22 Februari 2023

, , ,

PERCAKAPAN SANGAT BIASA YANG LUAR BIASA (ANALISIS PADA CERPEN BERJUDUL MAS, JEMPUT AKU JAM SEMBILAN NANTI MALAM, KARYA MUHRI)

 Buyung Pambudi*

 

Awal konflik...

Sekolahku sama dengan laki-laki.  Terpikir dalam pikirannya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, soal gender, soal emansipasi. Soal cinta saja dulu yang membuatnya mengalah. Soal kompromi dengan suami. Kini, ketika realitas tidak bisa dibuai dengan cinta?  Ketika  ia kembali memijak bumi. Realistis kata yang tepat mewakili.

Mulai naik...

Sayangnya, kesibukan masing-masing membuat mereka tidak sadar bahwa mereka mulai terpisah.  Ada sekat menebal yang tak sempat dilihat.  Ada jarak yang semakin memanjang dan mereka berada di kedua ujungnya.

Puncak...

“Sayang, rasanya ada yang kurang dalam hidup kita yang berkecukupan ini. Kita belum sempat menyempurnakan pernikahan kita,” (suami).

“Maksud Mas anak?” kening Melani berkerut. Tanda tanya tentang arah mana pembicaraan ini tertuju. “Ya.  Kesibukan membuatmu melupakan peranmu sebagai istri.” Kata Hartoyo, lelah. “Jadi Mas menyalahkanku? Bagaimana dengan kesibukan Mas sendiri? Apa mas pernah memikirkan apa yang menjadi keinginanku?” Nada bicara Melani meninggi.

Perbedaan pendapat sudah terjadi. Mereka telah memenangkan ego dalam diri mereka sendiri dengan  mengusir pengertian yang menyatukan perbedaan. Puncaknya mereka tidak menemukan kata yang menenangkan.

Menurun...

Esok harinya Melani terbangun sendirian. Saat hendak mandi dilihatnya suaminya telah rapi

berpakaian. Wajahnya ceria seperti tak ada bekas pertengkaran tadi malam. Rupanya ia telah mengibarkan perdamaian dengan senyumnya yang indah.

Solusi...

Sampai di kantor istrinya, Hartoyo segera urun dan membukakan pintu belakang untuk istrinya. Melani keluar dengan mata berbinar. Ia meraih dasi suaminya dan merapikan. Sebuah kecupan melayang.  “Mas, jemput aku jam sembilan nanti malam.” Suaminya mengangguk. Melani pun masuk dengan langkah seorang pemimpin perusahaan.

  


Komunikasi yang buruk sebagai akar masalah hubungan RT**?

Komunikasi yang buruk secara luas dipandang sebagai masalah utama dalam hubungan (Stafford, 2009, p. 295). Jika kita meyakini bahwa komunikasi yang buruk menyebabkan masalah dalam hubungan, maka komunikasi yang buruk juga memunculkan hubungan yang buruk. Solusi yang ditawarkan oleh psikolog pada umumnya adalah dengan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan mempelajari keterampilan komunikasi yang lebih baik. Benarkah komunikasi yang baik adalah ‘dewa obat’ untuk segala ‘penyakit’ dalam hubungan RT?

Padahal, bisa saja konflik mendasar dalam nilai atau keyakinan adalah penyebab utama suatu hubungan. Misalnya soal nilai dan keyakinan terhadap peran perempuan dan laki-laki dalam pernikahan, prioritas dalam berbelanja, atau sudut pandang lain yang mendarah daging ditanamkan sejak kecil. Maka, masalah utama dalam hal ini bukan komunikasi. Menyikapi konflik dalam rumah tangga, ada dua hal yang bisa dijadikan sebagai cara pandang.

Pertama, yang harus dilakukan adalah mencari akar persoalan konflik RT. Jika persoalan utamanya adalah komunikasi, maka jalan keluarnya adalah meningkatkan keterampilan komunikasi. misalnya, jika si istri merasa perkataannya tidak diperhatikan oleh suami saat berbicara karena terlalu fokus ke ponsel, padahal sebenarnya si suami memperhatikannya. Maka, solusinya adalah suami harus meningkatkan keterampilan berkomunikasi misalnya dengan memandang mata si istri saat ia sedang berbicara kepadanya.

Kedua, tidak ada cara komunikasi tunggal yang baik dan berlaku umum untuk mengatasi semua jenis masalah dalam RT. Setiap persoalan komunikasi RT membutuhkan cara komunikasi yang berbeda dan khas. Satu cara komunikasi bisa efektif untuk menyelesaikan satu persoalan RT belum tentu bisa digunakan untuk persoalan RT yang lain.

Komunikasi yang baik mungkin akan membantu memahami persoalan yang menyebabkan konflik RT. Tetapi, memahami masalah dan menyepakati jalan keluar adalah persoalan yang berbeda. Cerita pendek berjudul Mas, Jemput Aku Jam Sembilan Nanti Malam karya Muhri ini menyuguhkan solusi konflik yang cukup brilian. Solusi sederhana tetapi langsung menyentuh pada persoalan utama penyebab konflik RT. Yakni adanya tindakan merobohkan ‘dinding tebal’ ego pribadi yang menghalangi keintiman pasangan suami istri.

John Gottman membagi dua pola komunikasi dalam hubungan RT, yakni pola komunikasi positif dan negatif. Apa yang terjadi antara Hartoyo dan Melani pada saat konflik rumah tangganya memuncak merupakan bagian dari pola komunikasi negatif. Pola komunikasi negatif meliputi; kritisisme, penghinaan, pembelaan diri (defensiveness), dan tembok batu. Kritisisme di sini bukanlah kritisisme dalam teori sosial, tetapi lebih sebagai upaya pencarian secara terus menerus kelemahan atau kekurangan pasangan.

Kritisisme seringkali akan bertemu dengan pembelaan diri (lihat dialog Puncak...). Menyampaikan kekurangan pasangan akan memicu pembelaan diri biasanya berupa ‘serangan balik’. Kritisisme, penghinaan, dan pembelaan diri pada tahap berikutnya dapat bertumpuk memunculkan dinding pemisah yang menghalangi sebuah hubungan.

Banyak ahli percaya bahwa mengelola perbedaan dalam sebuah merupakan ciri utama dalam kesuksesan menjalani hubungan (relationship). Berbagai cara untuk mengelola konflik RT akan berjalan sukses jika kedua pasangan sepakat tentang bagaimana suatu konflik harus dikelola.

Jaga harmoni dengan percakapan sehari-hari

Pada dialog Solusi..., jalan keluar yang disajikan oleh penulis cerpen terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Percikan-percikan api konflik yang memuncak menjadi api unggun seolah padam hanya dengan turunnya gerimis rintik-rintik. Padahal, para cendekiawan komunikasi dan pakar relasional membuktikan bahwa percakapan sehari-hari tentang hal-hal yang sangat biasa justru dapat menjaga kelanggengan sebuah hubungan (Steve Duck 1995).

Percakapan sehari-hari yang sangat biasa merupakan hal yang harus diciptakan, dijaga dan terus diupayakan untuk tetap terjadi. Menjaga dan memperbaiki hubungan melalui percakapan sehari-hari merupakan sesuatu yang sangat penting. “Mas, jemput aku jam sembilan nanti malam,” ini adalah kalimat dalam percakapan sehari-hari yang sangat biasa, namun percakapan ini akan terasa sangat luar biasa ketika sebuah hubungan sedang dipisahkan oleh dinding yang tebal dan kokoh.

Sebagaimana komunikasi, hubungan RT bukan sesuatu yang stagnan. Hubungan RT akan terus mengalami perubahan seiring waktu, situasi dan kondisi. Hubungan RT adalah ‘urusan yang belum selesai’, hubungan RT terus berkembang dari masa ke masa.

 

 

*Dosen STKIP PGRI Bangkalan

**Keterangan: RT adalah singkatan dari rumah tangga.

 

Daftar bacaan

Stafford, L. (2009). Spouses and Other Intimate Partnerships. In 21st Century Communication A Reference Handbook (Vol 1 & 2) (W. F. Eadie (ed.)). SAGE Publications Inc.

Gottman, J. M. (1994). Why marriages succeed or fail. New York: Simon & Schuster.

Duck, S. W. (1995). Talking relationships into being. Journal of Social and Personal Relationships, 12, 535–540.


Video terkait



0 comments:

Posting Komentar