11 Februari 2022

,

Sesuatu—(Sifat dan Sikap) yang Paling Lembut akan Bekerja Secara Mengagumkan

 

M. Helmi Prasetya[1]

 

/1/

 

Dalam sebuah pengantar buku Woman and Social Injustice karya Mahatma Gandhi dan diterjemahkan oleh Siti Farida, Rajkumari Amrit Kaur, seorang pejuang pergerakan wanita dari India menyebut bahwa, “Kaum perempuan adalah perwujudan dari pengorbanan dan penderitaan.” Kalimat yang mendapat pertentangan tersebut sebenarnya suara Gandhi yang diulangnya sebagai penegasan mengenai kedudukan perempuan di mata Gandhi. Kontroversi memang, setidaknya ada aroma ke arah sana. Karena mengundang perspektif yang dianggap merendahkan perempuan, meski sebenarnya yang dimaksudkan Gandhi dalam tulisan itu, adalah sisi kemuliaan, sisi peran yang ditujukan bahwa sebenarnya—karena pengorbanan dan penderitaan itu, perempuan harus mendapat kedudukan dengan selayak-layaknya, sehormat-hormatnya.

 

Lantas apa hubungannya dengan novel berjudul Di Balik Tirai Malaya yang ditulis seorang pekerja migran Indonesia di Malaysia bernama pendek Zai? Tentu berhubungan: mendasar dan searah. Lantaran novel bersampul seorang perempuan berjilbab yang tengah memandang menara kembar Petronas itu di dalamnya berisi kisah-kisah yang hampir sepenuhnya adalah pengorbanan dan penderitaan seorang perempuan. Jelasnya, novel bertebal 247 halaman tersebut sangat bisa memberi jawaban nyata dari apa yang menjadi perdebatan mengenai kedudukan perempuan selama ini —baik di suatu situasi, suatu keadaan, maupun pada banyak keberadaan. Novel yang terdiri atas 30 judul cerita tersebut benar-benar membutikan bahwa apa yang disampaikan Gandhi barangkali nyaris 100% benar.

 


Sebut saja betapa menderitanya Inna (tokoh utama bernama lengkap Innara Izzatunnisa). Di usianya yang belia, ia harus mengorbankan banyak hal untuk berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit hanya karena berkeyakinan cita-citanya akan terjawab. Pilihan yang menekat harus bekerja ke Malaysia, terjebak di rumah pelacuran, ditampar siksa dan diperkosa majikan, ditipu familinya sendiri, ditimpali hutang sana sini, diburu kepolisian dan pengadilan Malaysia, dan lain sebagainya—adalah sebuah perjalanan yang amat memuramkan. Bahkan hingga akhir kisah, harus kehilangan suami yang berhasil ia lalui dengan bersusah payah agar bisa mencintai. Walau cintanya di dalam cangkir yang sejati, berhasil ia dapatkan kembali.

 

Apa yang terjadi pada Inna selama di perantauan, pada banyak sisi seakan menjelaskan sesuatu yang pernah ditulis oleh Rabindranat Tagore dalam buku prosa cintanya, Gitanjali, yang berbunyi “Ibu, aku akan mengayam sebuah rantai mutiara untuk lehermu dengan penderitaanku.” Demikian Tagore menulis, dan demikian juga tokoh Inna beraksi dalam penderitaan yang tak habis-habis menyeretnya. Inna, dalam perannya, pada bagian yang ingin lurus, begitu sering teringat kepada sosok ibu, yang tentu, dalam segala aspek kehidupan, (ibu) adalah puncak tersakral dari segala doa. Barangkali apa yang terjadi pada Inna akan mirip seperti kejadian di dalam teks Tagore jika diadegankan.

 

 

/2/

 

Katakanlah sekilas, demikianlah yang tersaji di dalam novel yang ditulis oleh perempuan asal Dusun Rabasan, Duwak Buter, Kwanyar, Bangkalan itu. Membacanya, saya akui ketegangan dan rasa asyik menjadi satu. Kesal tentu. Dan senyum-senyum sendiri apalagi—tak terhindarkan. Tapi betapa runut dan mengalir indah sebagai sebuah cerita yang memang tak punya kepentingan apa-apa selain “seolah-olah” hanya ingin berbagi alaman penulis tentang hal-hal khusus dalam hidupnya selama di negeri orang. Memberi impresi penting. Maksudnya aspek original yang terpancar dari novel ini amat patut diakui seperti menawarkan revelasi yang mungkin amat kita butuhkan di masa sekarang. Untuk membentuk sekeping pandangan, cikal berpikir, bekal keinginan, memutuskan sesuatu, atau sebagai pembuka ruang bagi segala waham agar bisa diluruskan. Terutama bagi perempuan Madura itu sendiri, yang mungkin nasib hidupnya hendak dimulai dengan pergi merantau seperti yang dilakukan oleh tokoh Innara.

 

Kultur Madura serupa life style atas dasar tatanan ekonomi “masyarakat dalam”—yang memiliki kecenderungan untuk merantau juga melekat kuat mengelindingi kisah. Jika meninjau muatannya yang menopang, akan terasa tujuannya bukan preventif, lebih dari itu. Lebih sebagai maksud membuka diri agar siapa pun yang bernyata siaga menjadi pekerja migran, hendaknya tak memodalkan sikap enteng dan asal berangkat. Butuh persiapan kukuh, utuh, bersama mental-psikologi: deep gaze. Bahkan tentunya hal terburuk sekalipun harus benar-benar diilusikan hidup-hidup. Bukan sekadar melintas mentah dan ditepis begitu saja.

 

Pada bagian inilah—justru, secara umum novel yang latar regulasi bersastranya sangat tak berjarak dari aspek religius, ternyata mampu memunculkan hal-hal menakjubkan meski suara cerita yang disuratkan terkesan sepele. Mendebarkan sisi gelap. Misalnya siapa yang menyangka gadis selugu Inna, yang masih berusia 17 tahun, dengan polosnya ingin membantu sang bapak (menjadi pekerja migran) dengan tujuan agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah sampai ke menara gading, justru terjebak dari itu. Klise. Tuturan yang biasa. Juga perkataan yang ringan. Tapi dari sanalah semua penderitaan muncul. Setelah makin bertekad, dari sanalah seluruh pengorbanan Inna dimulai. Dari ditipu kerabat dekat, menjadi buron, tidur dalam rumah pelacuran, diperkosa, dan seterusnya. Siapa yang menyangka, dari keinginan sederhana itu, berbagai kehancuran menghadang.

 

 

/3/

 

Apa yang diceritakan dalam novel Di Balik Tirai Malaya oleh Zai ini demikianlah adanya. Patut disampaikan kisahnya cenderung populer. Bukan hal baru pula. Biasa adanya. Tapi tak kalah dengan novel-novel sejenis yang ditulis pengarang yang sudah punya nama besar seperti Habiburrahman El-Shirazy, Abidah el-Kalieqy, Asma Nadia, dan lain-lain. Sungguh tak kalah. Turut bangga mengetahui kehadirannya. Dasar sebagai karya sastra yang punya prinsip jelas juga tertera. Setidaknya searah dengan apa yang disampaikan Y.B. Mangunwijaya, yang disebutkan oleh Tia Setiadi bahwa pada mulanya seluruh karya sastra adalah religius. Novel Zai ini, secara impulsif tak bisa lepas dari ruang religius memang. Hal ini disebabkan latar budaya pengarang yang lekat dengan Madura.

 

Tapi sekali lagi, bukan objek itu yang menjadi daya tarik, melainkan serangkaian peristiwa kelam yang dibuka dengan cara menyajikan (secara tak langsung) adegan-adegan yang “seakan-akan” menjelaskan seperti apa seharusnya perempuan bersikap jika suatu waktu ketiban masalah yang bakal menghancurkan. Lepas di satu sisi persoalan takdir juga jadi perhitungan yang tak bisa dihampakan. Bukan untuk mengajarkan, tetapi artinya—bagaimana  mungkin seorang tokoh lembut seperti Innara Izzatunnisa, yang belia dan hijau, bisa meloloskan diri dari kungkungan iblis yang hadirnya tak diduga-duga. Jauh di negeri orang. Toh ia bukan seorang Kartini yang dikeliling kekuatan material. Bukan Kunti atau Gandari yang ditebari kecemerlangan mahkota singgasana. Innara, hanya seorang tokoh—representasi seorang pekerja migran yang tak tahu apa-apa dan hanya bermodal kepolosan. Gadis desa, sayu, dengan perilakunya yang mendayu.

 

Di titik itulah sebenarnya yang menjadikan novel ini memiliki rasa dahsyat. Hingga menyeluruh. Tak mudah mengusung kepolosan tokoh dengan cara yang total. Kejadian pemerkosaan tak terjadi sebatas yang terjadi. Tapi bagi pembaca yang jeli, bagian inilah (salah satu dari sekian kelembutan tokoh Inna) yang berhasil menyelamatkan keadaan Inna di kemudian hari. Bagian yang tak sekadar menjelaskan buruknya ruang-ruang yang mengarah ke zina apa pun modusnya. Juga pada satu titik terendah ketakberdayaan seorang perempuan, terdapat sebuah hal yang tak boleh lepas dari jiwa. Sesuatu di atas keyakinan. Di atas kepastian-kepastian yang terkeping. Yakni, unsur yang tak semata-mata logos, melainkan revelasi-revelasi yang menyadari bahwa manusia tak akan bisa lupa kekuatan doa, hukum doa, dan hasil doa.

 

Memang lucu argumen ini. Subjektif. Namun perlu ditegaskan, apa yang disajikan oleh Zai selaku penulis, adalah sesuatu yang menjawab seperti apakah keajaiban bekerja? Aspek logos yang tak melulu sebagai aspek tunggal dan tak bisa diganggu gugat? Ataukah ada ruang lain yang bekerja hingga ke tingkat sublim? Inna yang diperkosa dan mahkotanya akhirnya terenggut, memilih calon suami antara orang yang memperkosanya atau orang yang telah mampu dirasakannya dengan cinta, merupakan timbal balik yang mengenyahkan logika hingga ke aspek kritis. Pilihan-pilihan yang Inna aksikan bersama sifat dan sikapnya, segala itu bukan pilihan gampang. Tapi sekecil apa pun kekuatan yang tersisa, selagi itu sesuatu yang benar-benar murni dari dalam jiwa kita, hadiahnya tentu: mengagumkan.

 

Seperti bunyi puisi berjudul “Cinta” yang ditulis oleh perempuan asal Jakarta, Novy Noorhayati Syahfida di bawah ini,

 

ada jejak yang tak terhapus

oleh waktu sekalipun

ribuan huruf menjelma tangis

dalam air mata

dalam secarik pinta

 

Daftar Rujukan

 

el-Kalieqy, Abidah, dkk. 2012. Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Kartini 2012. Jakarta: Kosa Kata Kita

Gandhi, Mahatma. 2011. Kaum Perempuan dan Ketidakadilan Sosial (Terjemahan Siti Farida). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Setiadi, Tia. 2019. Semesta dalam Satu Tarikan Nafas. Yogyakarta: Diva

Tagore, Rabindranath. 2018. Gitanjali. Ecosystem: Surabaya

Zai, 2021. Di Balik Tirai Malaya. Sumatra Utara: Ujung Pena



[1] Pendiri Komunitas Masyarakat Lumpur dan Dosen STKIP PGRI Bangkalan

Location: Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia

0 comments:

Posting Komentar