Muhri
Ya. Anda tidak salah. Menghitung takbir. Tapi ini bukan
soal takbir malam Idulfitri dan Iduladha antara Muhammadiyah dan NU. Meskipun
sebenarnya bukan NU dan Muhammadiyah yang selalu berhadapan. Muhammadiyah
bertakbir dua kali sebelum lafaz tahlil. NU tiga kali sebelum tahlil. Ini tentang
takbiratul Ihram.
Ceritanya, ada seorang sesepuh yang menjadi imam di Masjid
Langkap Barat (MLB). Kita sebut saja Haji Badar. Ia salah satu yang mengerti
agama di masanya. Katanya, ia sering mustamè’an di Jambu. Kurang lebih maksudnya
ikut mendengar pengajian. Dan jambu merujuk pesantren besar satu-satunya di
desa Jambu, Burneh.
Pada prinsipnya, kami remaja yang biasa tidur atau
menginap di MLB menghormati beliau sebagai sesepuh. Cium tangan saat berjumpa. Mengagguk
hormat sebagai takzim. Juga semua unggah-ungguh yang lain.
Semua berjalan sebagaimana mestinya. Normal. Biasa. Tak ada
masalah. Sampai otak kritis saya menemukan satu fakta menggelitik.
“Allahu akbar” seperti umumnya takbir. Tapi, tangan yang
telah diangkat itu tidak segera bersedekap. Ia kembali dalam posisi standby
untuk takbir lagi. Tidak pasti berapa kali beliau takbir saat memulai salat
pada tiap salatnya. Teman-teman yang lain enjoy saja.
Jiwa heroik saya tidak terima. Ini prinsip. Menyangkut sah
atau tidaknya salat. Dan saya yang tahu harus, wajib, mengingatkan. Saya ingat pernah
mengaji Kifāyat al-Akhyār. Dalam kitab itu, takbiratulihram adalah iftitāh
atau pembuka. Dan tidak mungkin membuka satu pintu dua kali. Artinya, takbir
pertama membuka, takbir kedua menutup, dan takbir ketiga membuka lagi. Intinya,
takbir ganjil membuka, takbir genap menutup.[1]
Saya pun mengingatkan teman-teman. Kemampuan provokatif
saya rupanya efektif. Masuk. Kena.
“Percuma kalian salat jika bermakmum pada imam yang batal”
kataku.
Selanjutnya memberi arahan untuk menghitung berapa beliau
bertakbir. Mereka menghitung. Satu. Dua. Tiga. Jika ganjil mereka masuk jadi
makmum. Dan sebaliknya, jika genap satu persatu mundur.
Semua berjalan biasa sampai beliau akhirnya menyadari. Dari
mihrab mungkin terlihat kami berjamaah di bagian belakang. Membuat jamaah salat
baru. Tentu setelah terjadi berkali-kali. Beliau tersinggung. Tak mau jadi imam
kembali. Otak muda kami hanya tersenyum. Dia tak mau, toh kami bisa jadi imam.
Suatu waktu, selepas magrib, beliau datang. Maksudnya baru
datang. Bukan menjadi imam seperti biasa. Beliau mengajak kami beradu ilmu. Untuk
menghormat kami ikut membentuk lingkaran di serambi masjid.
Beliau menanyakan alasan kami mufāraqah dan membuat
jamaah salat baru. Kami serentak menjawab alasan kami melakukannya. Beliau tidak
percaya.
Saya segera membuka kitab Kifāyat al-Akhyār dan
menunjukkan pernyataan yang menjadi dasar perbuatan kami. Tentu beliau tidak akan
bisa baca kitab kuning itu. Saya pastikan tidak akan bisa.
Dengan percaya diri beliau bertanya. Saya tahu tujuannya
untuk mempertahankan kehormatan sebagai orang yang lebih tua.
“Hukum Islam ada berapa?”
Kami menjawab sama. Ada lima yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh,
dan haram. Dengan yakin. Tapi beliau menjawab hukum Islam ada dua taklifīyyah
dan waḍ‘īyyah. Tentu tak ada yang mau mengalah. Merasa paling benar.
Ternyata baru saya ketahui bahwa yang beliau maksud bukan
hukum Islam. Hukum syar’. Baru kami ketahui di pelajaran SMU muatan
lokal uṣūl al-fiqh. Sebuah kitab yang disusun oleh pengasuh berjudul Miftāḥ
al-Wuṣūl menjelaskan hal itu.[2]
Beberapa bulan setelahnya, dari pertanyaan bapak, saya
tahu bahwa kasus ini luas diketahui masyarakat. Bapak mengonfirmasi dengan
bercerita dan sesekali bertanya. Seorang famili yang juga santri senior
dicurhati oleh ba badar. Santri senior tersebut menengahi dengan berkata. “Sebaiknya
Anda tidak berpolemik dengan anak-anak remaja itu. Generasi tua seperti kita
tak akan menang. Lihat tumpukan kitab kuning mereka.” Yang dimaksud adalah
kitab-kitab kami hasil ngaji hataman bulan puasa.
Setelah peristiwa diskusi tersebut, beliau tidak pernah
salat Magrib dan Isya di masjid. Seperti kebanyakan anak remaja, kami pun tak
peduli. Bahkan, sejak saat itu kami tidak lagi respek terhadap beliau.
[1] Taqiyyuddīn Abū Bakr bin Muḥammad al-Ḥusaynī
al-Ḥiṣnī, Kifāyat Al-Akhyār, juz 1 (Surabaya: Maktabah Mahkota, t.t.) p 105.
[2] Aḥmad Jauhari ‘Arīs, Miftāḥ Al-Wuṣūl (Surabaya: al-Iḥsān, t.t.) pp 2-3
0 comments:
Posting Komentar