25 September 2026

, , ,

BLÈTER BUKAN KULIT DAN PLASTIK

Kali ini saya ingin bercerita tentang bola. Permainan bola tepatnya. Permainan yang telah saya kenal sejak masa kecil.

Permainan yang paling banyak disukai dan paling banyak ditonton di dunia ini memang menyenangkan. Bagi yang suka, tentunya. Sayangnya, saya bukan salah satu dari mereka yang mayoritas itu.

Sejak kecil saya memiliki kecakapan fisik yang tidak bagus. Keterampilan yang cenderung kinestetik tidak pernah saya kuasai dengan baik. Dalam hal apa pun. Silat, hadrah, voli, dan sepak bola merupakan permainan-permainan yang akrab dalam masa kecil saya. Dan dari semua yang saya sebutkan tadi, tidak ada yang bisa saya kuasai dengan baik. Bahkan, setengah baik pun tidak.

Tentang sepak bola. Ada satu hal yang saya ingat. Bolanya.



Waktu kecil kami hanya mengenal dua bola: bola plastik dan bola blèter. Dalam bahasa Madura bal plastik dan bal blèter. Bola plastik pasti sudah tahu. Dalam pemahaman kami blèter merujuk pada bola kulit yang dimainkan pada permainan “serius” dan harganya mahal.

Masa itu, nama blèter tidak ada bedanya dengan bahasa Madura lain. Mungkin seperti kata mistar untuk penggaris besar dari kayu dan penggaris plastik kecil yang kami sebut ghârisân. Bahasa biasa dan tidak merujuk pada bahasa lain. Tidak mengeluarkan simbol bohlam dan bunyi ting. Maklum, meski bilingual sejak kecil, bahasa yang masuk gudang kepala hanya bahasa nusantara. Kesadaran multilingual muncul sejak belajar bahasa Inggris pada kelas tiga tsanawiyah. Kesadaran multilingual tersebut menimbulkan kesadaran tentang kemiripan kata ini dengan bahasa Indonesia atau nusantara. Rasanya ini bukan bahasa Indonesia atau bahasa Nusantara.

Waktu itu tidak ada kemampuan maupun piranti untuk memastikan ini bahasa apa. Pertanyaan sambil lalu itu belum terjawab hingga akhir masa tsanawiyah. Masa SMU juga belum terjawab. Masa kuliah belum terjawab. Masa S2 juga belum. Bahkan saat menulis kamus bahasa Madura ketika saya sudah mengajar mahasiswa. Tentu tidak dengan niat sungguh-sungguh dan fokus. Kilatan pertanyaan itu hanya sambil lalu dan terselip di antara jutaan pertanyaan lain yang remeh sampai yang misterius bahkan absurd. Kata ini tidak terlalu penting dalam dirinya. Ia penting jika menjadi “penyingkapan” dan klimaks di akhir cerita.

Pemunculan kata ini dalam ingatan kepala saya sebenarnya dipicu redefinisi kata blatèr yang saat tulisan ini dibuat berusaha saya perbaiki. Saat itu kemiripan bunyi memicu munculnya kata blèter dalam bahasa Madura. Dalam chat yang sama dengan Gemini saya tanya bola blèter. Dengan salah gemini mengasosiasikan dengan blatèr sebab mengasosiasi dengan pertanyaan kata blatèr dalam chat sebelumnya. Chat itu pun hanya main-main dalam suasana santai. Kesalahan itu pun disikapi dengan penerimaan dan pasrah. Ah mungkin benar-benar bahasa Madura.

Otak kritis saya segera melawan. Menolak menerima dan pasrah. Lagi pula sedang iseng – gabut kata anak sekarang. Saya pun membuat percakapan baru di Gemini. Prompt amat sederhana: “bola bleter?”. Dengan tanda tanya.

Muncullah bahwa itu penyebutan tradisional untuk karet dalam bola yang diisi udara. Bahasa Inggrisnya bladder yang mengacu pada organ hewan berupa kantung membran yang menampung cairan atau gas. Nah, definisi bola ada pada arti kedua yaitu karet dalam bola yang diasosiasikan dengan kandung kemih.

Untuk mamastikan saya mencari di KBBI versi web. Bleter tidak ada. Yang ada beleter. Tapi, tidak ada kemiripan arti sama sekali. Saya pun mencoba mencari di e-commerce Shopee. Mengapa Shopee? Penjual biasa menamai jualannya dengan nama yang akrab di pasaran. Di sana, dengan mengetik “bleter”, muncul kata “bliter”. Ada karet dalaman bola namun lebih banyak baju kerja perempuan. Mungkin kemiripan dengan blazer membuat pencarian AI mengarah pada nama dengan kedekatan bunyi. Saya pun mengetik ulang dari bleter menjadi bliter. Muncullah gambar bola sepak yang strandar. Rupanya kata bliter ini berasal dari bladder yang disalahucapkan oleh pengrajin bola di Indonesia. Dan meskipun sebenarnya mengacu pada karet dalam bola, referensi umumnya mengacu pada bola karet berlapis kulit. Tapi di beberapa penjual bliter mengacu pada dalaman bola. Kata ini beredar luas di masyarakat namun tidak tercantum dalam KBBI.

Akhirnya, eureka!!! Momen puncak pengungkapan. Blèter ternyata berasal dari bahasa Inggris bladder. Kata ini hasil adaptasi dari bahasa sehari-hari bliter dengan mengubah “i” [i] menjadi “è” [ɛ]. Kata ini memang tidak penting. Namun, perjalanan panjang untuk menyingkap tabirnya menjadi pelajaran bahwa dedikasi bisa mengungkap apa yang sebelumnya tersembunyi.

0 comments:

Posting Komentar