15 Desember 2025

GOD APPARENTLY HAS A SENSE OF HUMOR

Muhri 


Back when I was little, who would have known? Known for being critical and argumentative, I was teased with the nickname tokang kritik or "criticist." This nickname emerged because people were annoyed by my habit of constantly debating others' opinions, even if they were older than me. Of course, those taunts were irritating to me.


In the mind of a naive elementary school kid, I thought I should always say what was on my mind. Right was right and had to be defended tooth and nail. This was, of course, the perspective of a child who believed the truth resided solely in his own head. A strong egocentrism that was still prevalent.

Well, that was my character. It was only natural to be nicknamed according to my behavior. However, it was different at the Islamic boarding school (pesantren). My unusually tall stature at the time earned me another taunt: Kompenni with two 'n's. That taunt was actually first given to my uncle who had studied at the pesantren before me. We were both taller than average for that era. This was during Islamic junior high (MTs). It hurt. I wanted to shrink my body, to become average height. My height back then felt like a flaw. Sometimes, that feeling still surfaces even today.

Actually, kompenni in the plain language of villagers was another term for the Dutch, who were physically taller than Asian races. Of course, it wasn't derived from the Dutch acronym VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie, meaning the United East India Company. Rather, it came from martial arts films set in the colonial era. Barry Prima, George Rudy, and Advent Bangun were famous action stars at the time. And in those films, the Dutch side was called Kompeni.

That dark period brightened a little when I started taking English courses at EQC (English Quick Course). My habitat shifted from the pesantren to the Langkap Barat Mosque. Let's abbreviate it as MLB. MLB was a transit point between Pesantren Timur Duur (PTD) and EQC. I won't dwell on that. This was just before senior high school (SMU).

My critical and argumentative attitude apparently didn't diminish. In fact, it increased because I had more references. And the nickname my friends at MLB gave me was “dosen”. Of course, in quotation marks.

My time at the mosque ended when I enrolled at the Orange Campus (Kampus Jingga), a name derived from the color of the building of a college on the outskirts of Bangkalan. Tokang Kritik vanished; Kompenni vanished; and Dosèn vanished too. The seniors from my village had dispersed, many working as migrant barbers. Others became farm laborers. More than ten years had passed since elementary school. Enough time to erase those two words from their memory.

Kompenni also disappeared because I had become a teacher at the pesantren. An English teacher. The seniors had returned home, while my peers and juniors were reluctant to call me by that name. It was subsequently replaced with "Sir" (Pak). Even seniors started calling me by my name instead of the nickname.

Dosen? My mosque friends had scattered, each following their own life's destiny. Some went to Saudi Arabia, to Jakarta, some to Surabaya. Another one went to Kediri to join his older sister. I'm sure they too have forgotten that nickname. I'll tell their stories another time. But, let me reveal one secret. We were called the Klompen Group.

Time marched on. God always has a humorous plotline, only realized after it unfolds. After delving into literature at the Bulak Sumur Campus, through the referral of a lecturer, I ended up teaching at the Orange Campus. The taunt “dosen” materialized. Sweetly. Although briefly. This new profession gave me the opportunity to read literary works. I first analyzed Bangkalan. Tokang kritik materialized. Several researches on the literary history of Bangkalan and one book, Sejarah Ringkas Kesusastraan Bangkalan ‘A Brief History of Bangkalan Literature’, solidified the profession of a critic. An amateur one, of course.

Besides my interest in literary history, after publishing the Kamus Madura Indonesia Kontemporer ‘Contemporary Madurese-Indonesian Dictionary’, I realized its weakness when Mas Adrian Pawitra published his Madurese dictionary. I manifested that interest by completely revising the dictionary I had published. On this journey of developing my lexicographic world, I encountered a dictionary written by H.N. Kiliaan titled Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek ‘Madurese-Dutch Dictionary’. The first volume was published in 1904 and the second in 1905. It was, of course, in Dutch and published during the colonial era. You can surely connect the dots. The word kompenni materialized when I was forced to learn Dutch. And... Isn't that destiny humorous?

Continue reading GOD APPARENTLY HAS A SENSE OF HUMOR

01 Desember 2025

, ,

GERAKAN SENI DALAM LAUNCHING BUKU

 Bertajuk “Launching Buku From The Stage History Of Madura” Acara ini kelanjutan dari pameran dengan judul di atas. Pelakunya adalah Pak Choirul Anwar. Tempat di San-Rasan Cafe pada 30 November 2025. Sebuah cafe yang ternyata sudah tutup.



Hadir dalam acara seniman-seniman lukis, antara lain: Pak Ir, Pak Syahrul Hanafi, dan Pak Johan. Pak Edi datang kemudian. Sesepuh Bangkalan Pak Doing, Bu Supi, dan Mas Sudarsono. Dari Komunitas Masyarakat Lumpur ada Joko, Jaya, Alan, dan Alfarozi. Halim datang kemudian. Dari akademisi saya dan Ahmad Faishal.

Acara dibuka sekitar pukul 20.05. Helmi berperan sebagai pembawa acara. Dalam format santai dan lebih banyak bergurau acara dimulai dengan sambutan dari pemerintah. Sambutan disampaikan Pak Hendra dari Disbudpar Bangkalan. Meskipun, diklarifikasi bahwa sebenarnya ia hadir secara pribadi. Dalam sambutannya ia mengapresiasi keseriusan Pak Chairul dalam berkarya.



Selanjutnya pemberian karangan bunga oleh anak dan cucu Pak Chairul dalam rangka ulang tahun ke-63. Dilanjutkan dengan penyampaian pembuka oleh seniman pelaku. Ia menyatakan bahwa acara ini merupakan acara biasa saja. Tidak mengharapkan sesuatu yang istimewa. Pernyataan dilanjutkan dengan apresiasi terhadap seniman Bangkalan. Disebutkan satu persatu. Dalam pernyataan tersebut dinyatakan bahwa seni tidak atau sulit untuk memperoleh uang atau valuasi sehingga hanya dengan dedikasi tokoh-tokoh tersebut bisa terus berkarya.

Selanjutnya ia menyatakan bahwa ¾ usianya dihabiskan untuk melukis. Namun, ada jeda sekitar 20 tahun masa tidak produktif. Baru tahun 2022 ia kembali aktif berkarya. Karya tahun 2022 dan setelahnya yang dipamerkan dengan tajuk di atas. Jumlah keseluruhan ada 27 dengan seleksi berdasarkan tema. Rencananya ada tujuh lokasi pameran seluruh Bangkalan. namun dalam realisasinya hanya terjadi di empat tempat yaitu pembukaan di Bangkalan, kemudian Arosbaya, Klampis, dan Kamal. Dalam pengakuannya, Pak Choirul menyatakan bahwa karya tersebut merupakan tafsir pribadi terhadap tema, tidak didasarkan pembacaan mendalam apalagi riset. Akhirnya, ia menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan pracetak sehingga acara ini hanya launching. Selanjutnya pascacetak diharapkan akan ada bedah buku.

Acara selanjutnya merupakan testimoni dari sesama seniman lukis. Testimoni pertama  disampaikan oleh Pak Ir. dalam testimoni tersebut, ia membagikan hubungannya dengan Pak Choirul yang merupakan teman diskusi dan berbagi ide. Dalam kesempatan ini juga ia menyatakan kritik karya bahwa ia lebih suka karya-karya sebelumnya yang lebih kelihatan ke-Maduraannya. Hal ini berbeda dengan karya yang dipamerkan yang cenderung “abstrak”. selain itu ia mengapresiasi acara ini. Ia menyatakan bahwa tidak semua seniman mampu melaksanakan kegiatan semacam ini.

Testimoni selanjutnya oleh Pak Syahrul. Ia mengapresiasi semangat, totalitas, dan ketiadaan tendensi Pak Choirul dalam berkarya. Ia mengistilahkan ketiganya dengan “kegilaan”. Ia juga menyatakan bahwa “kegilaan” tersebut memotivasinya untuk kembali berkarya.

Acara diselingi dengan pembacaan puisi oleh Santoso Madura. Ia seorang pegiat seni dan ASN di MTsN 1 Pamekasan. Mungkin guru. Entahlah. Puisi yang pertama “Cintaku Padamu”. Sebuah puisi tentang kecintaan pada Madura.



Selanjutnya penyampaian materi oleh Joko Sucipto. Dalam bahasa KML pembincang. Dalam pemaparannya Joko menyatakan bahwa dalam buku terebut ia hanya berperan sebagai perancang buku dalam layout dan susunan teks. Kemudian Joko menanggapi kritik yang mempermasalahkan mengapa acara diberitajuk dalam bahasa Inggris, Apakah tidak mencintai bahasa Indonesia? Joko menjawab dengan pertanyaan, “Mengapa bukan malah dengan bahasa Madura?” Dengan jawaban ragu ia menyatakan mungkin hendak membawa ke-Maduraan dalam ruang universal.

Kembali selingan puisi. Kali ini dua puisi lagi. Pertama berjudul “Setetes Darah Basahi Indonesiaku”. Katanya puisi ini didasari sebuah lukisan. Puisi kedua berjudul “Bila Kau Lihat”.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan diskusi. Pertama Pak Doing. Beliau mengingatkan yang hadir pada seorang guru. Seorang pelukis bernama Pak Sumaji. Beliau menyatakan seniman memiliki kepekaan zaman dan terkadang karyanya merupakan proyeksi masa depan. Ia menceritakan lukisan Pak Sumaji yang dominan warna merah, kuning, hijau yang ternyata merupakan visi masa depan tentang politik yang mengubah partai menjadi tiga yaitu PPP (hijau), PDI (merah), dan Golkar (kuning). Untuk mengenang seniman tersebut, ia meminta yang hadir memberi hadiah fatihah kepada beliau.

Komentar selanjutnya oleh Acong. Ia menyampaikan posisinya sebagai salah satu penggagas pameran tersebut. Bahwa dalam tajuk berbahasa Inggris tersebut kata stage (panggung) merupakan idenya yang diambil dari konsep dramaturgi. Bahwa kegiatan ini dibungkus dalam dialektika aksi dan reaksi. Bahwa selain berkarya, ada gerakan atau aksi yang diharapkan menghasilkan reaksi. Dialektika ini yang diharapkan menggerakkan sistem kesenian Bangkalan menjadi terbaca secara nasional. Ia menyayangkan lukisan ini hanya diapresiasi tingkat lokal. Ia membayangkan jika lukisan ini diapresiasi tingkat nasional oleh pelukis-pelukis misalnya di Yogyakarta. Apresiasi tingkat nasional ini pastinya akan membuat lukisan ini tidak sekedar karya. Tetapi memiliki nilai jual. Begitu kira-kira maksud dari Acong.

Selanjutnya Mas So. Dengan mendasari pengalamannya sebagai seniman tari, ia pesimis dengan kata pelestarian. Seni bisa lestari menurutnya hanya dengan rasa suka. Ia juga tidak percaya dengan konsep pengkaderan. Saya tidak mengerti awalnya. Baru saya paham ketika acara selesai ternyata ini terkait dengan pengalaman pribadi soal penerusnya.

Terakhir Helmi menguatkan pernyataan Acong. Soal pembicaraan mengenai awal pameran. Soal pematangan konsep-konsep, dsb.

Setelah acara ini, saya mengerti satu hal. Bangkalan sulit melenting atau mumbul sebab reduksi nilai dalam seni. Seni yang medioker. Ada satu kelemahan besar dalam gerakan yaitu “pendalaman”. Karya yang dibuat untuk event. Pola gerakan ini juga yang mendasari pameran. Yang mungkin dilupakan adalah karya seni dan budaya merupakan “bagian” dari penciptanya. Pencipta tidak berjarak dengan karyanya. Satu kata antara otak, hati, dan karya. Seperti Tirani dan Benteng dibandingkan dengan Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Dua karya yang ditulis oleh penulis yang sama, Taufiq Ismail, namun dengan getaran yang berbeda. Tirani dan Benteng ditulis sambil ikut menjadi pendemo, sedangkan MAJOI ditulis dengan perspektif pengamat. Tirani dan Benteng menyatukan ide, rasa, dan karsa. Sedangkan MAJOI hanya menyampaikan ide, minim rasa dan karsa.

Akhirnya, kegiatan ini hanya satu babak dari babak-babak panjang yang lalu dan yang akan datang. Berakhir kira-kira pukul 22.10. 

Continue reading GERAKAN SENI DALAM LAUNCHING BUKU

25 November 2025

,

Laporan Santai Mancing Sastra 57: “Mara Tata Pateppa”

Hari Sabtu, 15 November 2025, cuaca cukup cerah untuk sebuah obrolan sastra. Awalnya, saya dapat undangan lewat WA dari Helmi. Wah, tumben banget pakai undangan resmi dalam bentuk PDF, jadi penasaran deh. Ternyata undangan untuk acara Mancing Sastra yang ke-57, dengan tema bahasa Madura yang keren: Mara Tata Pateppa—yang artinya “mari kita tata dengan benar”.

Acaranya sendiri baru mulai sekitar pukul 16.00. Datanglah beberapa wajah yang sudah nggak asing lagi: dari budayawan senior Bangkalan, Pak Hidrochin Sabarudin, sampai seniman seperti Pak Syahrul Hanafi dan Joko Sucipto. Rozekki, dosen STKIP PGRI Bangkalan, jadi moderatornya. Ramai juga dengan kehadiran mahasiswa dan beberapa guru serta pegiat teater.



Pemateri pertama, Pak Ahmad Faishal (Acong), dosen STKW Surabaya, membuka dengan pembacaan Al-Fatihah untuk Syaikhuna Kholil—dalam momen beliau dapat gelar pahlawan. Lalu, ia mengutip peribahasa Madura: tata, parata, paranta—yang intinya mengajak kita untuk mengatur, meratakan, dan melengkapi sesuatu dengan baik. Dia sedikit gelisah sama pergeseran budaya Madura akhir-akhir ini. Misalnya, orang sekarang lebih kenal Madura dari citra “jamet” atau konten TikTok yang kadang kurang santun. Menurutnya, pemerintah daerah sepertinya kurang memberi ruang untuk budaya. Kalau di tingkat kabupaten nggak ada harapan, ya coba cari peluang dari pusat, misal lewat LPDP. Katanya.

Giliran pemateri kedua, Mas Muhlis—guru, sastrawan, sekaligus peneliti. Dia buka dengan pertanyaan provokatif: “Apa Bangkalan sedang tidak baik-baik saja?” Lalu dia bahas soal gerakan lokal, regional, dan nasional, sambil menyitir Nagarakrtagama dan fenomena proxy war. Yang menarik, dia juga singgung soal Majapahit yang direkonstruksi pakai AI. Keren, tapi… ya gitu, butuh lebih dari sekadar teknologi.

Nah, pas sesi diskusi, saya pun angkat bicara. Saya agak nggak sepakat kalau seniman harus selalu bergantung sama perhatian pemerintah. Menurut saya, gerakan lokal yang fokus justru lebih berdampak. Misalnya, gerakan revitalisasi bahasa Madura yang saya tekuni, atau penelitian sastra lisan sama Muhlis, atau dramaturgi ala Faishal. Gerakan-gerapan kecil seperti gini yang justru membuat fondasi kebudayaan kuat. AI boleh canggih, tapi kalau tidak ada pemahaman detil budaya, ya cuma jadi cangkang kosong. Contohnya, kalau mau dokumentasi rumah adat Madura, foto saja tidak cukup. Perlu naskah akademik yang mendalam, catat filosofi, arsitektur, dan maknanya. Pemerintah? Jangan terlalu berharap. Mereka saja sepertinya tidak punya peta jalan yang jelas untuk pelestarian budaya.

Lalu, Pak Hidrochin Sabarudin menyusul cerita. Beliau ingatkan kita tentang sejarah Bangkalan yang pernah hampir jadi negara bagian zaman Belanda. Beliau juga bercerita soal rencana salah satu bupati yang mau merobohkan Pendopo Agung—padahal itu cagar budaya! Syukur tidak jadi. Beliau ingatkan lagi filosofi alun-alun yang mestinya tanpa pagar. Banyak pelajaran berharga dari beliau.

Acara selesai menjelang magrib. Tapi suasana keakraban tidak berhenti sampai di situ—kami lanjut ngobrol santai.

Semoga Mancing Sastra seperti ini terus berlanjut, bukan hanya sekadar acara, tapi jadi pemantik gerakan-gerakan kecil yang punya dampak besar.

Muhri

Continue reading Laporan Santai Mancing Sastra 57: “Mara Tata Pateppa”

18 November 2025

,

Menyebar Nilai, Bukan Hanya Seragam: Pentingnya Publikasi dalam Memperkuat Gerakan Pramuka di Era Digital

 Oleh: Suhartini, S.Pd.

Jika kita mendengar kata "Pramuka", apa yang terbayang? Barisan rapi dengan seragam coklat, tenda perkemahan, api unggun, atau simpul-simpul tali? Gambaran itu tak salah, namun seringkali hanya berhenti di situ. Padahal, di balik aktivitas yang tampak tradisional tersebut, tersimpan nilai-nilai universal yang sangat relevan bagi pembentukan karakter generasi muda abad 21: kepemimpinan, kerja sama, kecakapan hidup, kepedulian lingkungan, dan jiwa kewirausahaan (Kwartir Nasional, 2021).



Sayangnya, narasi tentang Pramuka seringkali terjebak dalam lingkup internal atau sekadar menjadi memoar kenangan manis alumni. Di sinilah Publikasi Kepramukaan berperan penting, bukan sebagai kegiatan sekunder, tetapi sebagai strategi komunikasi vital untuk memperkuat eksistensi, relevansi, dan dampak Gerakan Pramuka di mata masyarakat luas.

Buku Panduan Itu Penting, Tapi Tidak Cukup

Sebagai seorang praktisi pendidikan dan pembina pramuka, saya sering bersinggungan dengan buku-buku panduan resmi kepramukaan. Buku-buku tersebut adalah ruh dan pedoman teknis yang menjaga keseragaman metode dan nilai dasar. Namun, dalam konteks komunikasi publik, berpaku hanya pada buku panduan sama dengan membangun benteng yang kokoh tapi tak memiliki jendela untuk berinteraksi dengan dunia luar. Berikut argumentasi mengapa buku saja tidak cukup:

1.       Buku Bersifat Statis, Publikasi Dinamis: Buku panduan adalah dokumen baku yang berubah dalam siklus panjang. Sementara, dinamika kegiatan, kisah sukses, respon terhadap isu aktual (seperti pandemi atau bencana alam), serta inovasi lokal terjadi setiap hari. Publikasi digital (artikel, blog, media sosial) lah yang dapat menangkap dan menyebarkan energi dinamis ini secara real-time, menunjukkan bahwa Pramuka adalah organisasi yang hidup dan kontekstual (Anderson & Rainie, 2018).

2.       Buku Berbicara "Apa", Publikasi Menunjukkan "Bagaimana" dan "Mengapa": Buku mengajarkan teori membuat bivak atau prinsip Dasa Darma. Publikasi yang baik akan menampilkan video singkat Pramuka menyelesaikan masalah tenda saat hujan deras, atau feature story tentang bagaimana nilai satya dan darma diterapkan seorang Pramuka Penggalang dalam mengatasi perundungan di sekolahnya. Publikasi menghidupkan teori menjadi cerita yang relatable dan inspiratif (Pratiwi & Setyawan, 2020).

3.       Jangkauan Buku Terbatas, Publikasi Digital Tanpa Batas: Buku panduan terutama dibaca oleh anggota aktif dan pembina. Sasaran kita justru lebih luas: orang tua calon anggota, masyarakat umum, pemangku kebijakan, dan dunia industri. Sebuah postingan Instagram yang viral tentang aksi bakti sosial Pramuka membersihkan pantai dapat menanamkan citra positif dan menarik minat pihak-pihak di luar "lingkaran setia" Pramuka, sesuatu yang mustahil dilakukan buku panduan (Kurniawan & Saputra, 2022).

4.       Buku adalah Monolog, Publikasi yang Baik Membuka Dialog: Buku memberikan instruksi. Publikasi di platform digital memungkinkan adanya komentar, sharing, dan diskusi. Ini membuka ruang untuk umpan balik, keterlibatan publik, dan bahkan rekrutmen. Sebuah webinar tentang kepramukaan yang dipublikasikan secara luas dapat menjadi ajang diskusi interaktif yang memperkaya wawasan semua pihak (Tapscott, 2009).

Potensi Strategis Publikasi Multiplatform

Publikasi kepramukaan yang dijalankan secara multiplatform bukan sekadar menyebar informasi, melainkan membuka peluang strategis yang selama ini belum tergarap optimal:

1.       Penguatan Jejaring dan Sinergi Global: Platform seperti LinkedIn dan website resmi dapat menghubungkan Kwartir Daerah/Nasional dengan organisasi kepramukaan dunia (WOSM/WAGGGS), LSM internasional, dan dunia usaha. Publikasi program unggulan dalam bahasa Inggris dapat menarik mitra global, pendanaan, dan pertukaran pelajar (WOSM, 2023).

2.       Pengembangan Ekonomi Kreatif Anggota: YouTube dan TikTok menjadi ruang ekspresi kreatif sekaligus potensi ekonomi. Keterampilan pionering, memasak lapangan, atau seni panggung dalam perkemahan dapat dikemas sebagai konten edukatif yang dimonetisasi, memberikan contoh nyata kewirausahaan kepada anggota (Rahman, 2021).

3.       Arsip Digital dan Pengakuan Prestasi: Platform seperti Instagram Highlights, blog, atau website menjadi portofolio digital yang mendokumentasikan perjalanan dan pencapaian setiap Gugus Depan. Hal ini tidak hanya membangun kebanggaan kolektif tetapi juga menjadi alat validasi prestasi untuk beasiswa atau jenjang karier anggota (Febrianti, 2022).

4.       Advokasi Kebijakan Berbasis Data: Twitter dan blog dapat menjadi alat ampuh untuk menyampaikan position statement atau hasil riset sederhana tentang peran Pramuka dalam isu sosial (lingkungan, kesehatan, toleransi). Data kegiatan yang terpublikasi rapi menjadi bukti konkret untuk mendorong dukungan kebijakan dari pemerintah daerah (Nugroho, 2019).

5.       Regenerasi Kelembagaan yang Transparan: Live streaming di Facebook atau Instagram untuk musyawarah atau pelantikan pengurus membangun citra transparansi dan akuntabilitas. Proses regenerasi yang terekam dan terpublikasi dengan baik dapat menarik minat kaum muda yang kritis untuk terlibat dalam struktur kepemimpinan organisasi (Sari, 2020).

Tantangan dan Peluang di Dunia Digital

Tantangan terbesar adalah pergeseran dari publikasi konvensional (majalah dinding, buletin cetak) ke publikasi digital yang dinamis dan interaktif. Banyak organisasi kepramukaan di akar rumput yang masih gagap teknologi atau terkendala sumber daya (Hidayat, 2021). Selain itu, konten yang dihasilkan seringkali bersifat seremonial dan kaku, kurang menyentuh cerita manusia (human interest) dan dampak nyata.

Namun, di balik tantangan itu, peluangnya justru sangat besar. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube adalah "lapangan baru" untuk kepramukaan. Konten kreatif tentang tutorial survival skill, dokumentasi perkemahan virtual/hybrid, podcast membahas nilai Dasa Darma, atau campaign sosial berbasis data dapat menjangkau audiens yang sangat luas. Prinsip "From Scout for Scout" bisa berkembang menjadi "From Scout for All" (Anderson & Rainie, 2018).

Strategi Publikasi yang Efektif

1.       Kenali Audiens dan Platform: Konten untuk orang tua berbeda dengan konten untuk pelajar SMP. Gunakan bahasa yang sesuai dan pilih platform yang tepat (Pratiwi & Setyawan, 2020).

2.       Utamakan Cerita dan Data: Alih-alih "Kami melaksanakan perkemahan", lebih baik ceritakan "Bagaimana Sarah, Pramuka Penegak, Memimpin Timnya Mengatasi Kekurangan Logistik Saat Kemah Integrasi". Sisipkan data sederhana tentang jumlah peserta atau capaian program (Nugroho, 2019).

3.       Visual yang Kuat: Foto dan video berkualitas tinggi yang menangkap momen autentik (kegigihan, kerja tim, sukacita) lebih bernilai daripada ribuan kata (Kurniawan & Saputra, 2022).

4.       Konsistensi dan Kolaborasi: Publikasi harus berkelanjutan, bukan musiman. Kolaborasi dengan komunitas jurnalis muda, blogger, atau influencer lokal dapat memperkaya perspektif dan jangkauan (Sari, 2020).

5.       Integrasikan dengan Kurikulum: Keterampilan publikasi (menulis, fotografi, desain grafis, public speaking) dapat menjadi bagian dari Syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan sistem tanda kecakapan, sehingga melahirkan kader yang tidak hanya terampil di lapangan tapi juga cakap dalam berkomunikasi (Kwartir Nasional, 2021).

Kesimpulan

Publikasi kepramukaan bukanlah tugas tambahan untuk yang halaman belakang. Ia adalah ujung tombak komunikasi strategis Gerakan Pramuka. Di tengah banjir informasi dan kompetisi perhatian, Pramuka harus aktif bercerita, menunjukkan bukti karya, dan mendialogkan nilai-nilai luhurnya dengan bahasa kekinian. Buku panduan adalah fondasi yang kokoh, tetapi tanpa publikasi yang masif dan multiplatform, kita seperti memiliki mutiara yang tersembunyi di dalam cangkangnya. Dengan memanfaatkan potensi strategis setiap platform, publikasi tidak hanya memperkuat citra, tetapi dapat menghidupkan ekosistem Pramuka yang lebih dinamis, terkoneksi, dan berdampak nyata. Pramuka tidak lagi dianggap sebagai kegiatan "zaman dulu", melainkan sebagai gerakan pemuda progresif yang aktif membentuk masa depan. Mari gembar-gemborkan nilai-nilai itu, karena dunia perlu mendengarnya.

 

Daftar Pustaka

Anderson, J., & Rainie, L. (2018). The Future of Well-Being in a Tech-Saturated World. Pew Research Center.

Febrianti, D. (2022). Portofolio Digital sebagai Alat Dokumentasi dan Pengembangan Diri bagi Generasi Z. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(1), 45-60.

Hidayat, A. (2021). Analisis Kesiapterapan Teknologi Informasi pada Organisasi Kepemudaan di Daerah Pedesaan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Masyarakat.

Kurniawan, B., & Saputra, H. (2022). Strategi Komunikasi Pemasaran Digital Gerakan Pramuka melalui Media Instagram. Jurnal Komunikasi Global, 11(2), 112-130.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. (2021). Rencana Strategis (Renstra) Gerakan Pramuka 2021-2025. Jakarta: Kwartir Nasional.

Nugroho, R. (2019). Advokasi Kebijakan Publik di Era Media Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pratiwi, A., & Setyawan, D. (2020). Storytelling sebagai Metode Komunikasi Efektif untuk Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5(2), 89-104.

Rahman, F. (2021). Kewirausahaan Kreatif di Platform Digital: Peluang dan Tantangan bagi Generasi Muda. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sari, M. (2020). Transparansi Organisasi dan Partisipasi Anggota Muda: Studi pada Organisasi Kepemudaan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 24(3), 201-218.

Tapscott, D. (2009). Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World. New York: McGraw-Hill.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.

WOSM. (2023). Scouting and the Sustainable Development Goals. World Organization of the Scout Movement. Diakses dari https://www.scout.org
Continue reading Menyebar Nilai, Bukan Hanya Seragam: Pentingnya Publikasi dalam Memperkuat Gerakan Pramuka di Era Digital

10 November 2025

,

SASTRA ABSURD

Muhri 

Istilah ini diterapkan pada sejumlah karya dalam drama dan fiksi prosa yang memiliki kesamaan pandangan bahwa kondisi manusia pada dasarnya adalah absurd, dan bahwa kondisi ini hanya dapat diwakili dengan baik dalam karya sastra yang sendiri juga absurd. Dalam konteks ini, "absurd" dapat dipahami sebagai sesuatu yang sangat konyol; tidak logis dan tidak masuk akal (Oxford Learner's Dictionaries). Sebuah situasi absurd adalah situasi yang tidak selaras, tidak serasi, dan tidak logis (Mikics, 2010). Perasaan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya tetap absurd, sangat menantang dalam ketiadaan maknanya yang nyata, adalah signifikan bagi penulis dan filsuf abad kedua puluh tertentu.

Baik suasana maupun dramaturgi absurditas telah diantisipasi sejak tahun 1896 dalam drama Prancis Alfred Jarry, Ubu roi (Ubu Sang Raja). Sastra ini juga berakar dalam gerakan ekspresionisme dan surealisme, serta dalam fiksi yang ditulis pada tahun 1920-an oleh Franz Kafka. Aktor dan penulis Antonin Artaud memberikan peran sentral pada yang absurd dalam teater. Dalam The Theatre and Its Double (1938), Artaud memperjuangkan bentuk teater yang seperti mimpi, atau seperti mimpi buruk, yang akan menerpa penonton seperti wabah atau demam. Namun, gerakan yang ada sekarang ini muncul di Prancis setelah kengerian Perang Dunia II (1939--45) sebagai pemberontakan terhadap keyakinan dan nilai-nilai dasar dalam budaya dan sastra tradisional. Dramawan Samuel Beckett dan Eugene Ionesco adalah dua penulis kemudian dari apa yang kadang disebut teater absurd. Ionesco, menggambarkan alam semesta Kafka, mendefinisikan absurd sebagai "sesuatu yang tanpa tujuan," dan menambahkan, "Terputus dari akar metafisik, religius, dan transendentalnya, manusia tersesat: semua tindakannya menjadi tidak berarti, absurd, tidak berguna." (Mikics, 2010).

Definisi Ionesco menyarankan bahwa keyakinan akan absurditas kehidupan mengikuti apa yang Nietzsche sebut "kematian Tuhan," dengan hasil bahwa manusia menghuni alam semesta yang telah dihilangkan kesuciannya, tanpa rencana atau tujuan ilahi. Namun, kerinduan religius sering menjadi ciri suasana absurdis. Dalam Waiting for Godot (1953) karya Beckett, dua gelandangan menunggu sosok seperti Tuhan yang misterius, Godot, yang mungkin atau mungkin tidak datang; mereka menghabiskan waktu dengan rutinitas komik yang inventif, putus asa, dan grotesk melankolis.



Setelah tahun 1940-an, bagaimanapun, muncul kecenderungan luas, terutama yang menonjol dalam filsafat eksistensial dari para sastrawan seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, untuk memandang manusia sebagai eksisten yang terisolasi yang terlempar ke alam semesta yang asing; untuk menganggap dunia manusia tidak memiliki kebenaran, nilai, atau makna yang melekat; dan untuk merepresentasikan kehidupan manusia---dalam pencariannya yang sia-sia akan tujuan dan makna saat ia bergerak dari ketiadaan dari mana ia berasal menuju ketiadaan di mana ia harus berakhir---sebagai sebuah eksistensi yang penuh dengan kegelisahan dan absurditas. Seperti yang dikatakan Camus dalam The Myth of Sisyphus (1942):

Dalam alam semesta yang tiba-tiba kehilangan ilusi dan cahaya, manusia merasa sebagai orang asing. Hidupnya adalah pengasingan yang tak tersembuhkan.... Perceraian antara manusia dan hidupnya, antara aktor dan latarnya, sungguh merupakan perasaan absurditas.

Atau seperti yang dikatakan oleh Eugène Ionesco: "Terputus dari akar religius, metafisik, dan transendentalnya, manusia tersesat; semua tindakannya menjadi tidak berarti, absurd, tidak berguna." Ionesco juga berkata, dalam mengomentari campuran suasana hati dalam sastra absurd: "Orang-orang yang tenggelam dalam ketiadaan makna hanya bisa menjadi grotesk, penderitaan mereka hanya bisa tampak tragis melalui cemoohan."

Samuel Beckett (1906--89), penulis paling terkemuka dan berpengaruh dalam mode ini, baik dalam drama maupun fiksi prosa, adalah seorang Irlandia yang tinggal di Paris yang sering menulis dalam bahasa Prancis dan kemudian menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa Inggris. Drama-dramanya, seperti Waiting for Godot (1954) dan Endgame (1958), memproyeksikan irasionalisme, ketidakberdayaan, dan absurditas kehidupan dalam bentuk-bentuk dramatik yang menolak latar realistik, penalaran logis, atau alur yang berkembang secara koheren. Waiting for Godot menampilkan dua gelandangan di tempat yang tandus, menunggu dengan sia-sia dan hampir tanpa harapan untuk seorang tokoh yang tidak dikenal, Godot, yang mungkin ada atau tidak; seperti yang salah satu dari mereka katakan, "Tidak ada yang terjadi, tidak ada yang datang, tidak ada yang pergi, ini mengerikan." Seperti kebanyakan karya dalam mode ini, drama ini absurd dalam arti ganda: secara grotesque adalah komik dan sekaligus irasional serta tidak konsekuen; drama ini adalah parodi tidak hanya dari asumsi-asumsi tradisional budaya Barat tetapi juga dari konvensi dan bentuk-bentuk generik drama tradisional. Dialog yang jelas tetapi berputar-putar dan tanpa tujuan seringkali lucu, dan jatuh terjungkal serta mode slapstick lainnya digunakan untuk memberikan corak komik pada alienasi dan kegelisahan eksistensi manusia. Fiksi prosa Beckett, seperti Malone Dies (1958) dan The Unnamable (1960), menampilkan seorang anti-pahlawan yang memainkan langkah-langkah absurd dari permainan akhir peradaban dalam sebuah "bukan-karya" yang cenderung merusak koherensi mediumnya, yaitu bahasa itu sendiri. Tetapi biasanya karakter-karakter Beckett terus bertahan, bahkan dalam kehidupan tanpa tujuan, berusaha memahami yang tidak masuk akal dan mengkomunikasikan yang tidak dapat dikomunikasikan.

Dramawan Prancis lain dari aliran absurd adalah Jean Genet (yang menggabungkan absurdisme dan diabolisme); beberapa karya drama awal orang Inggris Harold Pinter dan orang Amerika Edward Albee ditulis dalam mode yang serupa. Drama-drama awal Tom Stoppard, seperti Rosencrantz and Guildenstern Are Dead (1966) dan Travesties (1974), mengeksploitasi perangkat teater absurdis lebih untuk tujuan komik daripada filosofis. Ada juga kesamaan dengan gerakan ini dalam banyak karya yang mengeksploitasi komedi hitam atau humor hitam: karakter-karakter yang sial, naif, atau tidak cakap dalam dunia modern yang fantastis atau seperti mimpi buruk memainkan peran mereka dalam apa yang Ionesco sebut "farce tragis", di mana peristiwa-peristiwa seringkali secara bersamaan bersifat komik, mengerikan, dan absurd. Contohnya adalah Catch-22 (1961) karya Joseph Heller, V (1963) karya Thomas Pynchon, The World According to Garp (1978) karya John Irving, dan beberapa novel karya orang Jerman Günter Grass dan orang Amerika Kurt Vonnegut, Jr., dan John Barth. Dr. Strangelove (1964) karya Stanley Kubrick adalah contoh komedi hitam dalam film. Beberapa dramawan yang hidup dalam rezim totaliter menggunakan teknik absurdis untuk menyuarakan protes sosial dan politik. Lihat, misalnya, Largo Desolato (1987) karya orang Ceko Václav Havel dan The Island (1973), sebuah kolaborasi oleh penulis Afrika Selatan Athol Fugard, John Kani, dan Winston Nishona.

Jerome Rothenberg berkomentar bahwa yang absurd menyerupai mimpi dalam Surealisme: ia "berfungsi sebagai gambar penyederhanaan besar, yang memungkinkan untuk presentasi langsung dari impuls-impuls yang bertentangan." Keterusterangan seperti itu bersekutu dengan kecenderungan modern menuju kehadiran langsung dan keintiman yang mengganggu dalam seni (Rothenberg, 1975, seperti dikutip dalam Mikics, 2010).

Daftar Pustaka

Abrams, M. H., & Harpham, G. G. (2014). A Glossary of Literary Terms (11th ed.). Cengage Learning.

Mikics, D. (2010). A New Handbook of Literary Terms. Yale University Press.

Oxford Learner's Dictionaries. (n.d.). absurd. Oxford University Press. Diambil dari https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/absud  

Rothenberg, J. (1975). A Dialogue on Oral Poetry with William Spanos. Boundary 2, 3(3), 509–548.

Continue reading SASTRA ABSURD