26 Oktober 2026

,

MADURA DAN KEBERANIAN: DARI HARIAN KE FILOSOFI, CERMIN BUDAYA YANG HIDUP

Bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi; ia adalah cermin peradaban. Di balik setiap kata, terdapat lapisan sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat penuturnya. Jika dalam bahasa Madura, anjing (bhurus, patè’) hadir sebagai cermin moral yang gelap—pengkhianatan, ketamakan, dan kepengecutan—ayam (ajâm) menjadi kanvas budaya yang kaya akan etos kerja, kritik sosial, dan pengakuan atas kodrat manusia, serta jagung (jhâghung) menjelma menjadi metafora tentang kehidupan, perjuangan, nasib, dan hubungan antarmanusia yang dekat dengan tanah, maka bângal (berani) menempati posisi yang tak kalah penting. Ia bukan sekadar kata sifat yang menggambarkan keberanian; ia adalah sebuah pusaka budaya tempat orang Madura melukiskan filosofi harga diri, etika sosial, kritik terhadap kepengecutan, hingga representasi jati diri dan takdir manusia.

Sebagaimana ayam yang mengajarkan etos kerja (ngarkar) dan jagung yang mengajarkan kesabaran menanti musim, bângal mengajarkan tentang keberanian yang menjadi napas kehidupan orang Madura. Ia bukan keberanian yang buta, melainkan keberanian yang terukur, yang tahu kapan harus maju dan kapan harus waspada. Ia adalah cermin pekarangan jiwa orang Madura—dekat, akrab, dan dihayati.

1. Kekayaan Kosakata: Lebih dari Sekadar Berani

Berbeda dengan kata untuk anjing yang relatif miskin variasi teknis-morfologis, dan sejajar dengan kekayaan kosakata ayam yang memperlihatkan detail pengamatan masyarakat terhadap alam sekitarnya, kosakata untuk bângal dalam bahasa Madura memperlihatkan kekayaan pengamatan masyarakat terhadap alam batin manusia. Kata dasar bângal memang netral, namun dari akar kata ini lahir variasi penamaan sifat dan perilaku yang luar biasa detail:

Bângalan: Merujuk pada orang yang memiliki sifat pemberani. Ini bukan sekadar penamaan, melainkan pengakuan atas kualitas diri yang dihargai dalam masyarakat Madura.

Ngal-mabângal: Sebutan untuk perilaku pura-pura berani. Ini menunjukkan kemampuan bahasa untuk mengklasifikasi dunia batin manusia—antara keberanian sejati dan keberanian palsu. Seperti halnya jâm-ngajâmè yang mengadopsi perilaku ayam ke dalam tata bahasa sosial, ngal-mabângal mengadopsi perilaku keberanian ke dalam tata bahasa kritik sosial.

Yang lebih menarik lagi adalah hadirnya peribahasa bângal ajhuwâl, bângal mellè yang berarti 'berani menjual, berani membeli'. Ini menunjukkan bahwa keberanian—sebagaimana perilaku ayam yang diadopsi ke dalam tata bahasa sosial Madura—telah diadopsi secara langsung ke dalam tata bahasa etika Madura. Keberanian tidak hanya diamati, tetapi cara bertingkahnya menjadi pola untuk menggambarkan interaksi antarmanusia, terutama dalam situasi konflik dan persaingan. Keberanian bukan hanya sifat, melainkan tindakan yang harus konsisten: jika berani menasihati, harus berani pula melaksanakan apa yang dinasihatkan.

2. Peribahasa Bângal: Dari Etika Kerja hingga Sindiran Sosial

Jika peribahasa tentang anjing banyak memotret sisi gelap moral seperti pengkhianatan dan kepengecutan, dan peribahasa tentang ajâm menjadi medium untuk menyampaikan beragam pesan—dari etos kerja, kritik sosial, hingga pengingat akan kodrat manusia—maka peribahasa tentang bângal menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang harga diri, konsistensi, dan jati diri.

Keberanian Sejati dan Konsistensi

Salah satu peribahasa yang paling fundamental adalah bângal ajhuwâl, bângal mellè 'berani menjual, berani membeli'. Peribahasa ini, yang senada dengan "berani berbuat, berani bertanggung jawab," adalah nasihat moral yang mengakar tentang prinsip bahwa keberanian harus konsisten. Tidak cukup hanya berani menasihati; harus berani pula melaksanakan apa yang dinasihatkan. Ini adalah etos dasar masyarakat Madura: keberanian bukan hanya retorika, melainkan tindakan nyata. Sebagaimana Ajâm mon ngakana ghi' ngarkar kaaḍâ' mengajarkan bahwa rezeki tidak datang cuma-cuma, bângal ajhuwâl, bângal mellè mengajarkan bahwa keberanian tidak datang tanpa konsekuensi.

Keberanian Palsu dan Kepengecutan

Peribahasa bângal ka tonḍing, tako' ka tajhem 'berani pada punggung pisau, takut pada tajamnya' mengandung pesan yang sangat tajam. Peribahasa ini menyatakan bahwa ada orang yang sok berani di belakang lawan, tetapi ketika berhadapan, nyalinya menciut. Ini adalah kritik sosial yang halus namun pedas, sebuah pengingat bahwa keberanian sejati tidak diukur dari posisi atau kesempatan, melainkan dari keteguhan hati saat berhadapan langsung dengan tantangan. Ini adalah sindiran bagi mereka yang berani hanya ketika aman, tetapi menciut ketika bahaya menghadang.

Senada dengan itu, ngal-bângal marḍâ 'beraninya seperti bara api' adalah perumpamaan untuk menggambarkan orang yang berbicara besar tetapi penakut. Bara api memang menyala terang, tetapi cepat padam. Untuk menyalakan harus ditiup. Lagi, lagi, dan lagi. Ia adalah metafora yang gamblang: seperti bara yang mengotori keindahan malam dengan nyalanya yang sebentar, orang yang berbicara besar tanpa tindakan mengotori kepercayaan publik dengan kepengecutannya. Ini adalah peringatan bahwa keberanian yang tidak didasari oleh keteguhan hati adalah keberanian yang kosong.

Keberanian sebagai Jati Diri

Peribahasa mon lo' bângal acarok, jhâ' ngako orèng Madhurâ 'kalau tidak berani bercarok jangan mengaku orang Madura' adalah ungkapan untuk menegaskan jati diri orang Madura yang harus mampu membela harga diri. Ini adalah peribahasa yang paling revolusioner. Ia menyatakan bahwa keberanian adalah identitas, bukan sekadar sifat. Untuk mengaku sebagai orang Madura, seseorang harus berani membela harga diri. Ini adalah kritik sosial yang halus namun tajam, sebuah pengingat bahwa martabat dan keberanian tidak diukur dari status, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan dari kebenaran hati dan keyakinan.

Sebagaimana Ajâm katè ta' kala kalèṭṭègghâ menyatakan bahwa untuk membela kebenaran, orang kecil atau rakyat biasa akan memberikan perlawanan yang sama gigihnya dengan orang besar, mon lo' bângal acarok menegaskan bahwa keberanian adalah hak dan kewajiban setiap orang Madura, tanpa memandang status.

3. Bângal, Takdir, dan Dinamika Sosial

Selain pesan moral, bângal juga digunakan untuk memotret dinamika sosial, harga diri, dan takdir.

Bângalan adalah pengakuan bijak tentang kualitas diri. Bahkan dalam masyarakat yang menjunjung tinggi keberanian, tidak semua orang memiliki sifat ini. Ini adalah nasihat untuk menerima perbedaan sebagai sebuah keniscayaan, sebagaimana Ajâm sapatarangan ta' padâ buluna mengajarkan bahwa bahkan saudara sekandung pun memiliki watak dan jalan hidup yang berbeda.

Ngal-mabângal adalah perumpamaan yang mengejutkan untuk menggambarkan orang yang pura-pura berani. Kepura-puraan ini sering dikaitkan dengan insting bertahan hidup, namun dilebih-lebihkan hingga menjadi konotasi negatif. Ini adalah cermin dari realitas sosial Madura: bahwa terkadang, jalan hidup tidak selalu lurus, dan tidak semua orang mampu jujur pada dirinya sendiri.

Di sisi lain, bângal ajhuwâl, bângal mellè justru merupakan pujian. Ini menunjukkan bahwa semakin seseorang konsisten dalam keberaniannya, semakin dihormati ia dalam masyarakat, seperti ayam jantan yang bulunya semakin indah seiring bertambahnya usia (wa-towa ajâm).

Mon lo' bângal acarok, jhâ' ngako orèng madhurâ menggambarkan orang yang memiliki jati diri yang kuat. Ini adalah pernyataan faktual yang digunakan untuk menekankan bahwa sesuatu memang sudah semestinya dan tak perlu diperdebatkan lagi, sebagaimana Kabbhina ajam asoko duwa' menekankan bahwa semua ayam berkaki dua.

Penutup: Bângal, Cermin Pekarangan Jiwa

Mungkin inilah yang ingin saya sampaikan bahwa bahasa tidak pernah netral. Di balik setiap kata bângal dan peribahasa yang menyertainya, terhampar kearifan lokal yang mendalam. Jika anjing sering diposisikan sebagai "yang lain," sebuah pembanding moral yang negatif dan dijaga jaraknya, ayam berada tepat di dalam pekarangan rumah orang Madura—dekat, akrab, dan dihayati, serta jagung adalah tanaman yang tumbuh di ladang, dekat dengan keringat dan harapan, maka bângal adalah napas yang menghidupkan pekarangan dan ladang itu. Ia bukan sekadar sifat, melainkan sebuah pusaka budaya yang mengajarkan konsistensi (bângal ajhuwâl, bângal mellè), mengkritik kepengecutan (bangal ka tonḍing, tako' ka tajhem), menyindir keberanian palsu (ngal-bângal marḍâ), dan menerima keberagaman (bângalan).

Dari kata-kata ini, kita belajar bahwa bahasa adalah sistem nilai yang hidup. Melalui bângal, orang Madura tidak hanya berbicara tentang keberanian, tetapi juga tentang diri mereka sendiri—tentang keinginan untuk dihormati, tentang ketakutan akan kepengecutan, dan tentang harapan akan jati diri yang teguh. Bângal, dengan segala peribahasanya, telah menjadi guru yang diam, yang ajarannya terus bergema dalam setiap generasi, mengingatkan bahwa untuk memahami sebuah budaya, terkadang harus mulai dari mendengarkan bisik keberanian di pekarangan jiwa orang Madura.

Location: Langkap, Kec. Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia

0 comments:

Posting Komentar