23 Maret 2026

,

MENGHITUNG TAKBIR

 Muhri

Ya. Anda tidak salah. Menghitung takbir. Tapi ini bukan soal takbir malam Idulfitri dan Iduladha antara Muhammadiyah dan NU. Meskipun sebenarnya bukan NU dan Muhammadiyah yang selalu berhadapan. Muhammadiyah bertakbir dua kali sebelum lafaz tahlil. NU tiga kali sebelum tahlil. Ini tentang takbiratul Ihram.

Ceritanya, ada seorang sesepuh yang menjadi imam di Masjid Langkap Barat (MLB). Kita sebut saja Haji Badar. Ia salah satu yang mengerti agama di masanya. Katanya, ia sering mustamè’an di Jambu. Kurang lebih maksudnya ikut mendengar pengajian. Dan jambu merujuk pesantren besar satu-satunya di desa Jambu, Burneh.



Pada prinsipnya, kami remaja yang biasa tidur atau menginap di MLB menghormati beliau sebagai sesepuh. Cium tangan saat berjumpa. Mengagguk hormat sebagai takzim. Juga semua unggah-ungguh yang lain.

Semua berjalan sebagaimana mestinya. Normal. Biasa. Tak ada masalah. Sampai otak kritis saya menemukan satu fakta menggelitik.

“Allahu akbar” seperti umumnya takbir. Tapi, tangan yang telah diangkat itu tidak segera bersedekap. Ia kembali dalam posisi standby untuk takbir lagi. Tidak pasti berapa kali beliau takbir saat memulai salat pada tiap salatnya. Teman-teman yang lain enjoy saja.

Jiwa heroik saya tidak terima. Ini prinsip. Menyangkut sah atau tidaknya salat. Dan saya yang tahu harus, wajib, mengingatkan. Saya ingat pernah mengaji Kifāyat al-Akhyār. Dalam kitab itu, takbiratulihram adalah iftitāh atau pembuka. Dan tidak mungkin membuka satu pintu dua kali. Artinya, takbir pertama membuka, takbir kedua menutup, dan takbir ketiga membuka lagi. Intinya, takbir ganjil membuka, takbir genap menutup.[1]

Saya pun mengingatkan teman-teman. Kemampuan provokatif saya rupanya efektif. Masuk. Kena.

“Percuma kalian salat jika bermakmum pada imam yang batal” kataku.

Selanjutnya memberi arahan untuk menghitung berapa beliau bertakbir. Mereka menghitung. Satu. Dua. Tiga. Jika ganjil mereka masuk jadi makmum. Dan sebaliknya, jika genap satu persatu mundur.

Semua berjalan biasa sampai beliau akhirnya menyadari. Dari mihrab mungkin terlihat kami berjamaah di bagian belakang. Membuat jamaah salat baru. Tentu setelah terjadi berkali-kali. Beliau tersinggung. Tak mau jadi imam kembali. Otak muda kami hanya tersenyum. Dia tak mau, toh kami bisa jadi imam.

Suatu waktu, selepas magrib, beliau datang. Maksudnya baru datang. Bukan menjadi imam seperti biasa. Beliau mengajak kami beradu ilmu. Untuk menghormat kami ikut membentuk lingkaran di serambi masjid.

Beliau menanyakan alasan kami mufāraqah dan membuat jamaah salat baru. Kami serentak menjawab alasan kami melakukannya. Beliau tidak percaya.

Saya segera membuka kitab Kifāyat al-Akhyār dan menunjukkan pernyataan yang menjadi dasar perbuatan kami. Tentu beliau tidak akan bisa baca kitab kuning itu. Saya pastikan tidak akan bisa.

Dengan percaya diri beliau bertanya. Saya tahu tujuannya untuk mempertahankan kehormatan sebagai orang yang lebih tua.

“Hukum Islam ada berapa?”

Kami menjawab sama. Ada lima yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Dengan yakin. Tapi beliau menjawab hukum Islam ada dua taklifīyyah dan waḍ‘īyyah. Tentu tak ada yang mau mengalah. Merasa paling benar.

Ternyata baru saya ketahui bahwa yang beliau maksud bukan hukum Islam. Hukum syar’. Baru kami ketahui di pelajaran SMU muatan lokal uṣūl al-fiqh. Sebuah kitab yang disusun oleh pengasuh berjudul Miftāḥ al-Wuṣūl menjelaskan hal itu.[2]

Beberapa bulan setelahnya, dari pertanyaan bapak, saya tahu bahwa kasus ini luas diketahui masyarakat. Bapak mengonfirmasi dengan bercerita dan sesekali bertanya. Seorang famili yang juga santri senior dicurhati oleh ba badar. Santri senior tersebut menengahi dengan berkata. “Sebaiknya Anda tidak berpolemik dengan anak-anak remaja itu. Generasi tua seperti kita tak akan menang. Lihat tumpukan kitab kuning mereka.” Yang dimaksud adalah kitab-kitab kami hasil ngaji hataman bulan puasa.

Setelah peristiwa diskusi tersebut, beliau tidak pernah salat Magrib dan Isya di masjid. Seperti kebanyakan anak remaja, kami pun tak peduli. Bahkan, sejak saat itu kami tidak lagi respek terhadap beliau.

 



[1] Taqiyyuddīn Abū Bakr bin Muḥammad al-Ḥusaynī al-Ḥiṣnī, Kifāyat Al-Akhyār, juz 1 (Surabaya: Maktabah Mahkota, t.t.) p 105.

[2] Aḥmad Jauhari ‘Arīs, Miftāḥ Al-Wuṣūl (Surabaya: al-Iḥsān, t.t.) pp 2-3 

Continue reading MENGHITUNG TAKBIR

16 Februari 2026

, , ,

INTIHANAN: UJIAN, HAFALAN, DAN NANO-NANO

Muhri

Ini cerita tentang siang sampai sore dalam masa kecil saya. Madrasah Ibtidaiyah. Sekarang ditambah kata Diniyah. Disingkat madin. Sekolah keagamaan yang berkarakter formal tapi dianggap nonformal. Secara jenjang, sekolah ini persis seperti SD. Ada kelas, ada kurikulum, ada kenaikan kelas, ada kategori umur, dsb. Semua persis seperti SD. Bedanya, sekolah ini “tidak diakui” pemerintah. Tidak ada pencatatan yang mumpuni. Bahkan sebagian tidak tercatat. Meskipun, jika dilihat dari kaca mata yang lebih luas, sekolah formal di bawah Kemenag memang selalu menjadi “anak tiri”. Seolah-olah yang masuk madrasah adalah pengungsi yang membayar pajak berbeda dari manusia yang masuk sekolah (nonkemenag). Ah, sudahlah. Nanti malah jadi cerita politik. Baiknya saya kembali ke topik. Di balik hiruk-pikuk status birokrasinya yang rumit, ada satu tradisi yang membentuk memori kolektif kami: Intihanan.

ilustrasi dibuat menggunakan Gemini AI

Menceritakan masa sekolah secara penuh juga tidak akan bisa sekali tulis. Jadi, sesuai judul dan tulisan yang dituntut singkat, saya akan bercerita tentang intihanan seperti judul. Kata ini tentu bahasa Madura. Paling tidak imbuhan -an yang merupakan sufiks Madura, mungkin juga Jawa. Intihan itu pelafalan kami yang belum terlalu fasih bahasa Arab waktu itu. Mungkin juga dari orang tua-tua yang bacaan Arab dan pemahaman maknanya juga kurang.

Beberapa tahun setelah madrasah ini, baru saya tahu bahwa bacaan yang benar adalah imtihan, istilah ini sudah menjadi lema dalam KBBI. Dalam transliterasi Arabnya ditulis imtiḥān. Mungkin karena orang Madura tidak mengenal deret konsonan [mt] sehingga lamtoro menjadi lantoro, dengan bunyi [h] pada suku terbuka di akhir untuk orang Madura barat. Dalam pencarian kata dalam kamus Madura hanya ada kata amtennar, dengan dua <nn>.[1] Tapi ada variasi lain yaitu antennar. Itu pun serapan dari bahasa Belanda ambtenaar ‘pegawai sipil’.[2] Sepertinya ada asimilasi dalam penyerapan. Deret [mt] diasimilasi menjadi [nt] dalam serapan. Ini mungkin penyebab orang yang tidak terlalu fasih bahasa Arab cenderung melafalkan intihan.

Nah, intihanan ini merupakan peristiwa yang ramai rasanya. Seperti sponsor permen nano-nano yang anak sekarang tak akan tahu. Sudah tidak populer lagi. Ada cape, takut, tekanan, dan ambisi. Bagamana tidak? Kelas satu saja hafalan doa salat lengkap, dari lafal niat sampai dengan tasyahud akhir. Dan imtihan itu benar-benar imtihan. Kami diadu hafalan di atas panggung. Ditanya dengan sebenar-benarnya. Ya. Imtiḥān (امتحان) memang berarti ‘ujian’.[3] Akar katanya maḥana (محن) yang berarti ‘menguji’. Ada momen dalam sekitar satu bulan ibu selalu membangunkan saya setelah subuh. Dan tak ada kata libur. Harus hafalan. Tak lancar? Alamat tidak bisa main sepulang SD. Jumat sore dan Minggu pagi terancam hilang waktu untuk bermain. Ya. Hari-hari paling melelahkan dalam hidup. Pagi buta hafalan; SD sampai siang; madrasah siang sampai sore; dan ngaji sampai menjelang isya. Di sela itu? hafalan. Hasilnya? Juara kelas.

Mungkin deskripsi ini tidak menggambarkan penuh suasananya. Anda bayangkan anak kelas satu SD diadu kelancaran hafalan. Di bawah, sorot mata orang tua melihat cemas penuh harap. Apalagi, ibu yang serius dalam pendidikan saya. Beruntung yang orang tuanya tidak terlalu perhatian. Mereka tak punya beban. Yang penting hafal sampai akhir dan naik kelas.

Kelas dua tidak kalah seru. Ada beberapa kitab yang harus dihafal. Salah satunya المبادئ الفقهية علي مذهب الإمام الشافعي yang harus dihafal sekitab penuh. Ada 4 jilid seingat saya. Kami menyebutnya mubādi’ meskipun yang benar mabādi’. Beberapa yang lain saya lupa. Mungkin karena sudah terlalu lama. Mabadi’ saja saya ingat karena sampai hari ini masih diajarkan di madrasah. Kebetulan saya dapat tauhid. Hafal? Iya. Ngerti? Jelas tidak.

Imtihan dengan hafalan satu kitab tamat ketika ada guru tugas dari Darul Hikmah. Hafalan tetap ada. Naik panggung. Tapi, nilai ditentukan rapot hasil ujian akhir. Paling tidak ini sedikit pencerahan. Mereka bercerita. Tentang pesantren. Tentang ilmu agama. Tentang banyak hal. Dan saya terinspirasi. Inilah mungkin salah satu alasan saya memilih Darul Hikmah setelah lulus SD.

 

 



[1] Kiliaan, H. N. 1904. Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek Eerste Deel. Leiden: E.J. Brill. Hlm 8

[2] Osselton, N., and R. Hempelman. 2003. The New Routledge Dutch Dictionary. London & New York: Routledge. Hlm. 25

[3] Munawwir, Ahmad Warson. 1997. Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif. Hlm. 1315

Continue reading INTIHANAN: UJIAN, HAFALAN, DAN NANO-NANO

09 Februari 2026

,

PLATFORM: MENGIMPOR KATA YANG TAK TERDEFINISIKAN DAN TAK TERMAKNAKAN

Muhri

 

Apakah Anda pernah mendengar kata platform? Dari bahasa Inggris asal kata tersebut. Ditulis dengan tanpa perubahan. Kata ini diadopsi penuh tanpa mempertimbangkan klaster /rm/ yang tidak pernah ada dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut bisa ditemukan dalam KBBI VI daring. Setelah edisi V dicetak tahun 2010-an, pengembangan KBBI dilakukan dalam bentuk laman web daring.

gambar ilustrasi dibuat Gemini AI

Tapi kali ini kita tidak akan membahas bentuk dan asal kata. Seperti sebelumnya pada kata petisi dan kompetensi dalam sebuah esai ringan berjudul “Petisi, Kompetensi, dan Serapan yang Lambat: Makna Terpakai tanpa Kodifikasi Istilah”, kali ini kita akan mebahas kasus yang sama pada kata platform[i]. Ya. Kali ini kita akan membahas makna yang tidak terdefinisi dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Kata yang dalam bahasa Indonesia sering digunakan tetapi dalam kamus terbaru tidak tersedia. Perhatikan dan baca judul dan isi berita[ii] berikut.

·       Cek Paket Nikah di Jakarta Semudah Order Ojol, Platform Ini Tampilkan Harga dengan Transparan

·       Perencana Keuangan Andi Nugroho Ungkap 5 Cara Pilih Platform Emas Digital Aman Pasca Skandal China

·       5 Platform Legal Pengganti DrakorID dan Dramacool: Nonton Drama Korea Aman dan Bebas Iklan

Kata platform dalam tiga berita tersebut memiliki makna antara lain: ‘situs web’, ‘aplikasi’, dan ‘layanan digital’. Sekilas kita sudah paham makna kata plaform tersebut sebab sudah biasi ditemui dalam berbagai wacana kekinian. Namun, perhatikan dalam KBBI VI daring. Kata platform berarti sebagai berikut.

1.     rencana kerja; program

2.     pernyataan sekelompok orang atau partai tentang prinsip atau kebijakan

3.     tempat yang tinggi; panggung; pentas; mimbar

4.     beranda stasiun; peron[iii]

Mari bandingkan dengan definisi dalam kamus Oxford daring berikut.

1.     the raised flat area next to the track at a train station where you get on or off the train

2.     a flat surface raised above the level of the ground or floor, used by public speakers or performers so that the audience can see them

3.     a raised level surface, for example one that equipment stands on or is operated from

4.     the type of computer system or the software that is used

5.     the aims of a political party and the things that they say they will do if they are elected to power[iv]

Dari keempat arti dalam KBBI, adakah yang berkaitan dengan ilmu komputer? Jelas tidak ada. Coba perhatikan definisi keempat dalam definisi kamus Oxford. Jika diterjemahkan secara sederhana, definisi tersebut berarti ‘tipe sistem komputer atau perangkat lunak tertentu yang digunakan’. Sebagai pembanding, definisi ini telah ada pada Oxford Advanced Learner’s Dictionary edisi tujuh tahun 2005[v].

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara penggunaan kata platform dalam kehidupan sosial dan kodifikasi istilah yang begitu lebar. Definisi dalam KBBI terlihat terlalu menggeneralisasi makna platform sehingga tanpa contoh kalimat definisi tersebut menjadi gagal atau tak terdefinisikan. Selanjutnya, lembaga kebahasaan seperti badan bahasa dan balai bahasa akan kehilangan “kesaktiannya” ketika masyarakat menggunakan istilah-istilah tersebut dengan mengabaikan apakah definisi tersebut ada atau tidak dalam KBBI.



[i] Kata ini tidak dicetak miring sebab merupakan kata serapan.

[ii] Contoh yang lebih luas bisa ditemukan dengan menekan judul berita yang terhubung dengan url berita.

[iii] Contoh kalimat saya hapus

[iv] Seluruhnya ada 8 arti

[v] “platform, n.” dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary, ed. ke-7 (Oxford: Oxford University Press, 2005), hlm. 1153

Continue reading PLATFORM: MENGIMPOR KATA YANG TAK TERDEFINISIKAN DAN TAK TERMAKNAKAN