13 Februari 2024

,

SEMBILAN FRAGMEN KATA-KATA: APA SEBENARNYA YANG DAHSYAT DARINYA?

 

Oleh M. Helmi, M. Pd[i]

 

 

[1]

 

“Cintai apa yang tidak akan pernah Anda lihat dua kali.”

 

Kata-kata yang menjadi fragmen 1 di atas merupakan kalimat pembuka catatan ini. Ditulis oleh Alan Badiou dalam pendapatnya tentang “Teori Subjek”, di tahun 1982. Sebuah tulisan yang terkesan sepele, bagi yang malas bertele-tele. Tapi bagi para penggemar makna, tentu kalimat tersebut dianggap menyimpan kesungguhan yang tiada dua, tiada tara.

Di buku lain, Sanjungan Kepada Cinta, filsuf kontemporer asal Prancis yang dicap “kiri” karena banyak inovasinya dianggap radikal—seperti revolusi, penemuannya yang penuh kejut, dan transfigurasinya  dalam segala aspek mengulang kalimat itu kembali. Singkat, sepotong saja, tapi tuntas. Lebih tegas dan khusus. Seolah ada peran fungsi yang hendak dituju: betapa penting sebenarnya hasil yang didapat tatkala kalimat tersebut masuk ke dalam pikiran pembaca. Untuk direnung, untuk dipejamkan, dan kemudian dihantar ke tempat di mana makna yang sebenarnya bercongkol.

“Cintai apa yang tidak akan pernah Anda lihat dua kali.” Ah, kata-kata ini, apakah   ada esensi lain selain pentingnya persoalan waktu. Meski sebenarnya sangat mungkin, bagi pembaca yang jeli, justru yang krusial dari kalimat tersebut bukan bermaksud soal waktu. Bisa mungkin nilai, harga, dari sesuatu yang sudah terjadi namun tidak akan bisa terjadi lagi. Mirip pertanyaan Anton Kurnia dalam tulisan “Keindahan dalam Kepedihan”, di Jawa Pos, edisi Minggu, 4 Desember 2016, dalam kepentingannya membahas buku Han Kang, The Vegetarian, yang diterjemahkan Deborah Smith.

Di uraian itu Anton Kurnia bertanya, berdasarkan gagasan ketika seseorang memilih hidup sebagai seorang vegetarian, yang kemudian hidupnya tak menyenangkan dan penuh kekerasan: “Apakah makna hidup sesungguhnya? Apakah hakikat cinta? Mengapa orang yang semula seperti saling jatuh cinta bisa saling melukai, bahkan berpisah? Apakah kebahagiaan itu? Apakah hidup ini layak dipertaruhkan? Apa yang paling berharga dalam hidup ini?” Demian Anton bertanya.

 

[2]

 

“Harapan, itu adalah inti dari khayalan manusia,

dan juga sumber kekuatan dan kelemahan terhebatmu.”

 

Kata-kata dalam fragmen 2 ini beberapa bulan lalu menjadi bahan diskusi sebuah komunitas sastra di Bangkalan. Tepatnya: Pada suatu hari, seorang kawan diskusi berpendapat panjang mengenai kalimat yang menyoal tentang harapan di atas. Ketika ia baru saja menemukan dan mendengar kalimat itu meluncur dengan nyaman di film The Matrix Reloaded (2003). Sebuah film digit-micro yang salah satu aktornya adalah Keanu Reeves.

Pada catatan ini, bukan pendapatnya yang panjang yang akan diurai. Tapi justru kata pertama yang muncul dan mendahului segala rangkaian perspektifnya atas respon terhadap kata-kata yang diucapan seorang tokoh di film tersebut. Saat dengan khusuk kawan itu menyaksikan, tepat ketika teks itu diucapkan, yang pertama muncul di bibirnya adalah ungkapan “Wihh!”. Artinya, ada satu aspek kejut yang muncul dari rasa kagum, yang tak terduga, baik berdasarkan tindakan ataupun tak butuhnya alasan. Dan secara drastis membuka alam pikirnya menjadi sadar. Sadar akan hal apa? Tentu kesadaran bahwa ia sudah mampu menangkap kalimat yang diucapkan oleh tokoh Sang Arsitek Matrix di durasi 01:57:23-01:57:30 itu. Baik tentang harapan itu sendiri, maupun arti khayal dalam sebuah pengertian yang mungkin sebelumnya tak sengaja ia prediksi.

Intinya, 4 kata kunci yang dipertemukan: harapan, khayal, kekuatan, dan kelemahan. Dan kata “Wihh!” yang terlontar dari mulut seorang kawan diskusi itu bukan onomatope, melainkan sambutan alam sadar bahwa kesadaran baru telah ia terima, telah berkembang dari reflek. Menjadi pengakuan atas penyatuan 4 kata kunci yang mengalami pendamaian puncak di dalam kata-kata: harapan inti khayal, harapan sumber kekuatan, harapan sumber kelemahan. Terhebat.

Dan kawan diskusi itu akhirnya tak berpikir lagi mengenai apa itu harapan. Sampai ia menemukan penguat lain di film yang lain, yang juga melandaskan apa pentingnya itu harapan. “Ingatlah, Red, harapan adalah hal baik, Mungkin itu adalah hal yang terbaik dari semuanya. Dan harapan tak pernah mati.” (The Shawshank Redemption, 1994).

 

[3]

 

“... Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan bisa lagi

memandangmu, ketika kau memandangku.”

 

Kata-kata di fragmen bagian 3 ini diambil dari bahasa akhir seorang pangeran di Perang Baratayuda. Yakni Karna, putra Kunti dari Dewa Surya, sahabat Duryudana —yang, ketika ia di ujung maut, ketika ia dalam dekap tangan sang istri, kalimat itulah yang meluncur bersama air mata menuju peluk erat cinta yang sebentar lagi tak nyata. Kalimat, yang membuat sang istri makin menangis saja, dan membiarkan pelupuk matanya membengkak tiba-tiba hingga sulit sirna.

Keagungan kata-kata memang bisa menunjukkan kebijaksanaan bagi yang mengucapkannya. Yang terbaik dari kata-kata, adalah yang terbentuk dari sikap yang bukan dari raga. Jiwalah yang bicara. Dan, orang yang mendengarkan akan runtuh, akan mengerti bahwa ia sedang tidak berbohong, sedang tak membutuhkan sesuatu lagi meski itu keajaiban, sedang pasrah meski kalah. Seperti yang terjadi pada Karna dalam persitiwa Baratayuda.

Ketika kata-kata tersebut lepas, saudara tertua Pandawa itu berada dalam sebuah gerangan kritis. Tak mengerang di hadapan istri, tapi sakitnya begitu pekat, Dan memang, pada satu batas antara ujung hidup dan pintu kematian yang terbuka lebar, ucapan kata-katanya terdengar sungguh sangat puitis. Kata-kata yang amat berat namun menyamankan, yang tak hendak disandingkan dengan apa pun lagi kecuali dengan satu ketetapan yang tak bisa dihindari. Satu ketetapan sebagai bayang-bayang takdir, yakni berpisah: pergi, yang tak kembali. Dan tak bisa melihat lagi seperti apa wajah sang istri.

Seperti di fragmen bagian 2, yang berbicara harapan, barangkali, apa diucapkan Karna untuk istrinya juga harapan. Tapi dalam bentuk penyelamatan. Artinya, tokoh Karna menyadari bahwa ia tak lagi punya harapan. Ia sadar harapan untuk hidup telah sirma, maka ia perlu menyelamatkan harapan itu, dengan setakjub-takjubnya. Dengan berkata sesejuk mungkin, seindah-indahnya. Biar tetap terdapat harapan, di sana, di balik kata-katanya, yang bukan untuknya.

 

[4]

 

“Saya bukan gagal, kok. Saya telah menemukan

sepuluh ribu cara yang tidak efektif.”

 

Kata-kata di fragmen bagian 4 ini dekonstruktif. Dan membaca kalimat di atas, siapa saja rasanya bisa mengerti maksud dari maknanya. Jelas, artinya adalah menjawab segala hal tentang apa itu kegagalan. Tapi justru di situlah letak kejelian seorang Benjamin Franklin meneropong celah lain, mengurai singkat sesuatu yang dianggap salah, atau setidaknya keliru bagi pandangan umum—bahwa, pada satu jalan yang telah ditempuh, mustahil tak ada manfaat, guna, atau keuntungan yang diperoleh subjek. Bagi Benjamin Franklin, orang gagal, lebih diuntungkan banyak tahu ketimbang orang yang langsung berhasil melakukan sesuatu. Untungnya, ia lebih punya banyak kekayaan mengetahui hal-hal yang tak efektif. Dan itu penting untuk diinformasikan kepada orang lain, sebagai kebutuhan ilmu, juga penunjang isi pengetahuan.

Tentang pendapat Benjamin Franklin ini, disinggung oleh Scott Thorpe di buku Berpikir Cara Einstein (2002) dengan uraian lebih terbuka. Singkatnya, Thorpe mendesain ucapan Benjamin Franklin agar lebih mudah dicerna pembaca. Seperti bagaimana manusia harus menciptakan solusi-solusi baru, menjadi inspirasi yang bermanfaat, menjadi petunjuk berharga tentang aturan main dari sesuatu, hingga tentang keidealan yang tak buru-buru mengejar kepastian. Sebab semua, hampir bisa teramat dekat dengan gagal.

Juga paham untuk tidak bergantung pada pendapat bahwa komponen yang esensial dari tangan manusia ialah ibu jari, yang dapat ditekan-tekankan lebih kuasa dari yang lain, karena 65% ukurannya tak lebih panjang dari jari telunjuk.

Benar, ibu jari memang superior. Tapi yang lain? Bukankah dari mereka ibu jari akhirnya menjadi superior.

 

[5]

 

“Dulu, saat ayahku, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah berhadapan,

yang ada di hadapan mata mereka masing-masing adalah akhirat.

Tetapi hari ini ketika kita berhadapan dengan muslim lainnya,

di mata kita adalah dunia, bukan akhirat.”

 

Kata-kata fragmen bagian 5 ini adalah sebuah epilog dari prahara Shiffin. Sebuah perang, tentang ketangguhan hati seorang Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Perang saudara, yang pecah, dan terasa menusuk titik haru paling relung keperkasaan dua manusia pilihan Tuhan itu.

Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, mereka orang-orang yang menawan. Perbedaan pendapat bagi mereka adalah pendirian yang teguh, yang harus digenggam kuat-kuat dan tak bisa dicongkel. Mereka berdua, sungguh sama-sama tak melepas kesejatian hati hingga ke ujung terperih sekalipun. Apa yang disebut musuh bukan semata-mata terdiri dari emosi yang buruk, meski darah harus diteteskan, ditumpahkan. Apa yang menjadi perbedaan bukan lantas dengan mudah menumpahkan berjuta-juta kebencian.

Ketika surat dari Kaisar Romawi menyentuh getar tangan Muawiyah, yang hendak memanfaatkan situasi dengan berjanji akan memberikan hadiah termegah berupa kepala Ali kepadanya dengan tegas Muawiyah menjawab bahwa itu bukan urusan kau. Tak ada urusan bagimu untuk sebuah persaudaraan yang tengah bertengkar. Jika kau mau, aku bisa membawakan kepalamu ke hadapan Ali. Begitulah jawaban Muawiyah ketika ikatan persaudaraan dengan Ali tengah diusik. Dan persitiwa lain pun semakin menadi seiring desakan dendam yang harus dituntaskan. Hingga Ali gugur, karena terjangan badai-badai fitnah yang kerap tiada henti berucap menudingnya sebagai dalang pengkhianatan. Dan benar, Ali pun gugur.

Tapi itu tak menghancurkan hati seorang putranya yang kemudian mewarisi kebijaksaannya dalam menentukan banyak hal. Seperti ketika orang-orang muslim lainnya bertanya kepada putra Ali itu di akhir perang saudara, mengapa menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, padahal itu seteru ayahnya.

Mendengar itu, tak ada sedikit pun pada nada jawaban Hasan bin Ali tersentuh benci juga dendam. Apalagi terpengaruh licik dan piciknya fitnah yang konon dianggap sebagai fitnah pertama di dunia Islam. Putra Ali yang menawan itu pun menjawab dengan kata-kata yang tercantum bagian atas tulisan ini: “... di mata kita adalah dunia, bukan akhirat.”

 

[6]

 

“...kebanyakan manusia pada akhirnya tahu,

hidup membutuhkan metafora. Pikiran memerlukan kiasan.”

Kata-kata pada fragmen bagian 6 ini adalah tentang pentingnya berkias—metafora, atau mencari kemungkinan lain. Goenawan Mohamad menulisnya, dan melanjutkan itu dengan menceritakan kisah seorang lelaki Australia yang memotong tangannya sendiri lantaran salah memahami kata-kata yang dikutipnya dari sebuah injil: “Jika tanganmu menistakanmu, potonglah.”

Michael O’Conner nama laki-laki yang dikisahkan oleh pendiri Tempo yang namanya sering disingkat GM. Usianya 20 tahun dan Kristen baru ia masuki. Di dunianya yang baru itu, ia kemudian memotong tangannya yang bertato, lantaran tangan itu dianggapnya punya nista oleh dirinya sendiri. Tentu, setelah ia membaca pesan dari Injil, Kitab yang tak begitu lama didekatinya, diyakininya.

Tapi benarkah itu? GM mempernyatakan mengapa hal demikian bisa terjadi. Bukan lantaran darahnya yang muncrat dari sekejap tangannya yang putus. Atau warga yang panik atas tragedi “bodoh” itu. Bukan pula dengan sigapnya polisi datang menginterogasi peristiwa—mengamankan kejadian. Melainkan, melainkan apakah demikian makna yang terpahami tentang isi kutipan yang baru saja diperoleh seorang O’Conner dari hasil membacanya? Mengapa ia begitu lurus memaknai sesuatu, yang justru amat salah meski pada lapisan paling dangkal keharfiahan, perkara kata “potonglah” sangat diyakini tak menginginkan pemotongan tangan yang begitu. Bukan itu arti perbuatannya sebagai tafsir.

Mengapa Michael O’Conner tak sempat bisa berpikir yang lain? Atau mungkin ia memang dilahirkan tanpa harus tahu bahwa dalam hidup ini betapa dibutuhkan jagat semiotika, semesta kias: connotative meaning.

 

[7]

 

After the first death there is no other.”

Setelah kematian pertama, tak ada lagi yang lain ....

 

Kata-kata di bagian fragmen 7 ini adalah sebuah puisi. Tepatnya penggalan puisi dari seorang penyair mabuk yang disukai oleh seorang presiden yang saleh. Penyair itu bernama Dylan Thomas, Wales, yang berkiprah kisaran tahun 1914-1953. Dan Presiden itu ialah Jimmy Carter, presiden Amerika Serikat ke-39 (1977-1981). Peraih Nobel Perdamaian tahun 2002.

Mengapa bisa seorang presiden sekelas Jimmy Carter begitu kagumnya pada puisi Dylan Thomas. Sampai-sampai, pada suatu kesempatan, ketika sang presiden masih menjabat sebagai Gubernur di Georgia, ia, dengan kesudian yang sengaja mengundang para senator hadir ke beberapa pertemuan di Gedung Legislatif untuk mendengarkan rekaman suara sang penyair.

Seberapa penting puisi Dylan Thomas itu didengar? Bisa benarkah jika ada anggapan justru setelah Jimmy Carter menemukan dan membaca puisi penyair yang tak cukup punya nama itu, hidupnya berbelok menjadi lebik baik. Di mana awalnya, ia hanya seorang pengusaha kecil yang pengap oleh gelisahnya sendiri. Yang mungkin tak terbersit dalam pikirannya bahwa suatu saat ia akan disentuh Nobel dan menjadi orang nomor 1 di negeranya. Tak ada yang tahu pasti selain Jimmy Carter itu sendiri. Termasuk ada alasan yang seperti apa ketika ia suka mengutip kesan keadilan dari seorang ahli teologi Kristen, Reinhold Niebuhr yang berkata “tugas sedih politik ialah harus membangun keadilan di dunia yang penuh dosa.”

Sekali lagi, bunyi puisi itu adalah: “Setelah kematian pertama, tak ada lagi yang lain ....” Dan kata-kata tersebut, bagi Carter, mungkin seperti arkeologi yang menyibak rahasia masa datang. Meski bukan hantu yang terus mengikuti, setidaknya itu adalah ngiang yang abadi.

 

[8]

 

...

di mana kelak kujemput anak cucuku

menuntun sapi berpasang-pasang

 

Kata-kata di fragmen bagian 8 di atas diambil dari sebuah puisi berjudul “Bulan Tertusuk Lalang”. Pada bait kedua baris ketiga dan keempat. Baguskah kata-kata itu atau burukkah? Jika buruk, mengapa kemudian seorang Garin Nugraha terilhami oleh puisi tersebut untuk membuat film layar perak dengan memakai judul yang nyaris persis dengan judul puisi yang ditulis oleh D. Zawawi Imron ini. Jika bagus sudah merindingkah kita dalam memahaminya?

 

Memahami kata-kata yang ditulis di atas, sederhananya bukan untuk meributkan apakah sajak yang ditulis oleh penyair Sumenep yang telah senja itu bagus atau tidak. Toh ada bagian dari pikiran manusia yang anti untuk memperdebatkan bagus tidaknya sesuatu setelah ia memahami dan mengerti sifat-sifat seni yang dimiliki oleh setiap karya.

ada sebuah kesempatan, Seno Gumira Ajidarma berpendapat tentang 3 mitos sastra yang harus dihancurkan, karena membikin sastra jadi alergi. Singkatnya sastra itu curhat, bahasa sastrawan mendayu-dayu, dan berisi petuah/pedoman hidup. Serem katanya. Lalu, dengan dasar kutipan sajak di atas, apakah puisi penyair yang dijuluki Celurit Emas yang juga Kiai itu termasuk dalam singgungan Seno?

Sementara realita yang lebih konkrit hari adalah masih banyakkah ditemukan, di Madura, apa yang dipertanyakan oleh sajak itu? Yakni pemandangan yang menyajikan sejumlah anak-anak dengan kebahagiaan yang tengah asyik menuntun sapi-sapi mereka ke arah sungai, ke sawah, ke batu-batu dan tanah tinggi berumput. Dan menjelang senja menggiring mereka pulang ke kandang. Ataukah kini mereka telah menyatu dengan virus karsinogenik yang tak terlihat, yang daya tularnya luar biasa nikmat dan memikat?

 

 

[9]

 

“Saya membaca Rabindranath setiap hari, membaca

satu baris dari karyanya sama dengan melupakan masalah

seluruh dunia.”

 

Kata-kata di fragmen bagian 9 ini adalah prolog yang ditulis oleh peraih Nobel Kesusastraan tahun 1923 asal Irlandia, yaitu William Butler Yeath. Ia berkisah bahwa hatinya tergerak ketika ada seseorang begitu menyanjung setiap karya yang dibuat oleh Rabindranath Tagore. Tak terkecuali Gitanjali, sebuah prosa cinta dan kehidupan, sebuah nyanyian persembahan.

Ada apa dengan tulisan Tagore, sehingga membuat orang itu dapat melupakan masalah seluruh dunia. Membuat juga seseorang seperti William Butler Yeath merasa terpengaruh, dan mengakui, bahwa Tagore adalah seperti peradaban India sendiri, merasa puas untuk menemukan jiwa dan menyerahkan diri sendiri dalam spontanitasnya.

Barangkali, penyampaian itu terkesan berlebihan, namun bisa saja hal tersebut adalah iya. Mengingat, jika seseorang sampai menggilai karya, maka hal lain akan mudah menjadi lupa. Maka pengaruhnya akan terus membahana. Meluncur, kencang, tanpa rem. Blong.

Sebagai penutup, berikut serpihan karya Rabindranath Tagore. Bisa dapat dijadikan bukti, apakah orang yang diceritakan oleh William Butler Yeat, juga ia sendiri, tak terlalu mengada-ada. Benarkah, karya penulis asal India itu mendatangkan pengaruh besar, hingga mampu membuat seseorang dapat melupakan masalah dunia?

 

O kau pemenuhan terakhir dari hidupku,

Kematianku, Kematianku, datang dan berbisiklah

padaku!

...

Seluruh kedirianku, milikku, harapanku,

dan seluruh cintaku telah mengalir menuju kau

di kedalaman rahasia.

Satu pandangan terakhir dari matamu

dan hidupku akan selalu kau miliki.

 

(Gitanjali, hlm, 87)

Rujukan:

Badiou, Alain. 2020. Sanjungan Kepada Cinta. Yogyakarta: Circa.

Idris. 1994. Munculnya Manusia. Jakarta: Balai Pustaka.

Imron, D. Zawawi. 1982. Bulan Tertusuk Lalang. Jakarta: Balai Pustaka.

Kurnia, Anton. “Keindahan dalam Kepedihan. Jawa Pos, Edisi Minggu, 4 Desember 2016.

Marvin, N. 1994. The Shawshank Redemption. Roger Deakins, Amerika Serikat: Colombia Pictures. 142 mins.

Mohamad, Goenawan. 2006. Catatan Pinggir 1. Jakarta: Grafiti Pers.

Silver, J. 2003. The Matrix Reloaded.Amerika Serikat: Bill Pope. 138 mins.

Tagore, Rabindranath. 2018. Gitanjali Nyanyian Persembahan Prosa Cinta dan Kehidupan. Surabaya: Ecosystem.

horpe, Scoot. 2002. Berpikir Cara Einstein. Batam: Interaksara.

https://www.youtube.com/watch?v=koQUvUyTyc0

 



[i] M. Helmi, M. Pd, dikenal dengan M. Helmy Prasetya. Pendiri Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan. Dosen STKIP PGRI Bangkalan. “Tentang 9 Fragmen Kata-Kata: Apa Sebenarnya yang Dahsyat Darinya?” adalah sebuah catatan ringan untuk bahan diskusi diri tentang pentingnya susunan bahasa.

 

0 comments:

Posting Komentar