Bahasa
bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah cermin peradaban. Di balik setiap
kata, terdapat lapisan sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat penuturnya.
Jika dalam bahasa Madura, anjing (bhurus, patè’) hadir sebagai
cermin moral yang gelap—pengkhianatan, ketamakan, dan kepengecutan—ayam (ajâm)
menjadi kanvas budaya yang kaya akan etos kerja, kritik sosial, dan pengakuan
atas kodrat manusia, serta jagung (jhâghung) menjelma menjadi metafora
tentang kehidupan, perjuangan, nasib, dan hubungan antarmanusia yang dekat
dengan tanah, maka bângal (berani) menempati posisi yang tak kalah
penting. Ia bukan sekadar kata sifat yang menggambarkan keberanian; ia adalah
sebuah pusaka budaya tempat orang Madura melukiskan filosofi harga diri, etika
sosial, kritik terhadap kepengecutan, hingga representasi jati diri dan takdir
manusia.
Sebagaimana
ayam yang mengajarkan etos kerja (ngarkar) dan jagung yang mengajarkan
kesabaran menanti musim, bângal mengajarkan tentang keberanian yang
menjadi napas kehidupan orang Madura. Ia bukan keberanian yang buta, melainkan
keberanian yang terukur, yang tahu kapan harus maju dan kapan harus waspada. Ia
adalah cermin pekarangan jiwa orang Madura—dekat, akrab, dan dihayati.
1. Kekayaan
Kosakata: Lebih dari Sekadar Berani
Berbeda
dengan kata untuk anjing yang relatif miskin variasi teknis-morfologis, dan
sejajar dengan kekayaan kosakata ayam yang memperlihatkan detail pengamatan
masyarakat terhadap alam sekitarnya, kosakata untuk bângal dalam bahasa
Madura memperlihatkan kekayaan pengamatan masyarakat terhadap alam batin
manusia. Kata dasar bângal memang netral, namun dari akar kata ini lahir
variasi penamaan sifat dan perilaku yang luar biasa detail:
Bângalan:
Merujuk pada orang yang memiliki sifat pemberani. Ini bukan sekadar penamaan,
melainkan pengakuan atas kualitas diri yang dihargai dalam masyarakat Madura.
Ngal-mabângal:
Sebutan untuk perilaku pura-pura berani. Ini menunjukkan kemampuan bahasa untuk
mengklasifikasi dunia batin manusia—antara keberanian sejati dan keberanian
palsu. Seperti halnya jâm-ngajâmè yang mengadopsi perilaku ayam ke dalam
tata bahasa sosial, ngal-mabângal mengadopsi perilaku keberanian ke
dalam tata bahasa kritik sosial.
Yang lebih
menarik lagi adalah hadirnya peribahasa bângal ajhuwâl, bângal mellè
yang berarti 'berani menjual, berani membeli'. Ini menunjukkan bahwa
keberanian—sebagaimana perilaku ayam yang diadopsi ke dalam tata bahasa sosial
Madura—telah diadopsi secara langsung ke dalam tata bahasa etika Madura.
Keberanian tidak hanya diamati, tetapi cara bertingkahnya menjadi pola untuk
menggambarkan interaksi antarmanusia, terutama dalam situasi konflik dan
persaingan. Keberanian bukan hanya sifat, melainkan tindakan yang harus
konsisten: jika berani menasihati, harus berani pula melaksanakan apa yang
dinasihatkan.
2.
Peribahasa Bângal: Dari Etika Kerja hingga Sindiran Sosial
Jika
peribahasa tentang anjing banyak memotret sisi gelap moral seperti
pengkhianatan dan kepengecutan, dan peribahasa tentang ajâm menjadi
medium untuk menyampaikan beragam pesan—dari etos kerja, kritik sosial, hingga
pengingat akan kodrat manusia—maka peribahasa tentang bângal menjadi medium
untuk menyampaikan pesan tentang harga diri, konsistensi, dan jati diri.
Keberanian
Sejati dan Konsistensi
Salah satu
peribahasa yang paling fundamental adalah bângal ajhuwâl, bângal mellè 'berani
menjual, berani membeli'. Peribahasa ini, yang senada dengan "berani
berbuat, berani bertanggung jawab," adalah nasihat moral yang mengakar
tentang prinsip bahwa keberanian harus konsisten. Tidak cukup hanya berani
menasihati; harus berani pula melaksanakan apa yang dinasihatkan. Ini adalah
etos dasar masyarakat Madura: keberanian bukan hanya retorika, melainkan
tindakan nyata. Sebagaimana Ajâm mon ngakana ghi' ngarkar kaaḍâ'
mengajarkan bahwa rezeki tidak datang cuma-cuma, bângal ajhuwâl, bângal
mellè mengajarkan bahwa keberanian tidak datang tanpa konsekuensi.
Keberanian
Palsu dan Kepengecutan
Peribahasa bângal
ka tonḍing,
tako' ka tajhem 'berani pada punggung pisau, takut pada
tajamnya' mengandung pesan yang sangat tajam. Peribahasa ini menyatakan bahwa
ada orang yang sok berani di belakang lawan, tetapi ketika berhadapan, nyalinya
menciut. Ini adalah kritik sosial yang halus namun pedas, sebuah pengingat
bahwa keberanian sejati tidak diukur dari posisi atau kesempatan, melainkan
dari keteguhan hati saat berhadapan langsung dengan tantangan. Ini adalah
sindiran bagi mereka yang berani hanya ketika aman, tetapi menciut ketika
bahaya menghadang.
Senada
dengan itu, ngal-bângal marḍâ 'beraninya seperti bara api' adalah
perumpamaan untuk menggambarkan orang yang berbicara besar tetapi penakut. Bara
api memang menyala terang, tetapi cepat padam. Untuk menyalakan harus ditiup. Lagi,
lagi, dan lagi. Ia adalah metafora yang gamblang: seperti bara yang mengotori
keindahan malam dengan nyalanya yang sebentar, orang yang berbicara besar tanpa
tindakan mengotori kepercayaan publik dengan kepengecutannya. Ini adalah
peringatan bahwa keberanian yang tidak didasari oleh keteguhan hati adalah
keberanian yang kosong.
Keberanian
sebagai Jati Diri
Peribahasa mon
lo' bângal acarok, jhâ' ngako orèng Madhurâ 'kalau tidak berani bercarok
jangan mengaku orang Madura' adalah ungkapan untuk menegaskan jati diri orang
Madura yang harus mampu membela harga diri. Ini adalah peribahasa yang paling
revolusioner. Ia menyatakan bahwa keberanian adalah identitas, bukan sekadar
sifat. Untuk mengaku sebagai orang Madura, seseorang harus berani membela harga
diri. Ini adalah kritik sosial yang halus namun tajam, sebuah pengingat bahwa
martabat dan keberanian tidak diukur dari status, kekayaan, atau kekuasaan,
melainkan dari kebenaran hati dan keyakinan.
Sebagaimana Ajâm
katè ta' kala kalèṭṭègghâ
menyatakan bahwa untuk membela kebenaran, orang kecil atau rakyat biasa akan
memberikan perlawanan yang sama gigihnya dengan orang besar, mon lo' bângal
acarok menegaskan bahwa keberanian adalah hak dan kewajiban setiap orang
Madura, tanpa memandang status.
3. Bângal,
Takdir, dan Dinamika Sosial
Selain pesan
moral, bângal juga digunakan untuk memotret dinamika sosial, harga diri, dan
takdir.
Bângalan
adalah pengakuan bijak tentang kualitas diri. Bahkan dalam masyarakat yang
menjunjung tinggi keberanian, tidak semua orang memiliki sifat ini. Ini adalah
nasihat untuk menerima perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, sebagaimana Ajâm
sapatarangan ta' padâ buluna mengajarkan bahwa bahkan saudara sekandung pun
memiliki watak dan jalan hidup yang berbeda.
Ngal-mabângal
adalah perumpamaan yang mengejutkan untuk menggambarkan orang yang pura-pura
berani. Kepura-puraan ini sering dikaitkan dengan insting bertahan hidup, namun
dilebih-lebihkan hingga menjadi konotasi negatif. Ini adalah cermin dari
realitas sosial Madura: bahwa terkadang, jalan hidup tidak selalu lurus, dan
tidak semua orang mampu jujur pada dirinya sendiri.
Di sisi
lain, bângal ajhuwâl, bângal mellè justru merupakan pujian. Ini
menunjukkan bahwa semakin seseorang konsisten dalam keberaniannya, semakin
dihormati ia dalam masyarakat, seperti ayam jantan yang bulunya semakin indah
seiring bertambahnya usia (wa-towa ajâm).
Mon
lo' bângal acarok, jhâ' ngako orèng madhurâ
menggambarkan orang yang memiliki jati diri yang kuat. Ini adalah pernyataan
faktual yang digunakan untuk menekankan bahwa sesuatu memang sudah semestinya
dan tak perlu diperdebatkan lagi, sebagaimana Kabbhina ajam asoko duwa'
menekankan bahwa semua ayam berkaki dua.
Penutup:
Bângal, Cermin Pekarangan Jiwa
Mungkin
inilah yang ingin saya sampaikan bahwa bahasa tidak pernah netral. Di balik
setiap kata bângal dan peribahasa yang menyertainya, terhampar kearifan
lokal yang mendalam. Jika anjing sering diposisikan sebagai "yang
lain," sebuah pembanding moral yang negatif dan dijaga jaraknya, ayam
berada tepat di dalam pekarangan rumah orang Madura—dekat, akrab, dan dihayati,
serta jagung adalah tanaman yang tumbuh di ladang, dekat dengan keringat dan
harapan, maka bângal adalah napas yang menghidupkan pekarangan dan ladang itu.
Ia bukan sekadar sifat, melainkan sebuah pusaka budaya yang mengajarkan konsistensi
(bângal ajhuwâl, bângal mellè), mengkritik kepengecutan (bangal ka
tonḍing,
tako' ka tajhem), menyindir keberanian palsu (ngal-bângal marḍâ),
dan menerima keberagaman (bângalan).
Dari kata-kata
ini, kita belajar bahwa bahasa adalah sistem nilai yang hidup. Melalui bângal,
orang Madura tidak hanya berbicara tentang keberanian, tetapi juga tentang diri
mereka sendiri—tentang keinginan untuk dihormati, tentang ketakutan akan
kepengecutan, dan tentang harapan akan jati diri yang teguh. Bângal,
dengan segala peribahasanya, telah menjadi guru yang diam, yang ajarannya terus
bergema dalam setiap generasi, mengingatkan bahwa untuk memahami sebuah budaya,
terkadang harus mulai dari mendengarkan bisik keberanian di pekarangan jiwa
orang Madura.