

Lalu mengapa memaksa anak berbahasa Indonesia sebagai bahasa pertama? Entahlah. Alasan yang sering saya dengar, misalnya, karena di TK diajar dengan bahasa Indonesia. Di SD apa lagi. Sejak kelas satu. Selain itu mungkin berusaha naik kelas. Seolah-olah yang berbahasa daerah Madura berasal dari golongan yang bekerja di sektor informal sedang yang berbahasa Indonesia orang elit yang bekerja di sektor formal. Fenomena ini sering ditemui di daerah perkotaan. Dan, tempat tinggal kami di area dekat kota kecamatan dan dekat pula dengan jalan nasional.

Berada di tengah-tengah lingkungan seperti itu, kedua anak saya mengambang dalam kegamangan. Dengan lingkungan yang berbahasa Indonesia, serapan bahasa Madura mereka terbatas dan lambat. Dalam keterbatasan itu, kreativitas anak-anak dengan kosa kata terbatas menerabas batas.

Ada suatu ketika bola plastik yang dimainkannya melenting dan nyangkut di atap. Dengan wajah yang tetap berseri ia berkata, “Pa, nyangsang. Kala’aghi, Pa?

Lo’ mattol, Cong.

Ngangghuy tangghâ, Pa.[1]

Tangghâ dengan akhir [h] khas bangkalan. Ya, tangghâ maksudnya tangga. Bukan andhâ yang merupakan kosa kata yang benar untuk tangga. Tangghâ merupakan adaptasi darurat dari bahasa Indonesia sebab tak ada kata andhâ di gudang kepalanya.

Di waktu yang lain ia komplain. Pohon tempat ia biasa bermain ayunan ditebang. Di bawah pohon itu dia bermain tanah dengan sendok dan mangkok melamin. Ia berkata, “Pa, bhungkana pao juwa mè’ ètebbhâng?”

Ètebbhâng? Èpogher, Cong.” Kata saya. Mengoreksi.

Iyâ, Pa. Èparobbhu.”[2]

Ètebbhâng merupakan adaptasi dari kata “ditebang”. Kata ini tidak ada dalam bahasa Madura. Kata yang aktif di daerah saya èpogher. Rupanya, dengan keterbatasan kosakata yang disimpan, ia mengkonstruksi kosa kata bahasa Indonesia menjadi bahasa Madura.

Dan yang lucu baru-baru ini. Adiknya yang perempuan memasak telur. Sebab tampak janggal dengan penglihatan minus saya, saya bertanya.

Jhuko’ apa jiya, Lin?

Tellor, Pa. Kèng ghusong.

Ghusong? Angos, Lin.[3]

Meski “hangus” diadaptasi menjadi angos dalam bahasa Madura, ghusong yang diadaptasi dari “gosong” tidak pernah ada dalam perbendaharaan bahasa Madura.

Cerita ini fragmen dalam bahasa Madura yang terancam mengarah ke “Maduraisasi” bahasa Indonesia. Mungkin ketiga kata ini akan diselamatkan oleh anak-anak ini bersamaan dengan interaksi komunikasi yang makin luas, namun banyak kata yang dibunuh oleh generasi penerus sebab mereka tak lagi mendengar kaprah kata-kata yang dulu pernah ada. Solusi kreatif adaptasi bahasa serumpun akan memperkaya repertoar bahasa dengan syarat tidak menguburkan kata lama yang asli dan lokal. Apalagi,dalam kondisi tidak ada leksikograf yang sempat menulis nisan kata-kata itu dalam pemakaman kata arkais dalam kamusnya.



[1] Terjemahan: “Pa, nyangkut. Ambilkan, Pa? / Tak terjangkau, Cong. / Pakai tangga, Pa. ”

[2] Terjemahan:“Pa, pohon mangga itu kok ditebang?”/“ètebbhâng? Epogher, Cong.”/“Iya, Pa. dirobohkan.”

[3] Terjemahan: “Ikan apa itu, Lin.”/ “Telur, Pa. Tapi gosong.”/“Gosong? Hangus, Lin.”

0 comments:

Posting Komentar