Muhri
Ini cerita tentang siang sampai sore dalam masa kecil
saya. Madrasah Ibtidaiyah. Sekarang ditambah kata Diniyah. Disingkat madin.
Sekolah keagamaan yang berkarakter formal tapi dianggap nonformal. Secara
jenjang, sekolah ini persis seperti SD. Ada kelas, ada kurikulum, ada kenaikan
kelas, ada kategori umur, dsb. Semua persis seperti SD. Bedanya, sekolah ini
“tidak diakui” pemerintah. Tidak ada pencatatan yang mumpuni. Bahkan sebagian
tidak tercatat. Meskipun, jika dilihat dari kaca mata yang lebih luas, sekolah
formal di bawah Kemenag memang selalu menjadi “anak tiri”. Seolah-olah yang
masuk madrasah adalah pengungsi yang membayar pajak berbeda dari manusia yang
masuk sekolah (nonkemenag). Ah, sudahlah. Nanti malah jadi cerita politik.
Baiknya saya kembali ke topik. Di balik hiruk-pikuk status birokrasinya yang
rumit, ada satu tradisi yang membentuk memori kolektif kami: Intihanan.
Menceritakan masa sekolah secara penuh juga tidak akan
bisa sekali tulis. Jadi, sesuai judul dan tulisan yang dituntut singkat, saya
akan bercerita tentang intihanan seperti judul. Kata ini tentu bahasa
Madura. Paling tidak imbuhan -an yang merupakan sufiks Madura, mungkin juga
Jawa. Intihan itu pelafalan kami yang belum terlalu fasih bahasa Arab
waktu itu. Mungkin juga dari orang tua-tua yang bacaan Arab dan pemahaman
maknanya juga kurang.
Beberapa tahun setelah madrasah ini, baru saya tahu bahwa
bacaan yang benar adalah imtihan, istilah ini sudah menjadi lema dalam KBBI.
Dalam transliterasi Arabnya ditulis imtiḥān. Mungkin karena orang Madura
tidak mengenal deret konsonan [mt] sehingga lamtoro menjadi lantoro,
dengan bunyi [h] pada suku terbuka di akhir untuk orang Madura barat. Dalam
pencarian kata dalam kamus Madura hanya ada kata amtennar, dengan dua
<nn>.[1] Tapi ada
variasi lain yaitu antennar. Itu pun serapan dari bahasa Belanda ambtenaar
‘pegawai sipil’.[2] Sepertinya ada
asimilasi dalam penyerapan. Deret [mt] diasimilasi menjadi [nt] dalam serapan.
Ini mungkin penyebab orang yang tidak terlalu fasih bahasa Arab cenderung
melafalkan intihan.
Nah, intihanan ini merupakan peristiwa yang ramai
rasanya. Seperti sponsor permen nano-nano yang anak sekarang tak akan tahu.
Sudah tidak populer lagi. Ada cape, takut, tekanan, dan ambisi. Bagamana tidak?
Kelas satu saja hafalan doa salat lengkap, dari lafal niat sampai dengan
tasyahud akhir. Dan imtihan itu benar-benar imtihan. Kami diadu hafalan di atas
panggung. Ditanya dengan sebenar-benarnya. Ya. Imtiḥān (امتحان) memang berarti
‘ujian’.[3]
Akar katanya maḥana (محن) yang berarti ‘menguji’. Ada momen
dalam sekitar satu bulan ibu selalu membangunkan saya setelah subuh. Dan tak
ada kata libur. Harus hafalan. Tak lancar? Alamat tidak bisa main sepulang SD.
Jumat sore dan Minggu pagi terancam hilang waktu untuk bermain. Ya. Hari-hari
paling melelahkan dalam hidup. Pagi buta hafalan; SD sampai siang; madrasah
siang sampai sore; dan ngaji sampai menjelang isya. Di sela itu? hafalan.
Hasilnya? Juara kelas.
Mungkin
deskripsi ini tidak menggambarkan penuh suasananya. Anda bayangkan anak kelas
satu SD diadu kelancaran hafalan. Di bawah, sorot mata orang tua melihat cemas
penuh harap. Apalagi, ibu yang serius dalam pendidikan saya. Beruntung yang
orang tuanya tidak terlalu perhatian. Mereka tak punya beban. Yang penting
hafal sampai akhir dan naik kelas.
Kelas dua tidak
kalah seru. Ada beberapa kitab yang harus dihafal. Salah satunya المبادئ الفقهية علي مذهب الإمام الشافعي
yang
harus dihafal sekitab penuh. Ada 4 jilid seingat saya. Kami menyebutnya mubādi’
meskipun yang benar mabādi’. Beberapa yang lain saya lupa. Mungkin
karena sudah terlalu lama. Mabadi’ saja saya ingat karena sampai hari ini masih
diajarkan di madrasah. Kebetulan saya dapat tauhid. Hafal? Iya. Ngerti? Jelas
tidak.
Imtihan dengan hafalan satu kitab
tamat ketika ada guru tugas dari Darul Hikmah. Hafalan tetap ada. Naik
panggung. Tapi, nilai ditentukan rapot hasil ujian akhir. Paling tidak ini
sedikit pencerahan. Mereka bercerita. Tentang pesantren. Tentang ilmu agama.
Tentang banyak hal. Dan saya terinspirasi. Inilah mungkin salah satu alasan
saya memilih Darul Hikmah setelah lulus SD.
[1] Kiliaan,
H. N. 1904. Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek Eerste Deel. Leiden: E.J.
Brill. Hlm 8
[2] Osselton,
N., and R. Hempelman. 2003. The New Routledge Dutch Dictionary. London &
New York: Routledge. Hlm. 25
[3] Munawwir,
Ahmad Warson. 1997. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya:
Pustaka Progressif. Hlm. 1315

0 comments:
Posting Komentar