17 Februari 2023

AKU TETAP MADURA TANPA SANDUR

 "Waktu kecil, aku paling benci sandur." kataku pada Roz. Sambil tersenyum, tentu saja. "Ènger". Lanjut saya.

Sambil tersenyum, roz mengatakan, “Sama”.

Dialog ini terselip dalam acara Focus Group Discussion dengan tajuk “A rèmoh”. Mungkin maksudnya arèmo yang artinya mengadakan perhelatan kaitannya dengan kegiatan-kegiatan budaya seperti to’-oto’ yang sering kali sebagai selamatan untuk khitan, pernikahan, atau tanpa sebab yang ditulis “menyelamati badan sendiri”.



Acara ini diinisiasi oleh Ahmad Faishal (Acong) sebagai proyek dengan pendanaan dari kementrian. Acong merupakan dosen dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Acara diadakan pada 12 Januari 2023 di restoran Dapur Sambal di jalan Halim Perdana Kusuma (ring road selatan) kota Bangkalan. Hadir pada acara tersebut seniman dan pemerhati seni dari berbagai bidang seni yang berbeda. Pak Ribut Rahmat Jaya (guru dan sastrawan), Pak Charul Anwar (pelukis), Pak Hidrochin Sabarudin (budayawan), dan Pak Syahrul Hanafi (guru dan pelukis) adalah sebagian nama dari seniman senior yang hadir pada acara tersebut. Pembicara kunci dalam acara FGD ini adalah Sudarsono pendiri Sanggar Tarara. Kami menyebutnya Mas So. Mas So dikenal sebagai seniman tari terkemuka di Bangkalan.

Sebenaranya saya tetap tidak tertarik dengan kesenian ini meskipun Mas So berhasil memberi paparan yang memukau. Dengan gamblang disampaikan bagian-bagian dari “orkes” tradisional ini. Meski pun demikian, saya tetap merasa kesenian ini harus dilestarikan sebab merupakan bagian dari kearifan leluhur masyarakat Madura selain sebagai identitas ke-Madura-an.

Dalam obrolan selesai acara, pada ramah tamah, saya duduk kebetulan bersama Salman. Entah bagaimana awalnya, saya menyatakan bahwa saya tidak suka Sandur. “Bising” kataku.

Sambil tersenyum, Salman berkata, “Perlu dipertanyakan ke-Madura-annya.”

Sambil berkelakar aku berkata, “aku memang bukan orang Madura. ...” Salman dan beberapa yang lain tersenyum menunggu.

“Di KTP tidak tertulis Madura.” Tentu saja Madura nama suku dan pulau. yang tertulis malah Jawa Timur sebagai provinsi.

Roz yang juga duduk disitu segera menyahut. Serius tapi tetap santai.

“Kami memang tidak suka Sandur. Sebab berasal dari keluarga santri dan hidup dalam lingkungan santri. Sedangkan sandur adalah perangkat dari golongan blater.” Sekilas seperti membela diri.

Itu juga pandangan saya. Seingat saya, orang tua kami tidak pernah menyimpan celurit di rumah kami. Demikian kami. Kami bahkan hampir tidak pernah pegang gagang celurit atau pun todi' sèkep*. Kami lebih akrab dengan Alquran dan kitab kuning sejak kecil.

*todi' sèkep adalah pisau yang dibuat secara khusus sebagai senjata. sering juga disebut todi' pangabisân (pisau penghabisan).

video-video FGD A remoh

video ditautkan dari channel resmi Komunitas Masyarakat Lumpur




2 komentar:

  1. Hanya karena tidak suka, ke-Madura-annya dipertanyakan. Madu asli atau Madu palsu atau Madu asli yang sudah tidak lagi asli. Bolehlah memisahkan Madu dari Lebah tapi jangan disangka Madunya bermuasal dari Lalat.

    BalasHapus