15 Desember 2025

GOD APPARENTLY HAS A SENSE OF HUMOR

Muhri 


Back when I was little, who would have known? Known for being critical and argumentative, I was teased with the nickname tokang kritik or "criticist." This nickname emerged because people were annoyed by my habit of constantly debating others' opinions, even if they were older than me. Of course, those taunts were irritating to me.


In the mind of a naive elementary school kid, I thought I should always say what was on my mind. Right was right and had to be defended tooth and nail. This was, of course, the perspective of a child who believed the truth resided solely in his own head. A strong egocentrism that was still prevalent.

Well, that was my character. It was only natural to be nicknamed according to my behavior. However, it was different at the Islamic boarding school (pesantren). My unusually tall stature at the time earned me another taunt: Kompenni with two 'n's. That taunt was actually first given to my uncle who had studied at the pesantren before me. We were both taller than average for that era. This was during Islamic junior high (MTs). It hurt. I wanted to shrink my body, to become average height. My height back then felt like a flaw. Sometimes, that feeling still surfaces even today.

Actually, kompenni in the plain language of villagers was another term for the Dutch, who were physically taller than Asian races. Of course, it wasn't derived from the Dutch acronym VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie, meaning the United East India Company. Rather, it came from martial arts films set in the colonial era. Barry Prima, George Rudy, and Advent Bangun were famous action stars at the time. And in those films, the Dutch side was called Kompeni.

That dark period brightened a little when I started taking English courses at EQC (English Quick Course). My habitat shifted from the pesantren to the Langkap Barat Mosque. Let's abbreviate it as MLB. MLB was a transit point between Pesantren Timur Duur (PTD) and EQC. I won't dwell on that. This was just before senior high school (SMU).

My critical and argumentative attitude apparently didn't diminish. In fact, it increased because I had more references. And the nickname my friends at MLB gave me was “dosen”. Of course, in quotation marks.

My time at the mosque ended when I enrolled at the Orange Campus (Kampus Jingga), a name derived from the color of the building of a college on the outskirts of Bangkalan. Tokang Kritik vanished; Kompenni vanished; and Dosèn vanished too. The seniors from my village had dispersed, many working as migrant barbers. Others became farm laborers. More than ten years had passed since elementary school. Enough time to erase those two words from their memory.

Kompenni also disappeared because I had become a teacher at the pesantren. An English teacher. The seniors had returned home, while my peers and juniors were reluctant to call me by that name. It was subsequently replaced with "Sir" (Pak). Even seniors started calling me by my name instead of the nickname.

Dosen? My mosque friends had scattered, each following their own life's destiny. Some went to Saudi Arabia, to Jakarta, some to Surabaya. Another one went to Kediri to join his older sister. I'm sure they too have forgotten that nickname. I'll tell their stories another time. But, let me reveal one secret. We were called the Klompen Group.

Time marched on. God always has a humorous plotline, only realized after it unfolds. After delving into literature at the Bulak Sumur Campus, through the referral of a lecturer, I ended up teaching at the Orange Campus. The taunt “dosen” materialized. Sweetly. Although briefly. This new profession gave me the opportunity to read literary works. I first analyzed Bangkalan. Tokang kritik materialized. Several researches on the literary history of Bangkalan and one book, Sejarah Ringkas Kesusastraan Bangkalan ‘A Brief History of Bangkalan Literature’, solidified the profession of a critic. An amateur one, of course.

Besides my interest in literary history, after publishing the Kamus Madura Indonesia Kontemporer ‘Contemporary Madurese-Indonesian Dictionary’, I realized its weakness when Mas Adrian Pawitra published his Madurese dictionary. I manifested that interest by completely revising the dictionary I had published. On this journey of developing my lexicographic world, I encountered a dictionary written by H.N. Kiliaan titled Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek ‘Madurese-Dutch Dictionary’. The first volume was published in 1904 and the second in 1905. It was, of course, in Dutch and published during the colonial era. You can surely connect the dots. The word kompenni materialized when I was forced to learn Dutch. And... Isn't that destiny humorous?

Continue reading GOD APPARENTLY HAS A SENSE OF HUMOR

01 Desember 2025

, ,

GERAKAN SENI DALAM LAUNCHING BUKU

 Bertajuk “Launching Buku From The Stage History Of Madura” Acara ini kelanjutan dari pameran dengan judul di atas. Pelakunya adalah Pak Choirul Anwar. Tempat di San-Rasan Cafe pada 30 November 2025. Sebuah cafe yang ternyata sudah tutup.



Hadir dalam acara seniman-seniman lukis, antara lain: Pak Ir, Pak Syahrul Hanafi, dan Pak Johan. Pak Edi datang kemudian. Sesepuh Bangkalan Pak Doing, Bu Supi, dan Mas Sudarsono. Dari Komunitas Masyarakat Lumpur ada Joko, Jaya, Alan, dan Alfarozi. Halim datang kemudian. Dari akademisi saya dan Ahmad Faishal.

Acara dibuka sekitar pukul 20.05. Helmi berperan sebagai pembawa acara. Dalam format santai dan lebih banyak bergurau acara dimulai dengan sambutan dari pemerintah. Sambutan disampaikan Pak Hendra dari Disbudpar Bangkalan. Meskipun, diklarifikasi bahwa sebenarnya ia hadir secara pribadi. Dalam sambutannya ia mengapresiasi keseriusan Pak Chairul dalam berkarya.



Selanjutnya pemberian karangan bunga oleh anak dan cucu Pak Chairul dalam rangka ulang tahun ke-63. Dilanjutkan dengan penyampaian pembuka oleh seniman pelaku. Ia menyatakan bahwa acara ini merupakan acara biasa saja. Tidak mengharapkan sesuatu yang istimewa. Pernyataan dilanjutkan dengan apresiasi terhadap seniman Bangkalan. Disebutkan satu persatu. Dalam pernyataan tersebut dinyatakan bahwa seni tidak atau sulit untuk memperoleh uang atau valuasi sehingga hanya dengan dedikasi tokoh-tokoh tersebut bisa terus berkarya.

Selanjutnya ia menyatakan bahwa ¾ usianya dihabiskan untuk melukis. Namun, ada jeda sekitar 20 tahun masa tidak produktif. Baru tahun 2022 ia kembali aktif berkarya. Karya tahun 2022 dan setelahnya yang dipamerkan dengan tajuk di atas. Jumlah keseluruhan ada 27 dengan seleksi berdasarkan tema. Rencananya ada tujuh lokasi pameran seluruh Bangkalan. namun dalam realisasinya hanya terjadi di empat tempat yaitu pembukaan di Bangkalan, kemudian Arosbaya, Klampis, dan Kamal. Dalam pengakuannya, Pak Choirul menyatakan bahwa karya tersebut merupakan tafsir pribadi terhadap tema, tidak didasarkan pembacaan mendalam apalagi riset. Akhirnya, ia menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan pracetak sehingga acara ini hanya launching. Selanjutnya pascacetak diharapkan akan ada bedah buku.

Acara selanjutnya merupakan testimoni dari sesama seniman lukis. Testimoni pertama  disampaikan oleh Pak Ir. dalam testimoni tersebut, ia membagikan hubungannya dengan Pak Choirul yang merupakan teman diskusi dan berbagi ide. Dalam kesempatan ini juga ia menyatakan kritik karya bahwa ia lebih suka karya-karya sebelumnya yang lebih kelihatan ke-Maduraannya. Hal ini berbeda dengan karya yang dipamerkan yang cenderung “abstrak”. selain itu ia mengapresiasi acara ini. Ia menyatakan bahwa tidak semua seniman mampu melaksanakan kegiatan semacam ini.

Testimoni selanjutnya oleh Pak Syahrul. Ia mengapresiasi semangat, totalitas, dan ketiadaan tendensi Pak Choirul dalam berkarya. Ia mengistilahkan ketiganya dengan “kegilaan”. Ia juga menyatakan bahwa “kegilaan” tersebut memotivasinya untuk kembali berkarya.

Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Santoso Madura. Ia seorang pegiat seni dan ASN di MTsN 1 Pamekasan. Mungkin guru. Entahlah. Puisi yang pertama “Cintaku Padamu”. Sebuah puisi tentang kecintaan pada Madura.



Selanjutnya penyampaian materi oleh Joko Sucipto. Dalam bahasa KML pembincang. Dalam pemaparannya Joko menyatakan bahwa dalam buku terebut ia hanya berperan sebagai perancang buku dalam layout dan susunan teks. Kemudian Joko menanggapi kritik yang mempermasalahkan mengapa acara diberitajuk dalam bahasa Inggris, Apakah tidak mencintai bahasa Indonesia? Joko menjawab dengan pertanyaan, “Mengapa bukan malah dengan bahasa Madura?” Dengan jawaban ragu ia menyatakan mungkin hendak membawa ke-Maduraan dalam ruang universal.

Kembali selingan puisi. Kali ini dua puisi lagi. Pertama berjudul “Setetes Darah Basahi Indonesiaku”. Katanya puisi ini didasari sebuah lukisan. Puisi kedua berjudul “Bila Kau Lihat”.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi. Pertama Pak Doing. Beliau mengingatkan yang hadir pada seorang guru. Seorang pelukis bernama Pak Sumaji. Beliau menyatakan seniman memiliki kepekaan zaman dan terkadang karyanya merupakan proyeksi masa depan. Ia menceritakan lukisan Pak Sumaji yang dominan warna merah, kuning, hijau yang ternyata merupakan visi masa depan tentang politik yang mengubah partai menjadi tiga yaitu PPP (hijau), PDI (merah), dan Golkar (kuning). Untuk mengenang seniman tersebut, ia meminta yang hadir memberi hadiah fatihah kepada beliau.

Komentar selanjutnya oleh Acong. Ia menyampaikan posisinya sebagai salah satu penggagas pameran tersebut. Bahwa dalam tajuk berbahasa Inggris tersebut kata stage (panggung) merupakan idenya yang diambil dari konsep dramaturgi. Bahwa kegiatan ini dibungkus dalam dialektika aksi dan reaksi. Bahwa selain berkarya, ada gerakan atau aksi yang diharapkan menghasilkan reaksi. Dialektika ini yang diharapkan menggerakkan sistem kesenian Bangkalan menjadi terbaca secara nasional. Ia menyayangkan lukisan ini hanya diapresiasi tingkat lokal. Ia membayangkan jika lukisan ini diapresiasi tingkat nasional oleh pelukis-pelukis misalnya di Yogyakarta. Apresiasi tingkat nasional ini pastinya akan membuat lukisan ini tidak sekedar karya. Tetapi memiliki nilai jual. Begitu kira-kira maksud dari Acong.

Selanjutnya Mas So. Dengan mendasari pengalamannya sebagai seniman tari, ia pesimis dengan kata pelestarian. Seni bisa lestari menurutnya hanya dengan rasa suka. Ia juga tidak percaya dengan konsep pengkaderan. Saya tidak mengerti awalnya. Baru saya paham ketika acara selesai ternyata ini terkait dengan pengalaman pribadi soal penerusnya.

Terakhir Helmi menguatkan pernyataan Acong. Soal pembicaraan mengenai awal pameran. Soal pematangan konsep-konsep, dsb.

Setelah acara ini, saya mengerti satu hal. Bangkalan sulit melenting atau mumbul sebab reduksi nilai dalam seni. Seni yang medioker. Ada satu kelemahan besar dalam gerakan yaitu “pendalaman”. Karya yang dibuat untuk event. Pola gerakan ini juga yang mendasari pameran. Yang mungkin dilupakan adalah karya seni dan budaya merupakan “bagian” dari penciptanya. Pencipta tidak berjarak dengan karyanya. Satu kata antara otak, hati, dan karya. Seperti Tirani dan Benteng dibandingkan dengan Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Dua karya yang ditulis oleh penulis yang sama, Taufiq Ismail, namun dengan getaran yang berbeda. Tirani dan Benteng ditulis sambil ikut menjadi pendemo, sedangkan MAJOI ditulis dengan perspektif pengamat. Tirani dan Benteng menyatukan ide, rasa, dan karsa. Sedangkan MAJOI hanya menyampaikan ide, minim rasa dan karsa.

Akhirnya, kegiatan ini hanya satu babak dari babak-babak panjang yang lalu dan yang akan datang. Berakhir kira-kira pukul 22.10. 

Continue reading GERAKAN SENI DALAM LAUNCHING BUKU