16 Februari 2026

, , ,

INTIHANAN: UJIAN, HAFALAN, DAN NANO-NANO

Muhri

Ini cerita tentang siang sampai sore dalam masa kecil saya. Madrasah Ibtidaiyah. Sekarang ditambah kata Diniyah. Disingkat madin. Sekolah keagamaan yang berkarakter formal tapi dianggap nonformal. Secara jenjang, sekolah ini persis seperti SD. Ada kelas, ada kurikulum, ada kenaikan kelas, ada kategori umur, dsb. Semua persis seperti SD. Bedanya, sekolah ini “tidak diakui” pemerintah. Tidak ada pencatatan yang mumpuni. Bahkan sebagian tidak tercatat. Meskipun, jika dilihat dari kaca mata yang lebih luas, sekolah formal di bawah Kemenag memang selalu menjadi “anak tiri”. Seolah-olah yang masuk madrasah adalah pengungsi yang membayar pajak berbeda dari manusia yang masuk sekolah (nonkemenag). Ah, sudahlah. Nanti malah jadi cerita politik. Baiknya saya kembali ke topik. Di balik hiruk-pikuk status birokrasinya yang rumit, ada satu tradisi yang membentuk memori kolektif kami: Intihanan.

ilustrasi dibuat menggunakan Gemini AI

Menceritakan masa sekolah secara penuh juga tidak akan bisa sekali tulis. Jadi, sesuai judul dan tulisan yang dituntut singkat, saya akan bercerita tentang intihanan seperti judul. Kata ini tentu bahasa Madura. Paling tidak imbuhan -an yang merupakan sufiks Madura, mungkin juga Jawa. Intihan itu pelafalan kami yang belum terlalu fasih bahasa Arab waktu itu. Mungkin juga dari orang tua-tua yang bacaan Arab dan pemahaman maknanya juga kurang.

Beberapa tahun setelah madrasah ini, baru saya tahu bahwa bacaan yang benar adalah imtihan, istilah ini sudah menjadi lema dalam KBBI. Dalam transliterasi Arabnya ditulis imtiḥān. Mungkin karena orang Madura tidak mengenal deret konsonan [mt] sehingga lamtoro menjadi lantoro, dengan bunyi [h] pada suku terbuka di akhir untuk orang Madura barat. Dalam pencarian kata dalam kamus Madura hanya ada kata amtennar, dengan dua <nn>.[1] Tapi ada variasi lain yaitu antennar. Itu pun serapan dari bahasa Belanda ambtenaar ‘pegawai sipil’.[2] Sepertinya ada asimilasi dalam penyerapan. Deret [mt] diasimilasi menjadi [nt] dalam serapan. Ini mungkin penyebab orang yang tidak terlalu fasih bahasa Arab cenderung melafalkan intihan.

Nah, intihanan ini merupakan peristiwa yang ramai rasanya. Seperti sponsor permen nano-nano yang anak sekarang tak akan tahu. Sudah tidak populer lagi. Ada cape, takut, tekanan, dan ambisi. Bagamana tidak? Kelas satu saja hafalan doa salat lengkap, dari lafal niat sampai dengan tasyahud akhir. Dan imtihan itu benar-benar imtihan. Kami diadu hafalan di atas panggung. Ditanya dengan sebenar-benarnya. Ya. Imtiḥān (امتحان) memang berarti ‘ujian’.[3] Akar katanya maḥana (محن) yang berarti ‘menguji’. Ada momen dalam sekitar satu bulan ibu selalu membangunkan saya setelah subuh. Dan tak ada kata libur. Harus hafalan. Tak lancar? Alamat tidak bisa main sepulang SD. Jumat sore dan Minggu pagi terancam hilang waktu untuk bermain. Ya. Hari-hari paling melelahkan dalam hidup. Pagi buta hafalan; SD sampai siang; madrasah siang sampai sore; dan ngaji sampai menjelang isya. Di sela itu? hafalan. Hasilnya? Juara kelas.

Mungkin deskripsi ini tidak menggambarkan penuh suasananya. Anda bayangkan anak kelas satu SD diadu kelancaran hafalan. Di bawah, sorot mata orang tua melihat cemas penuh harap. Apalagi, ibu yang serius dalam pendidikan saya. Beruntung yang orang tuanya tidak terlalu perhatian. Mereka tak punya beban. Yang penting hafal sampai akhir dan naik kelas.

Kelas dua tidak kalah seru. Ada beberapa kitab yang harus dihafal. Salah satunya المبادئ الفقهية علي مذهب الإمام الشافعي yang harus dihafal sekitab penuh. Ada 4 jilid seingat saya. Kami menyebutnya mubādi’ meskipun yang benar mabādi’. Beberapa yang lain saya lupa. Mungkin karena sudah terlalu lama. Mabadi’ saja saya ingat karena sampai hari ini masih diajarkan di madrasah. Kebetulan saya dapat tauhid. Hafal? Iya. Ngerti? Jelas tidak.

Imtihan dengan hafalan satu kitab tamat ketika ada guru tugas dari Darul Hikmah. Hafalan tetap ada. Naik panggung. Tapi, nilai ditentukan rapot hasil ujian akhir. Paling tidak ini sedikit pencerahan. Mereka bercerita. Tentang pesantren. Tentang ilmu agama. Tentang banyak hal. Dan saya terinspirasi. Inilah mungkin salah satu alasan saya memilih Darul Hikmah setelah lulus SD.

 

 



[1] Kiliaan, H. N. 1904. Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek Eerste Deel. Leiden: E.J. Brill. Hlm 8

[2] Osselton, N., and R. Hempelman. 2003. The New Routledge Dutch Dictionary. London & New York: Routledge. Hlm. 25

[3] Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif. Hlm. 1315

0 comments:

Posting Komentar